
Akan ada hal baik setelah hal buruk, atau mungkin sebaliknya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi ini Luca bangun dengan lebih semangat. Setelah kejadian semalam, baginya sulit untuk melepas senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
"Pagi paaa." Sapa Luca pada ayahnya di meja makan, seperti biasa Bram selalu datang lebih awal.
"Pagi sayang, kamu ceria banget." Bram mengelus rambut Luca sebelum putrinya duduk.
"Iya dong, kan lagi seneng."
"Iya deh yang udah tunangan." Galaxi si julid mulai berulah.
"Emangnya lo, diam di tempat terus." Ejek Luca tak mau kalah.
"Bener juga, gimana semalam?" Tanya Gior mengingat semalam Raina datang.
"Gak gimana."
"Lo gak nembak dia?" Tanya Gerald.
"Belum."
"Payah banget sih lo kak, masak belum di tembak, entar di ambil orang lain lagi tau rasa lo." Gior terus menyudutkan Galaxi.
"Jadi cowok tuh harus gentle, nembak doang gak bisa." Luca ikutan memojokkan Galaxi.
"Gue pasti nembak kok, cuman ya nunggu momen aja." Kilah Galaxi.
"Momen itu di ciptain, bukan di tungguin." Sahut Gior.
"Sok tau lo." Galaxi menoyor kepala Gior.
"Luca, nanti papa mau balik ke singapur." Ujar Bram yang menghentikan perbincangan seputar Raina.
"Haaah? Kok mendadak pa?" Luca kaget, karena sebelumnya Bram tidak pernah memberitahu dirinya.
"Nggak mendadak kok, cuman papa baru bilang sama kamu. Papa gak mau kamu sedih, papa cuman sebentar kok."
Luca mengangguk, ia tidak boleh egois. Bagaimanapun Bram sudah rela meninggalkan pekerjaan di sana untuk menghampirinya. Semua yang sudah ia dapatkan saat ini sudah lebih dari cukup, apapun keputusan papanya ia harus tetap mendukung.
"Jam berapa?" Tanya Luca.
"Jam 4 sore. Papa usahakan agar bisnis papa berpusat di jakarta sayang, tapi tidak mudah untuk melakukan semua itu, butuh waktu." Bram menjelaskan kepada putrinya.
Memang dari awal kesalahannya adalah ketika menempatkan pusat perusahaan itu di singapur, ia berfikiir di sana akan lebih baik dan akan lebih pesat perkembangannya. Tapi sekarang semua sudah cukup, ia sudah membawa perusahaan itu setinggi mungkin. Kali ini waktunya menikmati hasil, ia harus memusatkan di jakarta agar putrinya kelak lebih mudah dalam menyelesaikan masalah dan tidak perlu meninggalkan kota ini.
"Yaudah nanti Luca langsung ke sana pulang sekolah pa." Ucap Luca.
Galang yang baru selesai mandi langsung duduk tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Dia kenapa?" Pertanyaan itu terbesit di hati Luca karena sikap Galang yang hanya terdiam.
"Nanti pulang sekolah gue mau ke bandara."
Galang hanya mengangguk, ia masih setia menyantap makanannya.
"Kak kita ada rapat hari ini, beberapa hari ini kita sudah selalu menundanya." Ujar Gerald.
"Setujui saja." Jawab Galang.
"Sebenarnya gue kapan sih bisa libur?" Galaxi menggerutu, bahkan Galang tidak memberikan toleransi setelah saudaranya sibuk menyiapkan kejutan untuk Luca.
"Libur selamanya mau?" Galang menatap Galaxi yang sedang memasang tampang putus asa.
"Mau, asal uang tetep ngalir." Jawabnya.
"Mimpi." Gerald yang menjawab sembari mencibirnya.
Setelah makan, Luca dan Galang meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Seperti biasa lelaki itu harus mengantar tunangannya sekolah.
"Lo kenapa?" Tanya Luca menggenggam tangan Galang.
Galang menoleh dan teersenyum. " Gak papa kok."
"Kok kayaknya rada cuek gitu."
"Nggak sayang, sana masuk kelas." Galang membelai rambut Luca dan mencium keningnya.
"Beneran?"
Galang mengangguk. "Nanti kalau gue belum selesai meting, telfon Gior."
"Iya." Luca keluar dari mobil itu, ia melambaikan tangannya samapai Galang menghilang.
Mungkin Galang hanya lelah, terlebih ia harus mengurus kantor. Bisa saja fikirannya yang terlalu khawatir tentang hal ini, Galang sudah melamarnya semalam, jadi tidak akan ada masalah lagi bukan?
.
.
.
.
.
Tinggalkan komen dan like kalian ya readers🌹