
Kita hanya saling menghindar, bukan saling meninggalkan
๐น๐น๐น๐น
"Luca." galang masuk ke dalam ruangan dan memeluk Luca, ia melihat gadis itu yang menangis hirteris.
"Kenapa? Kenapa harus gue?" Luca memukul bahu Galang, ia tidak tau bagaiman melampiaskan rasa sakitnya.
"Tenanglah." Galang meengusap punggung Galang.
"Dia selalu ada di otak gue, kenapa? Kenapa setiap gue liat dia, Kanya seakan menertawakan gue. Kenapa gue harus ketemu mereka." Dia terus meracau, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"kita ketempat Kanya." Bram meminta Gerald mengantarnya setelah melihat Luca yang histeris tadi.
Mereka berdua langsung pergi keruang bawah tanah, ia sangat ingin menemui perempuan itu.
"Kau." Kanya mendongakkan kepalnya melihat Bram yang datang, sementara Gerald sudah pergi menunggu di luar.
"Apa yang kamu dapatkan sekarang?" Tanya Bram pada Kanya, mantan sahabat mendiang istrinya.
"Maksudmu?" Dari penampilannya saja, Kanya sudah tidak karuan.
"Kamu membuat dua sahabat saling menyakiti."
"Sudah seharusnya mereka begitu."
"Mungkin kau sudah melupakan semua janjimu pada Katrina, kau juga sudah bertekad menghancurkannya. Tapi kau juga berniat meenghancurkan putrimu sendiri?"
"Dia akan baik-baik saja Bram, putrimu pantas mendapatkan semua itu." Hatinya masih sekaras batu tanpa rasa belas kasih.
"Jika saja kau tidak egois Kanya, maka kau tidak akan kehilangan sahabatmu, putrimu, dan putri sahabatmu." Bram menyodorkan segelas air pada Kanya.
"Pergilah, aku tidak butuh ceramah mu ." Kanya menepis gelas itu hingga terjatuh.
"Aku akan pergi, tapi cobalah mengingat betapa Katrina menyayangimu dan selalu memaafkan perbuatanmu sampai kau membnuhnya." Bram pergi dari sana.
Perkatan Bram masih meembekas di telinganya, kebersamaan yang dhulu indah sudah di akhiri dengan pertumpahan darah.
"Katrina, berhenti memberikanku makananmu.'
"Aku mengambil ini untukmu." Gadis itu tersenyum riang.
"Apa kau mau meenjodohkan anak kita nanti?" Tanya Kanya.
"Tidak, aku mau seorang putri." Tolak Katrina.
"Tapi aku juga mau seorang putri Katrina. Apa kau tidak bisa megalah?"
"Tenanglah, kau bisa meembuat seorang putra dan menjodohkan mereka. Putrimu dan putriku akan menjadi sahabat juga." Katrina memberikan saran.
"Apa kamu mencitai sesorang?" Tanya Katrina.
"Aku hanya bertanya, karena kau sering tersenyum sendiri sekarang."
"Itu karena aku bersamamu." Kanya memeluk Katrina.
~~~~~~~~~~
Gior menhampiri Elen yang berlari keluar dari rumah sakit.
"Apa salah gue?"Tanya Elen pada Gior.
"Dia hanya butuh waktu, lo taukan dia pemarah." Gior berusaha membujuk Elen agar.
"Tapi dia gak mau ketemu sama gue lagi."
"Setelah dia sembuh, lo bisa ketemu lagi sama dia. Dia pasti bisa maafin lo."
"Beneran?" Elen menatap Galaxi.
"Tentu." Dia tersenyum meenghapus air mata Elen.
"Gue mau pulang."
"Yaudah gue anter." Gior menggenggam tangan Elen dan menariknya pergi.
Meskipun situasinya sangat rumit,ia yakin mereka berdua masih bisa bersama nanti. Tapi yang leebih ia khawatirkan adalah, apa hukuman yang akan Galang berikan untuk Kanya. Dia pasti tidak akan teega meelihat Elen terluka, tapi bagaimanapun Kanya sudah hampir membunuh Luca.
Apa yang bisa lakukan?
Apa dia bisa melihat Elen sendirian tanpa seorang ibu?
Atau Elen akan membencinya setelah Galang memutuskan hukuman nanti?
Bagaimana jika Elen memintanya agar melepas Kanya?
.
.
.
.
.
Silahkan komen dan like yang banyak๐๐๐น๐น
mohon maaf bukan author tidak mau up, tapi seperti biasa jaringan disini bermasalah dan membuat author susah up