
Ketika cinta menguatkan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak, kita berhasil ke dalam markas." Ujar Gior.
"Ke ruang bawah tanah, cepat cari pintu masuk ke dalam sana dan ambil semua barang Adamson." Mereka saling terhubung melalui alat di telinga mereka yang menyerupai earphone blutooth.
"Baik kak, cepat cari pintu masuk ke ruangan bawah tanah." Perintah Gior pada mereka.
"Satu lagi, cari semua informasi mengenai Adamson, gue penasaran."
"Oke kak."
"Kaak mereka melakukan penyerangan." Gerald datang memberi informasi.
"Masih berani juga dia menyerang kita, cepat segera habisi mereka. Kalian tidak perlu turun tangan jika bukan hal mendesak."
"Kak, mereka menarik anak buah yang akan menyerang perusahaan." Kali ini Galaxi yang memberitahu.
"Apa mereka akan ke sini?" Galang berusaha menerka.
"Kak, Luca sudah pulang setengah jam yang lalu." Galaxi kembali mengecek kondisi Luca.
"Apa? Kenapa bisa pulang cepat?"
"Salah satu guru berhalangan, dan dia tidak mengabari kita."
"Kenapa anak buah kita tidak ada yang mengabari?"
"Di sana sinyal mulai memburuk kak, pesan mereka baru masuk."
"Gue jemput Luca." Galang bangkit mengenakan jaketnya dan pergi, gadis itu benar-benar suka di marahi.
galang memantau Luca dari hpnya, ia bisa memantau satu sama lain berkat gelang itu. Syukurlah Luca masih berada di sekolah, entah apa yang gadis itu lakukan di sana.
"Dia selalu saja membuatku khawatir."
Tunggu!
Jika anak buah Adamson di tarik mundur dan tidak ke rumahnya, maka bisa jadi ia akan menemui Luca.
Luca mendapatkan informasi kalau mereka berhasil menguasai markas dan memukul mundur penyerangan di rumah utama, juga penarikan penyerangan dari perusahaan.
"Gue tau ini pasti terjjadi, itu sebabnya gue nunggu di sini." Gumam Luca, tanpa di sadari beberapa penjaganya menghilang.
Luca tau ini akan terjadi, karena sebenarnya yang mereka incar adalah dirinya. Ia tau satu-satunya tujuan mereka adalah mendapatkan Luca, Galang hanyalah pelampiasan dan keuntungan jika mereka juga bisa menyerangnya.
Ia menoleh ke belakang, di sekitarnya hanya terlihat beberapa orang. Ia sadar sekarang jika mereka sudah sampai.
"Maafin gue, gue gak mau msalah ini terus berlarut dan mengganggu kalian." Gumamnya menundukan wajah.
Ia mengaktifkan benda yang ada di telinga, sejak tadi ia hanya menjadi pendengar, kali ini ia akan menyampaikan sesuatu.
"Lo ngomong apa, jangan matiin alat itu. Gue sebentar lagi sampai." Galang berteriak mendengar suara Luca yang mengatakan itu.
"Gunain waktu itu sebaik mungki, hanya cara itu yang bisa kita gunakan untuk menangkap mereka. Galang, gue sayang sama lo. Hiiikkkssss." Air mata Luca mulai mengalir, kali ini ia benar-bear bisa merasakan takut. Ia mulai takut jika tidak bisa bertemu dengan mereka lagi.
"Lucaa cari tempat yang aman daaann,,,"
"Aaaaaaaa." Teriak Luca bersamaan dengan kalimat Galang yang belum selesai.
"Luca." Teriak mereka bersamaan memanggil nama Luca.
"Luca jawab gue." Teriak Galang, ia semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
"Kaaak cepatlah." Ujar Gior yang mulai panik.
Ia terus memburu dan melupakan pengendara lain, yang ada di pikrannya saat ini hanyalah sampai pada Luca.
"Luca lo dimana?" Teriak Galang saat sampai di depan gerbang sekolah.
Dia kembali mengecek lokasi Luca Tapi tidak aktif, sepertinya antingnya tejatuh atau mungkin dalam keadaan off.
"Kaak apa Luca ada di sana?" Tanya Gior.
Galang mendekati benda berwana biru yang terjatuh di aspal dan mengambilnya. "Alatnya jatuh, itu artinya mereka sudah membawanya." Suara Galang lemas, ia menggenggam erat alat telinga yang Luca rancang untuk mereka. Rupanya alat itu jatuh jadi mereka tidak bisa mendengar suara apapun.
"Kaak, kita akan segera kesana." Gerald dan Galaxi menjawab serentak.
.
.
.
.
Mohin untuk para readers menekan tombol like dan komen. Di sini author berusaha up dengan kondisi jaringan yang jelek akibat hujan setiap hari...
sehat terus ya kalian❤❤❤