LUCA

LUCA
EPISODE 146



Seseorang yang baru, dan cerita baru.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Luca gue pulang duluan ya, byyyy.." Elen berlari meninggalkan Luca yang tertinggal di belakang.


Luca hanya menghembuskan nafasnya setelah kepergian Elen, memang beberapa hari ini gadis itu selalu pulang lebih dulu bahkan terkadang tidak menemui dirinya terlebih dahulu. Sekarangpun ia malah meninggalkan Luca, yang artinya Luca harus pulang naik taxi.


"Mereka semua kenapa sih? Sibuk banget." Gerutu Luca sembari menendang botol yang berada di depan kakinya.


"Lo mau nendang gue?" Tanya sosok lelaki yang berada di hadapannya, rupanya ia terkena botol yang Luca tendang.


"Gak sengaja." Jawab Luca.


"Pulang sama siapa?" Tanya Juan.


"Sendiri."


"Gue anter." Ucapnya langsung menarik tangan Luca pergi dari sana.


"Apa sih, gue gak mau." Luca menolak sembari menarik paksa tangannya kembali.


"Gue mau nganter doang, sekarang itu lagi gak ada taxi. Lo gak tau mereka lagi pada demo?"


"Haaah? Ngapain demo?"


"Banyak nanyak, buruan ikut gue kalau lo gak mau berdiri semalaman di sini."


"Gak usah." Luca tetap bersikeras menolaknya, Juan adalah orang asing karena mereka baru bertemu beberapa kali.


"Nih." Juan menarik tangan Luca dan memberikan gunting kecil kepada gadis itu. "Kalau gue macem-macem, lo pakai itu aja." Ujar Juan sembari berlalu mengambil motornya.


Luca masih terpaku memandangi gunting itu, mungkin Juan bukan orang jahat. Jika ia berniat melukai Luca, untuk apa ia memberikan gunting?


Tapi apa baik jika ia dekat dengan orang asing, sementara terakhir kali ia mempercayai Stef yang rupanya musuh.


"Buruan naik." Juan menyadarkan lamunan Luca.


"Eh iya."


Tidak ada pilihan lain, ia harus segera pulang meskipun bersama Juan. Mungkin ia harus menghilangkan sekelebat pikiran buruknya untuk saat ini saja, ia harus bisa mempercayai Juan.


Suara motor Juan memecah jalanan, selama itu mereka tidak saling berbicara. Bahkan Luca malah berpegangan pada pundak Juan, ia berusaha menjauhkan diri sebaik mungkin.


"Pegangan." Ucap Juan menjawab Luca.


"Apa?" Luca nampaknya tidak bisa mendengar jelas perkataan Juan, tapi lelaki itu malah terlebih dahulu menaikan kecepatan motornya.


Secara tidak sengaja Luca langsung memeluk Juan, ia sangat kaget karena lelaki itu mengebut.


"Juan pelan-pelan." Teriak Luca lagi, ia sangat takut.


Secara perlahan ia melepas pelukannya dan berpegangan pada jaket yang Juan kenakan.


"Galang, gue gak sengaja. Ini sama kayak lo waktu itu yang meluk sekretaris centil itu, jadi gue beneran gak sengaja." Ucap Luca di dalam hati mencari pembenaran atas tindakannya.


Juan hanya diam, ia tau Luca tidak merasa nyaman karena tidak sengaja memeluknya tadi. itu alasan dia tetap diam, dia tidak mau terlalu mengusik Luca.


Yang ia pikirkan saat ini adalah mengantar Luca sebelum hujan semakin deras, karena sekarang sudah gerimis.


"Makasih." Luca turun dari motor Juan.


"Cepat masuk, gerimis." Ucap Juan, tanpa berbicara apapun lagi ia mengendarai motornya meninggalkan rumah besar itu.


Luca langsung masuk dan beralari, ia masih kesal karena tidak ada satupun yang menjemputnya.


"Awas aja mereka."


Luca masuk ke dalam rumah, seragamnya lumayan basah karena memang ia terkena gerimis tadi.


"Biiii, Kok lampunya gak di hidupin." Panggil Luca pada seluruh pelayan yang ada di dalam.


"Mereka kemana sih?"


.


.


.


.


Gimana tanggapan kalian tentang Juan?