
Tindakan lebih penting untuk sebuah ketulusan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Dia kenapa?" Galang sudah sangat was-was.
"Dia cuman ngerasa nyeri mau haid, mungkin dia telat dan membuatnya 2 kali lebih sakit dari biasanya." Jelas Vano.
"Tapi gak ada masalah serius kan? Lo tau dia baru sembuh."
"Tenang aja Lang, palingan dia bakal sering marah. Gue udah kasih obat biar gak terlalu terasa nyeri." Jelas Vano.
"Emang sesakit itu?" Tanya Galang penasaran.
"Gue susah jelasinnya, intinya sakit banget."
"Pantesan dia sensi banget dari kemarin." Ujar Galang pada Vano.
"Gue pergi dulu." Vano menepuk bahu Galang dan pergi.
Luca mengerjapkan matanya beberapa kali, ia sudah melihat dirinya berada di kamar.
"Ngapain lo?" Tanya Luca pada Galang yang duduk di sampingnya.
"Nemenin lo." Jawab Galang.
Luca beranjak dari kasur, nyeri perutnya sudah mendingan sekarang.
"Lucaa...." Panggil Galang dengan suara lemas.
"Apa sih?" Luca berbalik dan melihat Galang yang menunjuk kasurnya.
Ia melihat ada noda darah pada sprei itu, aaahhh rupanya karena itu ia sangat kesakitan.
"Galang." Kali ini wajahnya yang memelas, ia langsung menutup noda itu dengan selimut.
Galang menunduk, ia menekan kepalanya kuat. Bukan karena ia tidak tahan darah, ia terbiasa melihat tumpahan darah sebanyak apapun, tapi kali ini dia melihat darah yang berbeda.
Darah gadis yang sedang datang bulan.
"Beliin pembalut." Ucap Luca lagi, lelaki itu langsung mengangkat kepalanya shock.
"Haaaah?" Galang masih kaget dengan permintaan Luca.
"Yaudah kalau gak mau, gue bisa pergi sendiri." Ujarnya dengan wajah cemberut.
"Gue bisa suruh pelayan." Tawar Galang.
"Gak mau, harus lo." Tolak Luca tidak setuju.
"Tapi kan,,,,"
"Ya udah gue beli sendiri."
"Ehhh iya iya, gue beliin." Ucapnya menarik Luca agar gadis itu ridak melangkah lebih jauh lagi.
"Gak boleh bohong."
"Iya gue beli sendiri pakai tangan gue." Ucapnya dengan sangat terpaksa.
"Nggak kok, gue seneng banget malah." Ucapnya dengan senyum palsu, dari pada gadis itu makin ngambek.
"Makasih." Ucap Luca dengan riang.
Galang hanya tersenyum simpul dan pergi.
Haaah, otaknya masih kaget dengan pemandangan tadi, tapi Luca sudah menyuruhnya melakukan sesuatu yang lebih menyeramkan.
"Haduuuhhh, mana kasirnya cewek lagi." Galang menatap dari mobilnya, ia masih enggan turun.
"Demi calon bini." Ucapnya menyemangati diri sendiri, ia memasang masker dan topinya. Itu akan membuatnya lebih merasa tenang.
"Tempatnya di mana sih?" Galang mulai bingun dan mengitari seluruh rak. "Nahh ini, tapi yang mana?" Kali ini dia bingun karena banyak sekali macam dan merek yang tersedia di sana.
"Cari pembalut ya mas?" Tanya mbak mbak itu meendekati Galang.
"Haaah? iiii,, iya." Ucapnya mulai merasa malu.
Mbak mbak tersenyum melihat Galang yang gugup dan malu.
"Mau yang kayak apa?"
"Gue gak tau." Jawabanya benar-beenar tidak tau.
"Kalo malam hari atau baru dateng biasanya pakai yang panjang mas biar gak tembus, kalau siang bisa pakai yang pendek." Jelas mbak mbak dengan sopan.
"Dua-duanya aja deh bak." Ucapnya bingung.
"Mau yang ada sayapnya apa yaang gaka ada?" Tanya mbak mbak itu lagi.
"Haaah? Emang burung? kok ada sayapnya?' Galang mulai semakin kebingungan.
Mbak itu malah tersenyum, sementara mbak-mbak di kasih sudah tidak kuat menahan tawa.
"Mas mau yang merek apa?" tanya mbak itu lagi semakin membuat Galang pusing.
"Ambil yang paling bagus yang paling mahal deh, terus lengkapin semua jenisnya." Ujar Galang langsung pergi ke kasir untuk membayar.
Dia segera membayar dan pergi dari sana, padahal mbak mbak kasir masih tertawa saat dia pergi.
"Pasti sayang banget sama istrinya." Ujar mbak mbak kasir itu, di lihat dari penampilannya lelaki itu tentu orang kaya.
"Ini produk macam apa sih nyusahin banget?" Galang menagambil satu pembalut dan menatapnya saat berada di dalam mobil. "Ehh gara-gara lo gue malu, mana ada banyak spesies lagi." Galang melempar pembalut itu ke belakang.
.
.
.
.
.
Yuk like sama komen kalian, silahkan berikan dukungan untuk author ya,, biar makin suka upnya๐