LUCA

LUCA
EPISODE 159



Menistakan perempuan adalah awal kehancuran.


~ Luca.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Pak lepasin saya paakkkk." Suara tangis perepuan memenuhi ruangan itu.


"Hadehhhh, kenapa sih gue sering ketemu sama yang beginian." Seru Luca yang melewati ruangan itu.


Luca berniat mengambil beberapa barang di gudang, tapi ia malah mendengar suara begitu di dalam ruangan yang akan ia tuju.


Luca tidak ingin perduli, ia berbalik mengurungkan niatnya.


"Tolongg, ada oranggg? Tolonggggg." Teriak perempuan itu sekali lagi, entah kenapa Luca menghentikan langkahnya.


"Diam atau saya pukul kamu, kamu fikir ada yang bisa dengar kamu di ruangan ini?"


Luca melangkah kembali ke ruangan itu, dengan satu tendangan ia bersail membuka pintu gudang.


"Tollll,,, tolong...." Perempuan itu seperti merasa ada sedikit harapan ketika Luca datang, akhir ada yang mendengar teriakannya.


Rupanya di dalam sana terdapat satu gadis yang berseragam sama dengan Luca, dan dua guru yang salah satunya merukan lelaki yang ia benci.


Bisma.


"Kalian gak ada kerjaan lain?" Seru Luca menatap mereka jengah, hampir setiap hari ia memergoki kejadian seperti ini.


Sekolah macam apa ini?


Jika sekolah berbakat, terkenal dan penuh prestasi saja masih melakukan hal ini, bagimana dengan sekolah lainnya?


Di sini, siapapun yang tidak memiliki kuasa akan di tindas, di bully, di permalukan, dan menjadi incaran **** para guru yang hilang akal ini.


"Hay Luca, mau bergabung?" Bisma dengan senyumnya malah semakin membuat Luca muak.


"Kaaak." Gadis itu berlari dan sembunyi dari balik tubuh Luca.


"Ada apa ini?" Kepala sekolah datang menghampiri mereka, ia melirik Bisma adik iparnya.


"Pak, saya harap anda lebih memperhatikan guru di sini dari pada sibuk menghukum murid lain." Ujar Luca menarik gadis yang masih gemetaran di belakangnya.


"Bisma, apa yang kamu lakukan?" Tanya kepolaka sekolah pada adik sepupunya.


"Bukan apa-apa kak." Jawab Bisma.


Tentu dia tau apa yang ada di otak adiknya ini, tapi jika menyangkut Luca ia bisa saja dalam bahaya.


"Singkirkan tatapanmu itu dari Luca." Kepala sekolah itu memperingatkan Bisma.


"Memangnya kenapa?"


"Dia adalah perempuan tuan Galang, dan dia bukan gadis sembarangan. Jika kamu masih mengganggunya, jangan harap kamu bisa tetap ada di sini." Lelaki itu menginggalkan Bisma dengan satu guru lainnya.


Mau bagimanapun, Bisma tetaplah Bisma. Lelaki yang hilang akal dan penuh dengan nafsu, dia memang penuh dengan otak kotor.


"Makasih kak." Seru gadis yang di seret Luca.


"Mana berani." Jawab gadis itu, melihat mereka saja tangannya sudah gemetar.


"Kenapa gak lapor?"


"Emang ada yang percaya?"


Luca mengangguk, pasti sulit bagi mereka. Terlebih ancaman-ancaman yang mereka dapatkan.


"Lo sering kayak gini?"


Gadis itu mengangguk, memang sudah beberapa kali ia di ganggu oleh guru bejat di sekolah ini.


Luca duduk bersama gadis yang belum ia ketahui namanya itu, jika hanya sekali dua kali mungkin Luca bisa mengabaikannya. Tapi ini sudah berkali-kali, dan ia sangat membenci Bisma.


"Bagi kita yang masuk jalur beasiswa hal ini udah lumrah kak, kita bahkan gak bisa berkutik. setelah berhasil mendpatkan kita, guru itu akan mengancam dengan berupa foto. Jadi bagi kami tidak ada pilihan lain selain menurut, kita bahkan tidak bisa melakukan apapun. Pernah ada yang melapor, tapi dengan mudahnya mereka membalikkan fakta sehingga murid itu di keluarkan dari sekolah." Jelas Gadis itu.


"Kita?"


"Ya, aku dan gadis lain yang tidak mampu dan masuk lewat jalur beasiswa adalah incaran utama mereka. Memang masih banyak gadis lain yang secara sukarela melakukan hal itu,tapi bagi kami ini seperti tekanan. Kami memilih diam karena sekolah di sini merupakan impian semua orang, terlebih kita juga memiliki pandangan yang cerah setelah lulus dari sekolah ternama."


"Gue bisa bantu kalian."


Gadis itu mendongak kaget. "Benarkah?" Seperti ada harapan yang bisa membuatnya keluar dari ini semua.


"Ya, kumpulin orang-orang yang sama kayak lo yang bersedia bersuara. Selanjutnya biar gue yang atur." Ucap Luca tersenyum menepuk bahu gadis itu.


"Kenapa kakak melakukan ini?"


"Anggap aja ada dendam pribadi." Luca bangkit dan meninggalkan gadis itu.


Keputusannya adalah mengatasi semua ini dan melepar lelaki bejat itu sejauh mungkin.


Banyak alasan yang membuatnya melakukan ini, dan ia rasa ini akan sedikit sulit.


Guru


Di gugu dan di tiru.


Bukan manusia yang memeluk nafsu.


Yang menjadikan murid sebagai rasa baru.


.


.


.


.


.


Hay readers, semogaa kita semua sehat selalu dan di jauhkan dari hal seperti ini๐Ÿ™๐Ÿ™


tinggalkan jejak kalian di sini.