
Semua akan berjalan dengan semestinya.
๐น๐น๐น๐น๐น
Setelah berhasil meredakan kecemburuan Galang semalam, akhirnya ia bisa kembali fokus pada masalahnya. Karena ini hari libur, ia menggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin.
"Gue mau ketemu Shina." Ucap Luca pada Galang yang baru selesai mandi.
"Pergilah dulu, gue nyusul." Ucap Galang sembari berlalu ke kamarnya.
Mendengar hal itu tentu Luca langsung pergi ke ruang bawah tanah, ia juga sudah tau bagaimana cara mebuka pintu ke ruang bawah tanah.
"Shina." Panggil Luca pada perempuan yang tengah tertidur.
"Ada apa lagi?" Shina memandang lemas, selama ia di kurung ia sangat merindukan putrinya.
"Ceritakan gimana mama bisa meninggal."
Shina memandang Luca lama sebelum menjawab, ia tau ia tidak akan bisa berbohong di situasi ini.
"Aku yang menyebabkan konflik di antara mereka, saat aku tau Helen di terima di perusahaan besar aku sangat senang. Tapi, suatu hari aku sangat menginginkan semua kekuasaan keluargamu. Aku yang terus membujuk dan membuat perasaan Helen tumbuh pada Bram, aku juga yang membuat Bram tertarik pada Helen hingga mereka memiliki hubungan."
"Jadi mereka benar-benar selingkuh." Luca berusaha tenang, meskipun terasa nyilu mendengarnya.
"Tidak, Helen tidak mau berbuhungan dengan Bram, mereka berpacaran setelah ibumu meninggal."
"Kenapa mereka selalu mesra di kantor?"
"Karena mereka sudah saling mencintai, aku meminta Helen untuk segera menikah dengan Bram agar dia bisa mengambil seluruh kekuasaannya. Tapi anak itu bersikeras ingin menunggu kau menyetujuinya, Helen tidak seburuk yang ada di pikiranmu. Semua adalah kesalahanku."
"Tapi gue yakin mama gak meninggal dalam kecelakaan."
"Kau benar, dia di bunuh. Saat aku berusaha keras menyingkirkan Katrina, sesorang menelfonku dan menginginkan kerja sama. Aku juga yang mengabarkan bahwa Katrina keluar ruamah bersamamu malam itu, tapi aku sungguh tidak menyangka jika mereka yang mengatur kecelakaan itu dan bahkan membunuh Katrina. Saat Katrina mulai sadar dan mencarimu, mereka menyeret Katrina keluar dan membunuhnya."
Air mata Luca jatuh, meskipun saat ini ia tidak mengeluarkan ekspresi apapun tapi hatinya begitu sakit. Ia begitu menyesal sudah meninggalkan ibunya di malam itu, seharusnya ia tidak pergi.
"Aku mohon jangan sakiti dia, biar aku saja yang menanggung semuanya."
"Kenapa harus ibuku?" Teriak Luca yang mulai kehilangan kendali. " Apa salah kami? Apa lo pernah mikir gimana rasanya gue yang tumbuh sendirian?" Luca terus berteriak di sela tangisnnya, ia sangat sakit hati mendengar penuturan ini.
"Aku mohon maafkan aku."
Luca keluar dari jeruji itu dan menghapus air matanya, sudah cukup ia merasa tersiksa dengan semua masalah ini.
Ia mengambil hpnya dan mengirimkan rekaman itu pada Bram, ia ingin lelaki itu mengetahui kebenarannya. Segera ia melangkahkan kakinya ke kamar Helen, gadis itu di tahan di kamarnya sendiri. Ia juga ingin mendengar penjelasan dari perempuan itu.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Luca setelah Helen selesai mendengarkan rekaman tadi.
"Aku sungguh tidak tau jika mama setega itu, ampuni dia Luca." Helen memohon sembari menggenggam tangan Luca.
"Waktu itu kenapa lo ke kamar gue dan ngelempar boneka gue? Kenapa juga lo mau aja di suruh deketin Galang."
"Aku pergi ke kamarmu karena merasa penasaran. Di sana aku melihat foto kalian bertiga yang bahagia, aku merasa begitu iri dan kesal karena selama ini kamu tidak pernah mau menerimaku. Sejak saat itu aku tidak ingin lagi perduli tentangmu."
"Jangan pernah perduli sama gue, berdoalah agar mereka bisa segera tertangkap agar ibumu tidak selalu di pukuli di dalam sana." Ucap Luca sembari keluar kamar.
Sekarang ia tau apa yang harus ia lakukan.
.
.
.
.
.
Baik karena author sudah membaca saran para readers, maka author akan segera menyelesaikan konflik ini... terimakasih untuk kalian yang sudah setia mendukung๐๐๐