
Menaruh harapan kepada manusia adalah paling mudah membuat luka.
πΉπΉπΉπΉ
Luca mengotak atik laptop di kamarnya, tak lupa ia memeriksa rekaman cctv kamarnya hari ini. Dia memang sudah memasang cctv tersembunyi di sana, hanya dirinya yang tau di mana keberadaan cctv itu.
Matanya terus mengawasi pergerakan Helen di kamarnya, amarahnya tiba-tiba melonjak saat di melihat boneka kesayangannya di lempar, apalagi Helen malah pergi begitu saja tanpa menaruhnya kembali.
"Brengsek." Umpatnya kesal, ia tidak tau apa yang sedang Helen lakukan, tapi hal itu mampu untuk menumbuhkan rasa curiga di hatinya.
Berulangkali ia menarik nafas untuk menenangkan debarannya, ini yang paling sulit ia hadapi. Sesak akan menjalar di seluruh rongga dadanya jika ia belum melampiaskan amarah itu.
"Ada apa?" Tanya Galang yang datang menghampiri Luca, ia melihat gadis itu mengepal dengan mata yang tajam menatap layar laptop.
Segera ia melirik laptop itu dan memutar ulang, rupanya Helen yang membuat gadis itu marah.
"Tenanglah, gue bakal nanyain dia nanti." Galang langsung meraih tubuh Luca dan memeluknya.
"Gue punya ide yang lebih bagus, anggap aja lo gak pernah liat ini." Ucapnya pada Galang, ia melepas pelukannya dan pergi ke kasur.
"Mana hp lo?" Tanya Galang.
Luca langsung memberikan ponselnya pada Galang, lelaki itu mulai mengotak atik hp Luca.
"Om bejat?" Galang melirik Luca dengan tajam.
"Kenapa?" Tanya Luca polos tanpa merasa bersalah.
Segera Galang mengubah nama itu menjadi stiker Love saja dan menyimpannya, tak lupa ia menunjukan pada Luca hasil karyanya.
"Lo bukan pacar gue." Ucap Luca melihat hal itu.
"Tapi lo suka sama gue." Balas Galang tersenyum menang.
Luca memutar bola matanya malas, Galang memang memiliki tingkat kePDan yang tinggi.
"Mau kemana?" Tanya Galang melihat Luca pergi.
"Ada urusan."
Luca terus mencari keberadaan Helen, dan rupanya perempuan itu berada di taman samping. Luca duduk dengan gayanya seperti seseorang yang penuh wibawa, dia memang selalu membuat siapapun terpukau.
"Lo bisa lepas dari bokap gue."
"Hah?" Helen tidak mengerti maksud Luca.
"Seluruh saham udah di tangan gue, ancamannya udah gak berlaku. Tapi ajarin nyokap lo buat berhenti ngemis sama bokap gue." Ucapnya dengan nada tegas.
"Tapi Bram gak mungkin lepasin gue gitu aja." Balas Helen.
"Kalo lo emang gak mau sama bokap gue, gue bisa urusin masalah hutang itu. Kecuali emang lo masih mau sama dia." Sindir Luca dengan halus.
"Tenang aja, aku pasti ninggalin dia." Ucapnya yakin.
"Gue pegang omongan lo." Luca beranjak dari sana, ia tidak menghiraukan bagaimana perasaan Helen.
"Luca." Gior yang tiba-tiba muncul di balik pintu berusaha mengagetkan Luca.
"Apa sih lo?" Sayangnya Luca malah tidak merasa kaget sama sekali, dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Lo suka gue apa Galang?" Pertanyaan ini sudah sering dia tanyakan dan membuat Luca kesal.
"Gue gak suka sama siapapun." Ucapnya tegas.
"Huuuffttt untung gak nyebut nama gue lagi." Di sisi lain Gerald yang mendengar hal itu malah bersyukur.
"Bantuin gue bujuk Kakak ya?" Rengek Gior lagi.
"Untungnya buat gue apa?"
"Uang jajan gue kita bagi dua." Rayunya pada Luca.
"Gue banyak duit." Tolak Luca.
"Gue bantuin lo ngerjain kakak." Ucapnya teringat pada permintaan Luca waktu itu.
"Setuju." Luca jadi teringat ia ingin membalaskan dendam pada Galang, hanya saja karena kasus boneka itu ia jadi lupa.
"Galak." Teriak Luca pada Galaxi yang pura pura tuli, padahal ia mendengar perbincangan mereka.
"Eh anak ayam, gue gak mau." Tolak Luca.
"Oke, nanti malem ada pesta kecoa di kamar lo." Ancamnya lagi.
Galaxi bergidik ngeri membayangkan ribuan kecoa di kamarnya, ia langsung mengangguk mengikuti perintah Luca.
"Oke, biar gue pikirin ide yang paling baik." Ucap Luca meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamarnya.
Ini adalah hal yang akan menyenangkan baginya nanti, biarlah sesekali ia yang mempermainkan Galang yang sudah menggantung cintanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat menikmati, dan tinggalkan like komen kalian yang buaaaanyyyaaakkk...ππ