
Kata orang, kebahagiaan awal dari badai.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Wah, akhirnya dateng juga." Gior melihat mereka dengan sumringah.
"Si Luca bahagia banget, Abis dapet arisan ya?" Tanya Galaxi penasaran.
"Paling habis di tembak." Ucap Gerald melirik Galang.
"Tapi gue gak di tembak." Jawab Luca menatap Galang, meskipun ia banyak menerima kejutan, Galang tidak memutuskan seperti apa hubungan mereka.
"Dia cewek gue, udah kalian pergi sana." Usir Galang pada adiknya.
"Yang mana yang bener sih?" Gior menatap Luca, gadis itu hanya mengangkat bahu juga tidak mengerti seperti apa sebenarnya hubungan mereka.
"Luca, lo tidur duluan, gue masih ada urusan sama Gerald." Galang meminta Luca untuk ke kamarnya.
Luca mengangguk dan pergi meninggalkan mereka, ia sangat bahagia malam ini. Meskipun Galang selalu sibuk, tapi dia selalu meluangkan waktunya untuk dia.
Selesai membersihkan diri, Luca kembali membuka laptop dan menelusuri panggilan Shina. Benar kata Galang, nenek tua itu patut di curigai.
"Besok aku akan ke rumah mereka." Jawab Nenek tua itu yang sedang melakukan panggilan saat ini.
"Awasi setiap gerakannya." Suara lelaki itu menjawab.
"Baiklah kau tenang saja." Ucapnya menutup telfon.
Tapi saat Luca mengulang dan mengecek semua panggilan Shina, panggilan itu tidak ada lagi. Panggilan itu seakan lenyap begitu saja tanpa jejak, padahal baru saja dia mendengarnya sendiri.
"Sial, apa mereka mengatur sistem untuk menghapus semua panggilan itu, hanya ada panggilan biasa di sini." Luca merasa kesal karena tidak bisa menemukan percakapan tadi, ia juga sudah memeriksa pesan tapi tidak ada yang mencurigakan.
"Nomor siapa tadi, kenapa tidak ada." Luca meninju mejanya, ia sangat geram." Apa yang di maksud mereka? Siapa yang akan mereka awasi? Apa gue?" Luca berusaha menerka apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Gue harus bisa balikin penghapusan panggilan mereka." Ucapnya sembariterus mengotak atik laptopnya.
Jam dinding menunjukan pukul 01:00 dini hari, ia bahkan tidak menutup matanya sedikitpun. Ia terus memainkan jemarinya di atas keyboard, bahkan gadis itu tidak sempat meregangkan tubuhnya.
"Luca lo kenapa?" Galaxi masuk ke kamar Luca karena dia kebetulan keliuar kamardan melihat lampu kamarnya belum mati.
"Luca, apapun yang lo lakukan ini udah malem, sebaiknya lo tidur." Ucap Galaxi menasehati Luca.
Sistem gagal.
"Shitttt,, kenapa gue gak bisa." Teriaknya memukul meja berulangkali.
"Luca tenanglah." Galaxi menarik tubuh Luca menjauh dari laptopnya, ia rasa ini pertama kalinya ia gagal.
"Ada apa?" Galang menerobos masuk Dan melihat Galaxi yang memegang tubuh Luca.
"Gak, gue gak boleh gagal." Luca mendorong Galaxi dan kembali meraih laptopnya.
"Hey, tenanglah." Galang memeluk Luca dan mengambil laptopnya di berikan kepada Galaxi.
"Gue tadi denger dia ngomong, tapi panggilannya ilang. Gue gagal ngembaliin panggilan yang mereka hapus." Ucap Luca menatap mata Galang, ia adalah gadis yang sangat mudah kesal dan frustasi.
Galang menggerakkan tangannya memberi kode agar Galaxi keluar, ia langsung mengerti dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hey, gak papa. Besok kita coba lagi, lo udah janji kan gak mau buat gue khawatir?" Luca mengangguk, ia memang sudah berjanji pada lelaki itu. "Sekarang lo harus istirahat, mungkin karena lo capek jadi gak fokus. Nurut ya?" Galang mencium kening Luca, ia berhasil menenangkan gadis itu lagi.
Luca berusaha memejamkan matanya di dalam pelukan Galang, meskipun sekarang ia sedang berada di dalam dekapan Galang, dia terus saja memikirkan maslah tadi. Jika hanya panggilan biasa, kenapa bisa menghilang?
Dengan siapa nenek tua itu berbicara sebenarnya?
.
.
.
.
.
Yik yang semangat nebaknya,, komentar ha guyss
likenya jugaa🥰