
"Kenapa kau bertindak tanpa persetujuanku." Bentak lelaki itu pada perempuan yang duduk di kursinya.
"Aku sangat kesal melihat kebahagian dia, dia malah bahagia bersama kelima orang itu."
"Tapi dengan ini mereka pasti akan lebih waspada, harusnya kau pakai otakmu." Bentaknya lagi.
"Aku tidak berfikir sampai ke situ, aku hanya ingin menyiksanya saja."
"Lupakan, lain kali jangan bertindak tanpa persetujuanku. Atau akan ku patahkan lehermu itu." Lelaki itu memasang kembali topi hitamnya dan pergi.
"Dasar brengsek, sudah banyak aku mengeluarkan uang untukmu. Jika bukan karena Galang yang berada di belakangnya, aku tidak akan butuh orang itu." umpatnya kesal setelah lelaki itu tidak ada.
"Lo kenapa?" Galang datang menatap Luca yang termenung di balkon.
"Gak papa." Jawabnya singkat.
Galang duduk di dektnya dan menggenggam tangan gadis itu." Apapun itu, gue pasti jagain lo." Dia mengelus pipi gadis itu.
"Terimakasih." Ini adalah ucapan terimakasih pertama Luca dalam hidupnya, selama ini ia pantang mengucapkan kalimat itu. Biasanya ia akan membalas perbuatan baik siapapun padanya karena tidak mau berhutang budi. Tapi untuk keluarga ini, tidak ada yang bisa ia balaskan pada mereka.
"Jangan pernah tunjukan sikap lo ini pada orang lain, mengerti?" Galang menatap Luca dengan binar di matanya, baginya Luca sangat menggemaskan saat ini.
"Kenapa?"
"Pokoknya gak boleh." Galang mencium kening Luca.
"Dih, sok posesif."
"Gue mau ke ruang kerja dulu."
"Yahh,,, di tinggal lagi." Gumam Luca.
"Apa?"
"Hah?"
"Apa katamu tadi?"
"Tidak ada."
mendengar jawaban itu, Galang langsung melangkah pergi. Syukurlah Galang tidak mendengarnya, atau dia akan merasa malu.
"Luca." Elen datang membawakan beberapa cemilan.
"Lama banget lo di bawah." Luca melirik Elen.
"Pas nganter mama ke depan sekalian ngambil cemilan, taunya abis. Jadi nunggu pelayan beli." Ujar Elen.
"Emang kenapa?" Tanya Luca, Elen sperti sudah menemukan gosip baru.
"Luca, lo tuh gak boleh terlalu nunjukin perasaan lo."
Luca menarik nafasnya berat." Gue gak ngerti." Ini adalah kelemahannya, dia tidak mengerti dengan perasaan ataupun hubungan.
"Gini ya, kalo lo nunjukin kalo lo suka sama si om Galang, dia bakal ngerasa tenang dan yakin lo gak bakal pindah hati meskipun dia gantungin lo."
"Jadiiiii?" Tanya Luca masih bingung.
"Lo itu harus cuek, Eh tapi lo kulkas. Maksud gue tu lo jangan tunjukin perhatian atau berusaaha bikin dia cemburu, dengan begitu dia pasti takut kehilangan lo dan nembak lo deh." Elen bertepuk tangan sendiri merasa bangga dengan kepintarannya.
"Harus segitunya?"
"Ya iyalah, pokoknya lo harus lebih cuek sama dia. Dan besok kita cari cowok buat lo manfaatin bikin Galang cemburu."
"Terserah lo deh." Luca menyetujuinya dengan malas.
"Oke, biar kita lihat siapa yang kita pilih besok."
"Apa kakak gak ada niatan serius sama Luca?" Gerald menaruh beberapa dokumen di mejanya.
"Lo pikir selama ini gue main-main?"
"Tapi kakak gak kasih dia status."
"Gue gak butuh pacaran, buang waktu. Tunggu sampai gue merasa yakin bisa jaga dia dan selesain masalah ini, gue bakal lamar dia." Ucap Galang dengan tegas.
"Beneran kak?" Gerald yang biasanya tenang malah bersikap heboh.
"Gue gak ngulang dua kali." Galang kembali fokus pada layar laptopnya.
Gerald pergi dengan senyum semangat, ia yang pertama tau bahwa kakaknya akan melamar Luca nanti. Memang hanya dia yang mengerti Galang, dan dia juga yang mendengar langsung kabar ini.
"Haaahh, sebentar lagi ada punya kakak ipar." Ujar Gerald yang masih bahagia.
"Siapa?" Gior yang mendengar itu langsung mendekat dan mencari tau.
"Apa?" Gerald pura-pura bingung.
"Kakak ipar siapa?" Tanya Gior lagi.
"Gue gak ngomong kakak ipar, lo salah dengar. Daaaaaa." Gerald melambaikan tangannya dan segera menghilang dari sana sebelum Gior si kepo semakin mengintrogasinya.
"Kenapa kakak se ceria ini? Apa dia baru dapat arisan?" Gumam Gior juga meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
.
Yuk komen yang banyak... jangan di anggurin doangg😪😪
likenya jugaaaaa yang buaaanyaaakkkk🙏🙏