
Bagaimana jika aku ingin kamu?.
~Juan.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Heh." Sandra menepuk bahu Juan yang sedang mengamati Luca.
"Apa sih lo." Dengan judesnya lelaki itu menjawab.
"Dih, giliran sama Luca aja sok lembut lo."
"Bukan gitu, tapi lo ngagetin gue." Bantah Juan.
"Bilang aja suka." Celoteh Sandra lagi.
"Sok tau."
"Dia cantik ya." Sandra ikut menatap Luca yang tengah duduk di meja berjarak sekitar 10 langkah.
"Kalau cewek emang cantik begok." Juan menoyoh kening sandra.
"Yaa cantiknya beda, mangkannya abang gue suka." Sandra tersenyum jahil sembari melirik Juan.
Juan hanya terdiam, entah apakah yang Sandra katakan benar atau salah. Dia sama sekali belum mengenali perasaannya pada gadis itu.
"Abang sepupu gue yang ganteng dan kaku, mending lo buruan ungkapin sebelum janur kuning melengkung."
"Pergi sana lo, ganggu orang makan aja." Juan mendorong Sandra agar menyingkir dari sampingnya.
"Iihh, gue aduin ya lo kalau suka sama Luca." Ucap sembari melangkah mendekati Luca.
"Sandraaaa." Teriak Juan, ia benar-benar jengkal dengan sepupunya yang satu ini.
Tapi memang benar, Luca terlihat cantik dalam kondisi apapun, bahkan saat dia tengah marah.
Sial, Juan tersenyum hanya karena memikirkan gadis itu.
"Luca lo sakit?" Tanya Elen pada gadis itu utnuk yang kesekian kali.
"Lo udah nanya itu seratus kali Elen."
"Tapi lo emang pucet Luca." Sandra meneyentuh kening Luca dan terasa panas, semenatara saat dia menggenggam tangannya tersa dingin.
"Lo beneran sakit, lo panas banget nih." Ujar Sandra sembari melototi Luca.
"Gue kecapean aja."
"Jangan bilang lo sakit karena berantem sama Galang?" Elen dengan polosnya malah menanyakan hal itu di tengah suasana hati Luca yang sedang buruk.
"Kata Gior tadi pagi lo gak sarapan mungkin karena berantem."
"Lo sama cowok lo emang cocok banget, tukang rumpi." Ketus Luca.
"Gue bayar dulu." Luca beranjak, tapi kepalanya terasa berat dan seakan berputar. rasa pening tiba-tiba menghampirinya.
Braakkk!!!
"Luca." Teriak Sandra dan Elen serentak.
Juan yang melihat hal itu langsung bangkit dan menghampiri gadis itu, ia menggendong tubuh gadis itu sembari berlari ke UKS. Jantungnya berdegup kencang lantaran kaget melihat Luca yang tiba-tiba pingsan saat dia memperhatikannya.
"Luca bangun." Juan terus menepuk pipi Luca.
Sandra dan Elen juga ikut berlari ke UKS, dan dengan sigap Elen langsung menghubungi Gior.
"Buruan periksa." Ujar Juan pada ,mereka yang bertugas di UKS.
Cukup lama mereka menunggu sampai Luca sadar, mereka beertiga akhirnya bisa menarik nafas lega.
"Luca lo gak papa?" Tanya Juan yangs sejak tadi berada di samping Luca.
"Luca." Seseorang datang dan langsung menyingkirkan Juan dari sisi Luca. "Lo kenapa?" Tanya Galang panik, ia bergeeas kemari setelah meendapat telfon dari Gior.
Perih,
Itu yang Juan rasakan saat dirinya tersingkirkan dari sisi Luca, entah ada hubungan apa di antara mereka tapi lelaki itu menggenggam tangan Luca. Dan raut wajah seperti bukan rasa khawatir antara keluarga, seperti hubungan yang lain.
Perlahan Juan mundur dan bergabung bersama Sandra, ia memang tidak tau tentang Galang yang sebagi om dan juga tunangan Luca.
"Kita pulanga ya." Galang langsung menggendong Luca pergi dari ruangan itu melewati Juan, sementara Juan hanya bisa menatapnya.
"Gak mau." Luca tidak bisa memberontak karena merasa lemas, ia tidak tau keenapa Galang tiba-tiba ada di sini.
"Lo boleh marah, tapi jangan sakit."
.
.
.
.
Tinggalkan jejak kalian ya jangan lupa.