
Bisa itu karena terbiasa bukan?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
."Hay." Sapa Gior yang tiba-tiba berada di kantin sekolah Luca.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Luca melihat Gior yang duduk di samping Elen.
"Nungguin lo." Ucap Gior pada Luca tapi melirik Elen.
Elen yang menyadari kedatangan Gior malah tersedak hingga terbatuk, ia sangat malu menampakkan wajahnya pada lelaki itu.
Segera ia meneguk minumannya sampai habis saking gugupnya." Gue ke toilet dulu." Ucapnya meninggalkan mereka.
Gior yang melihat itu tersenyum puas sudah berhasil menekan si culun, ia memang sengaja datang ke sini untuk mengetahui ekspresi Elen saat melihatnya. Tentu dia akan sangat malu bertemu dengan dirinya, sampai sekarang gadis itu harus berlari ke toilet.
"Gue curiga deh sama kalian." Ucap Luca melihat Gior yang tersenyum melihat kepergian Elen.
"Kepo banget lo jadi ponakan, udah buruan pesenin gue makan." Perintah Gior pada Luca.
"Ogah." Ketusnya.
Karena menerima penolakan, ia malah me makan mie ayam milik Elen dan sangat meinkmatinya.
Saat dia menyeruput kuah terakhir, datanglah Elen yang sudah kehilangan semangkuk mie ayam.
"Kok lo makan punya gue?" Elen menmatap kesal.
"Gue pikir lo udah gak mau, dari pada di buang." Ucapnya dengan santai.
"Muntahin gak?" Ancam Elen.
"Emang mau lo makan lagi?"
"Muntahin gak? Gue gak rela makanan gue masuk ke perut lo." Ucapnya memukul perut Gior berulang kali.
"Aaaauuuu." Gior memengang tangannya yang tersenggol Elen.
"Duh, maaf maaf. Sakit ya?" Elen memegang tangan Gior merasa bersalah.
"Sakitlah, ini kan gara-gara lo." Ucapnya semakin berpura-pura kesakitan.
"Eh, lo jadiin gue nyamuk." Ucap Luca menatap mereka.
"Gue sakit beneran." Rengek Gior.
Karena merasa malas, Luca pergi dari sana dan meninggalkan kantin. Dia tidak mau lebih lama lagi menjadi nyamuk.
"Luca tunggu."
Gior menarik tangan Elen yang hendak meninggalkan dirinya.
"Lo gak mau tanggung jawab?" Tatap Gior tajam.
"Ya lagian lo ngapain ke sini? Sana pulang." Usir Elen.
"Bukan gitu, gue bentar lagi masuk kelas. Lo mau ngapain di sini sendirian?" Tanya Elen.
"Ikut Gue." Tanpa meminta persetujuan Elen, Gior langsung menarik tangannya dan membawanya ke ruang musik. Padahal di ssana sangat sepi, hal itu membuat Elen tidak berhenti berpikir aneh.
"Lo mau ngapain?" Elen mulai ketakutan melihat Gior yang mendekati wajahnya.
"Jadi pacar gue." Ucapnya bersbisik di telinga Elen.
"Gak mau, lo kan mesum." Tolak Elen dengan tegas.
"Lo ngatain gue mesum tapi lo yang nyium gue." Ucap Gior mengingatkan Elen.
"Gue gak sengaja." Jawabnya tertunduk malu.
"Gue ajarin caranya mesum." Gior mengangkat wajah Elen dan menempelkan bibirnya.
Elen melotot kaget karena sangat terkejut, dadanya terus berdebar di sela-sela perasaan itu. Bukan melepas Elen, Gior malah semakin memperdalam ciuman itu dan menyesap habis bibir Elen.
Ada perasaan aneh yang mengalir di dalam dirinya, ia seperti tidak bisa menolak perlakuan Gior.
"Iiiihhh lepasin gue." Elen mendorong tubuh Gior kemudian berlari pergi dari sana.
Ia berjalan sepanjang koridor sembari memegang bibirnya, kenapa perasaan itu sangat menyenangkan baginya?
"Gak boleh, gue harus jauhin dia." Ucapnya membuang semua ingatan tadi.
"Siapa?" Tanya Luca yang berada di samping Elen.
Elen bahkan tidak menyadri bahwa dirinya sudah berada di dalam kelas.
"Gak ada." Ucapnya berbohong.
Jelas-jelas ia masih terus mengingat adegan tadi, dia seperti di hipnotis oleh Gior sehingga tidak bisa melupakannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yuk like yang banyak.. udah author bikin deg degkan nihh
komennya jugak๐๐๐ฅฐ