
Aku kehilangan semua hal demi satu hal.
🌹🌹🌹🌹
"Tuan, terdapat 32 pesan dan beberapa panggilan masuk. Silahkan tuan cek terlebih dahulu." Seorang pelayan memberikan phonsel kepada Bram, lelaki itu memang sduah jarang menggunkan hp karena proyek yang ia tangani jauh lebih sulit.
Bram mengamati panggilan itu satu persatu, semuanya dalah panggilan dari rekan bisnisnya. Tapi ketika dia mengecek pesan masuk, ia melihat nama putrinya yang tertera di sana. Segera ia membuka pesan suara itu, tidak biasanya Luca mengirimkan pesan padanya.
Mendengar rekaman itu, Bram merasa marah. Selama ini ia di tipu oleh perempuan itu, dia terus bersikap manis dan menyodorkan putrinya. Bram sudah berkali-kali berusaha menghubungi Luca, tapi telfonnya tidak di angkat.
"Andi, cepat hubungi klien kita sekarang juga, aku ingin proyek segera selesai." Bram menelfon asistennya, ia jadi mngkhawatirkan Luca sekarang. Ia sangat ingin pulang untuk melihat wajah dingin putrinya.
"Brengsek, beraninya mereka menipuku seperti ini. Apa Luca berada dalam masalah?"
Ia melirik jam tangannya, ia lupa jika di INA tentu ini sudah tengah malam, mungkin Luca sedang beristirahat. Ia menaruh ponshelnya di atas meja, sekelebat bayangan Katrina muncul di hadapannya. Dirinya yang di juluki pengusaha terkaya kedua malah tidak bisa mengetahui masalah seperti ini.
Ia sangat khawatir mendengar seseorang membunuh istrinya, ia berada jauh dengan Luca sekarang, apa putrinya akan baik-baik saja?
Bram juga berusaha menghubungi Galang, tapi lelaki itu juga tidak mengangkatnya. ia jadi sangat bingung sekarang. Ia tidak pernah kalau ada yang mengincar keluarganya, apalagi sampai membunuh istrinya.
"Tidak, Galang pasti bisa menjaganya." Putusnya sendiri untuk meredakan kecemasannya.
"Bram, kaulihat putrimu yang sangat kuat itu?" Ucap Katrina duduk di atas meja di depan Bram.
"Katrin, kau di sini?" Bram mengarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia merasa setengah bermimpi." Dengarkan aku. Aku tidak pernah menghiantaimu, aku hanya sedang tersesat waktu itu." Ucap Bram menggenggam tangan istrinya.
"Kau tersesat terlalu lama Bram, lihatlah kau sudah melewatkan banyak kesempatan. Kau melewatkan kasih sayangku dan putrimu tumbuh dengan sendirinya, kau bahkan tidak tau apa kesukaannya bukan?"
"Aku bodoh Katrin, aku selalu berfikir bahwa aku ingin memberikan dunia padanya. Aku berjuang keras siang dan malam untuk kebutuhannya, aku ingin kelak dia tidak mengalami kesusahan. Aku menyayanginya meski caraku kurang tepat, percayalah, dia juga putriku." Bram menyentuh wajah Katrina yang tersenyum namun matanya memancarkan luka.
"Aku tidak tau, aku tidak tau cara membesarkannya. Hanya kau yang bisa mengajarinya Katrina, aku mohon mengertilah." Bram mulai berkaca-kaca.
"Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun kau baru memikirkanku Bram, tapi mungkin Luca akan melupakan dirmu nanti."
"Bagaimana bisa? Dia putriku, tentu dia menyayangiku."
"Dia bukan putrimu, dia putriku, aku yang membesarkannya. Kau hanya membantunya membeli barang-barang mewah, bukan membuatnya tertawa."
"Aku bisa memperbaikinya Katrin, bisakah kita kembali?"
"Kau sudah terlambat kepadaku Bram, jangan sampai kau terlambat juga pada putrimu." Ujar Katrina yang menghilang bersamaan dengan senyumannya.
"Katrin tunggu, aku masih merindukanmu." Teriak Bram saat bayangannya menghilang. "Aku juga kesepian Katrina." Bram menundukan kepalanya, tanpa terasa air matanya mengalir.
Selama ini dia terlalu sibuk mengatur perusahaan dan mempersiapkan dengan matang agar Luca tidak kesusahan saat menerimanya nanti, dia membawa nama perusahaan menuju tingkat yang setinggi sekarang. Tapi satu sisi ia kehilangan putrinya, ia lupa bahwa Luca anak yang membutuhkan kasih sayang, ia pikir Luca akan baik-baik saja dengan semua pengasuhnya dari kecil. Dan juga di pikirannya Luca dalah perempuan yang mandiri, tapa menyadari bahwa dirinya yang membuat gadis itu berdiri sendiri.
.
.
.
.
Silahkan komen tentang bab ini dan bagaimana tanggapan kalian..
Author berharap tidak mengecewakan🙏🙏🙏