
Hidup adalah pilihan, dan bagaiman kamu tepat dalam memilihnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
"Kenapa lo nanya hal itu sama Galaxi?" Ujar Elen membuka suara setelah cukup lama mereka saling berdiam diri.
"Suka-suka gue." Jawab singkat.
"Lo sengaja mau buat gue sadar diri karena gue gak pantes buat kakak lo?" Elen menjadi emosional.
"Gue pengen lo sadar untuk gak pernah perjuangin orang yang sama sekali gak perduli sama lo, itu gak berguna." Balas Gior tak kalah tajam.
"Gue tau gue jelek, tapi lo gak bisa kayak gini juga." Ucapnya malah menangis.
"Lo cantik di mata orang yang tepat Elen, berhenti rendahin diri lo sendiri." Gior mengehentikan mobilnya karena kesal.
"Tapi lo gak berhak hancurin harapan gue secepat ini." Elen masih tidak terima.
"Buat apa lo buang waktu untuk orang yang bahkan gak pernah sadar sama kehadiran lo? Pakai otak, cinta bukan pembodohan."
"Ya terus gue selamanya kaya gini gitu? Lo belum pernah rasain jadi gue, gue di hina di rendahin, bahkan cowok seakan jijik sama gue. Semua cowok tuh mandang fisik, dia cuman ngelirik pas gue berubah doang."
Gior menarik tubuh Elen dan menahan cekuknya mel,,,umat bibir gadis itu. Ia seperti tidak tahan gadis ini terus menangis dan membual hal-hal yang tidak penting.
Tanpa sadar, Elen membalas pagutan itu dan membuat Gior semakin memperdalam, mereka seperti menyalurkan keinginan satu sama lain.
"Ada orang yang melihat lo lebih dari itu." Bisik Gior kemudian memeluk Elen.
Gadis itu malah merasa nyaman dengan pelukan lelaki yang selalu bertengkar dengannya. Dia tidak bisa menolak perasaan nyaman itu, tapi juga tidak mau berharap lebih.
Setelah mengantar Elen pulang, Gior kembali dengan perasaan heran. Kenapa dia seperti lepas kendali saat bersama gadis itu?
~~~~~~~~
"Sesuai rencana kita, bawa gadis itu ke sana." Ujar lelaki pada anak buahnya.
Mereka sudah bersiap menunggu di tempat yang sudah rencanakan.
Sementara di sisi lain, Luca harus pulang sendiri karena mobil Gior mogok dan ketiga omnya yang lain sedang rapat.
Bahkan memesan taxi online saja sangat sulit, akhirnya dia menemukan satu taxi yang lewat. Langsung saja Luca menghentikan dan naik ke dalam mobil itu.
Ia memberitahu alamatnya, namun supir itu berhenti sebelum sampai.
"Kenapa pak? Mogok?" Tanya Luca.
Tiba-tiba 3 orang masuk dan membius Luca, mereka mengenakan masker dan topi hitam. Sebenarnya Luca tau cara mengahadapi situasi ini, tapi dia sangat penasaran dan mengikuti permainan mereka. Luca tidak bernafas selama sapu tangan menempel di hidungnya tapi di berpura-pura pingsan.
Ia tau ini pasti ulah si penguntit, karena sangat penasaran ia mengikuti alur permainan mereka,
Mata Luca di tutupi oleh kain hitam kemudian di gotong ke tempat tertutup. Untuk menyadarkan gadis itu, mereka menyiram Luca dengan air.
"Lo gak perlu tau, tapi bos kita sangat ingin melihat lo menderita." Ucap lelaki itu tegas.
Luca mendengar suara langkah seseorang, dan jelas itu suara langkah wanita dengan hells.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya lelaki itu pada perempuan di sampingnya.
Luca hanya mendengar mereka berbisik, sepertinya Luca mengenali suara wanita itu hingga tidak berani berbicara.
Suara kaki wanita itu 9 langkah dari sisi kirinya, dan terdengar bau rokok dari arah sana juga.
Siapa perempuan merokok yang menjadi musuhnya?
Ia terus menebak situasi saat ini agar dia bersiap jika hal buruk terjadi, 5 orang di sisi kanan dan 7 orang di sisi kiri. Luca bisa tau hal itu dengan mencium bau tubuhnya.
"Hahahahah, lo takut banget sama gue sampai harus bawa anak buah dan juga masih ngiket gue di kursi saat ini? Pengecut." Umpat Luca meremehkan.
"Diam." Bentak lelaki itu." Silahkan boss." Lanjutnya.
Perempuan itu mendekati Luca dan menampar wajahnya, sayangnya Luca sama sekali tidak mengeluh atau mengaduh kesakitan.
Perempuan itu menjambak dan menendang Luca berulang kali karena sangat ingin melihat gadis itu merengek kesakitan. Tapi Luca malah mengeluarkan senyum smirknya.
"Untuk mukul gue lo sampai harus ngeluarin banyak tenaga, lo pasti gue bunuh ingat itu." Luca menekan kalimatnya dengan senyum mematikan, ia sama sekali tidak gentar atau bahkan takut.
Perempuan itu kembali menampar Luca seakan menjawab hal perkataan Luca.
"Boss, anak buah Galang sudah tersebar," Ucap salah satu dari mereka yang berlari masuk.
"Shittt." Umpat perempuan itu kemudian melangkah pergi.
"Kita cabut." Perintah lelaki itu pada komplotannya meninggalkan Luca dalam keadaan terikat dan mata tertutup.
.
.
.
.
.
.
.
Yuk gimana tanggapan kalian bab ini?
like dan komen yaa..πππΉ