
Apakah sebuah rasa bisa terkikis masa?
~Luca
๐น๐น๐น๐น๐น
"Luca gue pulang duluan ya." Elen melambaikan tangannya.
Luca hanya tersenyum mengangguk, Elen memang tidak akan khawatir karena biasanya Galang akan menjemput Luca.
"Lo pulang sama siapa?" Tanya Sandra yang masih berdiri di samping Luca.
"Gue di jemput."
"Ohhh ya udah, hati-hati ya." Sandra ikut menghilang dari sana, taxi yang ia pesan sudah datang.
Luca berulangkali menghubungi Galang, tetapi lelaki itu tak kunjung mengangkat telfon darinya. Akhirnya ia memutuskan menelfon Gior, mungkin Galang belum keluar dari ruang meting.
"Gior jemput gue." Ujar Luca dari balik telfonnya sembari merasa cemas melihat gumpalan awan hitam yang sudah berada tepat di atasnya.
"Gue lagi ada kelas dadakan Luca, lo naik taxi aja ya. Langsung pulang jangan keluyuran." Ucap lelaki itu, dari suara dosen memang sudah menjelaskan keberadaannya.
"Ya udah." Luca segera meenutup telfonnya, ia segera memesan taxi online agar bisa cepat pulang.
Namun sebelum selesai ia melakukan hal itu, hujan turun dengan begitu derasnya sampai membuat ia langung basah kuyup.
Luca berlari dari gerbang dan berteduh di teras sekolah, hujan benar-benar tidak membiarkannya pulang.
"Dingin lagi." Gerutu Luca, ia merasa kesal seekarang.
tiba-tiba ada sebuah tangan yang meenyentuhnya dan menyelimutkan jaket pada tubuhnya.
Luca langsung menjauh dan menatap sosok itu, rupanya Juan lagi.
"Ngapain sih lo." Luca bertanya dengan sinis dan mengembalikan jaket Juan.
"Pakai aja."
"Sok romantis." Gadis itu masih saja angkuh dengan nada sinisnya.
"Seragam lo terawang."
Satu kata itu membuat Luca panik dan memeriksa seragam putihnya. Ia langsung merasa malu, dan bingung harus menjawab apa.
"Nih." Juan kembali memakaikan jaket pada Luca.
Gadis itu tidak bisa menolak lagi, lebih baik dari pada ia terlihat memalukan nantinya.
"Gue pulang duluan." Ujar Luca, hujan sudah reda setelah beberapa saat. ia menatap jaket Juan yang masih ia kenakan.
"Balikin pas udah di cuci."
"Iya." Jawabnya singkat, kemudian ia pergi meninggalkan Juan yang masih beridiri di sana.
Sebenarnya Juan mengatakan hal itu agar Luca tidak mengembalikannya saat ini juga, biarkan gadis itu memakai jaketnya sampai pulang.
Setelah melihat Luca menaiki taxi, Juan pergi untuk mengambil motornya yang masih terparkir. Dia mengemudikan itu tepat di belakang taxi Luca, namun dengan jarak yang cukup jauh.
Entah apa yang ia lakukan saat ini, ia malah mengikuti gadis itu untuk memastikan dia sampai dengan selamat di rumahnya.
Ia bahkan hanya berhenti sebentar di kejauhan sampai melihat Luca masuk dan menghilang dari balik gerbang rumahnya.
"Gue ngapain sih?" Tanya Juan pada dirinya sendiri.
Lelaki itu melesat meninggakan kediaman Luca, entah apa yang ia mau dalam hatinya.
"Loh, noona kok basah kuyup." Salah satu pelayan datang menghampiri Luca yang sudah menggigil.
"Tadi kena hujan." Jawab Luca melepas jaketnya dan pergi ke kamar.
"Noona langsung mandi air hangat, bibi siapin teh hangat buat noona."
Luca hanya mengangguk sembari melangkah menaiki tangga.
Entah dari mana sekelebat fikiran datang menghampiri otaknya.
Kenapa dengan Galang?
Sesibuk apapun dirinya, biasanya lelaki itu tidak pernah mengabaikan Luca. Tapi saat ini ia malah tidak mengangkat telfonnya sedetikpun.
Semua cowok emang gitu ya?
.
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak.