
Jam menunjukan pukuk 20:39, Luca sudah mendapat kabar bahwa Bisma keluar dari rumahnya.
Segera ia pergi ke club yang ia tuju, club itu adalah milik kenalannya, jadi akan lebih mudah baginya memasang kamera tersembunyi.
“Di mana Ariana?” Tanya Luca pada salah satu penjaga club.
“Nyonya sedang ada tamu, jadi silahkan anda menikmatinya terlebih dahulu.” Ujar lelaki itu mempersilahkan.
Luca melangkah memasuki club itu, ada banyak pasang mata yang menatapnya. Jujur saja, ia sangat pusing mendengar dentuman musik yang hamper merobek telinganya.
Sekaya apapun dirinya, ia tidak pernah suka tempat semacam ini. Entah apa yang orang sukai dari tepat yang penuh dan berisik semacam ini.
“Berikan minuman yang gue pesen.” Ujar Luca sembari duduk menuggu.
Ia melirik kearah Bisma, rupanya lelaki itu benar-benar pergi ke tempat ini.
Hanya di sini Bisma berani bertindak, jika di sekolah lelaki itu pasti akan mengabaikan dirinya.
“Loh, Luca?” Ucapnya sekan sangat kaget melihat kehadiran Luca.
“Eh pak Bisma?” Luca tersenyum sangat ramah.
Bisma menatap penampilan Luca dari atas sampai bawah, air liurnya nyaris menetes.
“Kamu sangat berbeda ya?” Tanya bisma dengan mata yang penuh binar.
“Saya memang seperti ini pak.”
“Sunguh? Itu lebih baik.” Ucapnya dengan suara yang keras beradu dengan music yang sedang di putar.
“Sedang apa di sini?” Tanya Luca.
“Kesepian.” Jawab Bisma tanpa basa-basi. “ Kamu sendiri?”
“Biasalah, maslaah hati.”
Kini mereka berdua salig tertawa seakan teman lama, entah bagaimana Luca bisa menahan untuk tidak menghajar lelaki mesum itu.
“Angel gak nemenin kamu?” Luca bahkan sudah tidak memanggilnya bapak lagi.
“Dia sibuk.”
“Kalian sangat dekat?” Tanya Luca mendekati Bisma.
“Ah tidak juga.”
Luca hanya mengangguk dan kembali tersenyum, Bisma memberikan kembali minuman Ketika gelas Luca sudah habis.
“Dia sudah gila.” Gerutu Luca dalam hatinya.
“Ayo lagi.” Bisma menuangkan wine itu kembali dan memaksa Luca menghabiskannya.
Sial, Luca terjebak. Ia harus menghabiskan minuman itu agar Bisma tidak curiga.
“Di sini sangat berisik.” Ujar Luca.
“kita ke tempat lain.” Jawab Bisma sembari beranjak dari duduknya, begitu juga Luca.
“Shittt, gue cuman minum segelas udah pusing.” Luca terus mengumpat dalam hatinya.
Mereka berdua pergi ke sebuah kamar yang sudah Luca pesan khusus, dan di sana ia dan Bisma masuk ke dalam.
“Tunggu di sini, aku harus ke kamar mandi.” Ucap Luca mendorong tubuh Bisma yang sudah sempoyongan ke atas Kasur.
Luca berjalan sembari terus menampar pipinya sendiri. “Goblok banget gue.” Umpatnya lagi kesal.
Setelah berjalan cukup jauh, ia mulai merasa kepanasan. Entah kenapa dengan tubuhnya, ia merasa sangat tidak tahan dengan pakaian di tubuhnya.
“Aaaaahhh.” Luca terjatuh menubruk tubuh kekar lelaki yang tidak bisa ia kenali.
Lelaki itu langsung menggendong tubuh Luca. “Lepasin gue.” Teriak Luca, namun di abaikan.
Lelaki itu menuju kamar dan menidurkan Luca di sana.
“Sssshhhhh.” Luca semakin merasa kepanasan di dalam sana meski dengan AC menyala.
“Panas.” Rengek Luca.
.
.
.
.
.
Nah lo, siapa lelaki itu?
Gimana nih? Author udah up 3 bab lo.. kalian harus lebih semangat like sama komennya.