LUCA

LUCA
EPISODE 96



Siasat yang tidak tepat, bisa membuatmu sesat.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Galang akhirnya kau datang, kami sudah menunggumu dari tadi." Ucap nenek tua itu sembari tersenyum menggelikan.


Tak lama kemudian Luca turun bersama Elen, melihat hal itu, Shina mendorong Helen dan mendudukkannya di dekat Galang.


"Siapa yang suruh duduk di situ?" Galan menatap Helen tajam.


"Galang ini hanya kursi, kita bisa duduk di mana saja." Jawab Shina.


"Di sana adalah tempat duduk Luca, sebaiknya duduk tempat lain." Galaxi menatap Shina dengan kesal, beraninya ia menaruh putrinya di tempat Luca.


"Tapi.." Kali ini Helen akan angkat bicara.


"Pindah atau gue lempar lo keluar?" Ucap Galang sekali lagi.


Akhirnya Helen pindah dari tempat duduk itu, Luca tersenyum kecut melihat ekspresi Helen yang menyedihkan.


"Lo bahkan gak bisa rebut tempat duduk gue Helen." Ucapnya dengan penuh penekanan.


Di meja makan ada sepuluh kursi, dimana Gerald dan Luca duduk di sisi kanan dan kiri Galang. Setelah itu Galaxi dan Gior yang juga di sisi kanan dan kiri setelah mereka, tidak akan ada yang bisa mengubah posisi itu sampai kapanpun.


Luca menatap pelayan yang menghidangkan makanan, ia seakan memberi isyarat pada pelayan wanita itu. Saat Shina hendak duduk di kursinya, pelayan itu menarik kebelakang kursi itu sehingga nenek itu terjatuh ke lantai.


"Aaaauuu, dasar brengsek. Kau sengaja ya?" Umpat Shina sembari mengusap bokongnya yang sakit.


"Maaf, tadi saya bermaksud menaruh makanan ini, karena terlalu sempit saya tidak sengaja menyenggolnya." Ucap pelayan itu menunduk menahan tawa.


Sedangkan Elen malah tertawa sammpai cekikikan.


"Sayang tidak baik menertawakan orang tua." Ucap Gior, padahal dirinya juga sedang tertawa.


"Ada apa Shina? Lo gak terbiasa duduk di kursi mahal?" Ejek Luca merasa puas.


Shina merengut kesal, ia di tertawakan mereka seakan dirinya badut. "Awas kau gadis sialan." Umpatnya di dalam hati.


"Cukup, cepat makan." Galang menghentikan mereka dan menyuruh segera makan.


"Aku ambilkan kamu nasi ya." Helen berdiri mengambil piring Galang dan mengisi nasi serta beberapa lauk.


"Ambilin gue juga." Ucap Luca, biarlah perempuan itu termakan siasatnya sendiri.


Dengan terpaksa ia juga mengambilkan Luca agar Galang terkesan.


"Ini juga punya gue."


"Punya gue juga."


Gerald, Galaxi, Gior, dan Elen malah juga menyodorkan piring mereka, alhasil jadilah Helen yang seperti pelayan yang mengambilkan tuannya.


Luca merasa sangat puas dalam hatinya, ia berhasil mengalahkan mereka dalam satu waktu. Bahkan dia sangat ingin tertawa melihat ekspresi Shina dan putrinya saat ini.


"Kak, mereka sudah sadar." Bisik Gerald pada Galang.


"Gerald, ikut gue menyiapkan berkas." Galang beranjak dari duduknya dan di ikuti Gerald.


"Kenapa mereka sangat buru-buru?" Luca bergumam sembari menatap punggung keduannya.


"Tunggu." Shina menarik tangan Luca saat semua sudah pergi.


"Jangan sentuh gue." Luca menghempas tangan Shina.


"Sepertinya kau menyukai Galang." Ucap Shina terang-terangan.


"Lalu?"


"Jangan Lupa dia om mu, dan Bram tentu tidak akan menyetujui hal itu." Ucapnya dengan yakin.


"Lo tau apa yang lo omongin? Pertama, gue gak perduli galang itu siapa gue. Kedua, Papa gak akan pernah ngelarang gue, apa menurut lo dia bisa menentang Galang?" Luca menyentuh bahu Shina.


"Dengar, apapun rencana yang ada di otak lo, itu gak akan berhasil." Luca tersenyum melepaskan tangannya dari bahu Shina.


"Aku hanya khawatir." Ucap Shina tersenyum.


"Lo khawatir gue bisa nyingkirin lo." Ucapnya berlalu dari hadapan shina.


"Tertawalah sepuasnya, malam ini kau akan menyesal melakukan hal itu." Gumam Shina memandang Luca yang kian menjauh.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira mau diapain ya si Luca??


komen yuk, percayalah komen dan like kalian adalah penyemangat terbesar bagi author untuk nulis๐Ÿ™๐Ÿ™