LUCA

LUCA
EPISODE 185



Sedikit melirik tidak masalah kan?


🌹🌹🌹


Ini adalah hari keenam setelah Galang merencanakan pernikahan mmereka. Galang tidak main-main dengan apa yang ia ucapkan, bahkan Luca masih ragu untuk semua ini. Tidak, bukan dia meragukan cinta Galang, tapi ia ragu apakah ini keputusan yang benar baginya? Apa ia benar-benar siap dengan status barunya.


“Papa kemana sih?” Serunya sejak tadi celingak-celinguk di bandara, ia tengah menjemput sang papa yang pulang hari ini untuk menikahkan putrinya.


“Luca.” Panggil Bram tersenyum menghampiri tubuh gadis itu.


“Papa.” Luca berlari dan lngsung memeluk Bram, senang rasanya bisa sedekat ini dengan sang ayah.


“Lama ya nunggunya?” Tanya sang ayah.


“Mmm lumayan sih paa, Galang gak bisa ikut, dia sibuk ngurusin kantor karena besok bakal free.” Jelasnya.


“Iya papa udah tau, dia udah nelfon papa kok.”


“Giliran Galang aja bisa ya ngangkat telfon, aku nelfon susah banget.” Luca cemberut menuntut.


“Itu papa beneran lagi sibuk sayang.” Bram mengsuap rambut Luca lembut dan melepas pelukan mereka.” Sekarang pulang yuk, papa capek banget.”


“Ayo.”




“Gior aku ngasih kado apa dong buat Luca?” Tanya Elen yang sudah frutasi memikirkan hal itu sejak tadi, akhirnya ia memilih enelon Gior dan bertanya.



“Terserah sayang, apapun yang kamu kasih, Luca pasti seneng kok.” Jawabnya.



“Tapi kan tetep pengen ngaih sesuatu yang spesial.”



“Ya udah kamu pikirin dulu ya Luca biasanya suka sama apa, nanti kamu beli deh.”



“Ya tapi apa? Dia udah punya segalanya.”



“Kamu kasihnya yang dia gak punya, udah kamu pikirin dulu ya aku masih banyak kerjaan daaa.”



“Issshhh malah di matiin.” Elen menatap ponsel yang sambungannya sudah terputus, ia mau minta solusi malah di suruh mikir sendiri.



“Aduh otak mini gue gak bisa mikri lagiii.” Elen berguling kesana kemaridi atas kasurnya.



“Keluar aja deh sambil nyari.”



Sesampainya Elen di mall, ia hanya berkeliling sembari melihat-lihat apa sekiranya yang menarik.



Brukkk



Elen tidak sengaja menubruk tubuh lelaki di depannya karena jalnnya yang tidak fokus.



“Eehh maaf maaf kak.” Luca menambil handphone lelaki yang terjatuh akibat ulahnya. “Duhhh d liat dulu kak, kalau rusak gue ganti, maaf banget ya kak.”




“Beneran kak di cek dulu, gue pasti ganti kok.”



“Beneran gakpapa kok, lagian lo nyari apa kenapa dari tadi celingak celinguk.” Ia menatap gadis imut di depannya yg terlihat bingung.



“Gue lagi cari kado kak buat temen gue, besok dia mau nikah.”



“Ohhh gitu, jadi mau beli apa?”



“Gak tau, masih bingung. Dia itu kaya dan udah punya segalanya, jadi aku gak tau harus ngasih dia apa.”



“Dia sahabat lo?”



Elen hanya mengangguk. “Yaudah mau makan dulu gak sambil mikir? Lagian bosen sendirian, kalau lo gak keberatan.” Tawar lelaki itu.



“Boleh, ayok.” Elen menerima dengan senang hati.



Mereka berdua masuk ke dalam restoran spagetti.



“Oh ya nama kakak siapa?” Tanya Elen karena mereka belum berkenalan.



“Candra, nama lo?” Tanya balik.



“Elen.”



Baiklah, memang mata Elen yang tidak bisa berkompromi dan terus menatap Candra kagum. Tak hanya tampan, lelaki ini memiliki lesung pipi yang membuatnya semakin menarik, apalagi dia sangat ramah dan baik.



“Gue cuman kagum ya gak ada niatan selingkuh, jadi gak usah nyalahin gue.” Serunya dalam hati.



.


.


.


.


.


.


Yuk like sama komen