
Hubungan adalah pengikat kepastian dari sebuah perasaan.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Kapan lo berangkat?" Tanya Galang yang menghampiri Bram di teras rumah.
"Mungkin aku akan seminggu di sini, kenapa? Kau keberatan aku tinggal di sini?" Bram menikmati minumannya sembari menatap lurus ke depan.
"Hentikan kebodohan lo itu." Ujar Galang juga mengambil minuman di atas meja.
"Apa kau benar-benar mencintai putriku?" Tanya Bram mengalihkan topik.
"Kapan gue gak serius?" Tanyanya balik.
"Hahahah kau benar, aku beruntung menitipkannya padamu."
"Gue pikir lo sengaja nitip dia ke gue." Galang menatap Bram dengan kecurigaan.
"Justru harusnya aku yang curiga kau sengaja membuatku menitipkan dia padamu." Bram membalik kalimat Galang.
"Hahahaha." Mereka tertawa bersama, persahabatn mereka tidak akan pernah berubah meskipun waktu terus berjalan.
"Gue mau lamar dia Bram, apa lo keberatan?" Tanya Galang
"Tentu tidak, hanya saja dia masih sekolah bukan?"
"Gue juga pernah meemikirkan itu dan menunda melamar dia, tapi setelah semua ini terjadi, gue gak bisa nunda waktu yang lebih lama. Tidak ada yang bisa mempermasalahkan pernikahan kami."
"Yaaa yaaa, aku tau kau orang nomer satu. Siapa yang berani menentangmu."
"Lo sendiri bagaimana?"
"Gue masih mau fokus sama perusahaan dan Luca."
"Kakak." Panggil Gior pada Galang, dan mereka berdua menoleh.
"Kalian ngapain berduaan di sini?"Galaxi muncul setelah Gior.
"Mereka sedang membahas antara menantu dan mertua." Jawab Gerald yang menyusul mereka.
Di sisi lain, ada gadis yang memandang mereka sembari tersenyum. 5 lelaki yang berhasil menghiasi hidupnya sendag bersama, dia tidak pernah mengeeluh mau sesulit apapun hidupnya selama ini. Tapi kali ini, ia sadar betapa beruntunbgnya dia yang di kelilingi mereka.
"Gue mau egois, gue gak mau kehilangan mereka satupun." Ucapnya sembari meninggalkan tempatnya berdiri melihat mereka.
"Bram, lo beneran mau serahin anak lo sama kakak? Dia harusnya jadi bapaknya." Galaxi mengejek Galang.
"Benar juga, kenapa tidak dengan Gior saja. Dia jelas lebih muda dan serasi." Ucap Bram menyetujuinya.
"Yaya, tapi gue lebih kaya." Sombongnya pada mereka.
"Aku juga kaya, Luca tidak membutuhkan uangmu." Bantah Bram.
"Apa gue harus kirim lo ke luar negri lagi?" Ancamnya pada Bram.
"Lucaa" Gior melambaikan tangannya melihat Luca datang.
"Kita sedang mengobrol." Jawab Bram. "Kau kesini untuk bertemu denganku?" Tanya Bram padda Luca.
"Dia ke sini buat gue." Seperti biasa Galang tidak terima.
"Gue ke sini buat kalian." Luca tersenyum kikuk, tidak mungkin dia memilih di antara keduanya dan malah berdebat nanti.
"Apa maksud lo, lo cuman boleh kayak gitu sama gue." Galang malah semakin tidak terima.
"Kaaak, lo lebay banget sih." Gior menatap muak dengan tingkah kakaknya.
"Lo cinta gak sama gue?" Tanya Galang.
"Gaalaanggg." Luca menatapnya kesal.
"Jawab, atau terima hukuman nanti." Galang tersenyum licik.
"Iyaa gue cinta sama lo, puasssss?" Luca menghentakkan kakinya dan berbalik meniggalkan mereka.
Galang tersenyum puas meendapatkan jawaban itu. "Lo dengar tadi? Se cinta itu dia sama gue."
"Diiihhh mulai gak waras kamu ya." Umpat Bram melihat tingkah Galang.
"Gue tau lo cemburu."
"Terserah deh."
"Gue berencana mau lamar Luca sebelum satu minggu, itu artinya sebeelum lo berangkat."
"Terus nikahnya kapan?" Tanya Gerald.
"Kalian pikirkan saja, dan siapkan acara untuk melamarnya. Jangan lupa harus kejutan yang spesial, gue mau susul dia dulu." Galang menaruh gelas dan melangkah pergi.
"Ingat ya, kaian harus selalu laporan sama gue." Imbuhnya lagi.
"Liiaaat, dia yang mau nikah kita yang sibuk." Ucap Galaxi melirik kedua saudaranya.
"Mau gimana lagi, dia kakak kita." Gerald hanya bisa pasrah.
"Setelah ini, gue bakal nikah juga." Ucap Galaxi.
"Mimpi." Mereka serentak mengatakan itumembuat nyali Galxi menciut.
"Doain kek." Galaxi merebut minuman Gerald dan meneguknya.
.
.
.
.
Yuk like dan komen untuk kebucinan Galang๐๐๐