LUCA

LUCA
EPISODE 110



Memulai dan mengakhiri


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Ada apa paa?" Luca menelfon balik Bram setelah melihat banyak panggilan tak terjawab darinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Bram.


"Ya tentu, aku selalu baik-baik saja." Jawab Luca.


Lama sekali Bram tidak bersuara, dan Luca menunggu tanpa memutus telfonnya.


"Maafkan papa, selama ini papa tidak pernah memperhatikanmu." Ucap Bram dengan nada yang lirih penuh penyelasan, ia bingung akan berkata apa. Hubungannya dengan Luca memang sangat canggung meskipun mereka adalah ayah dan anak.


"Tidak perlu." Jawab Luca, ia menahan tangis. Ini pertamakalinya Bram mengkhawatirkan dirinya, ini pertamakalinya lelaki itu meminta maaf dan merasa bersalah. Selama ini ia dan Bram bahkan jarang bertemu, dan mereka juga hanya berbicara kecuali jika ada sesuatu yang penting.


"Masalah rekaman itu, tunggu papa pulang. Papa akan menyelesaikannya, sementara itu kau jangan keluar rumah sendirian. Kau mengerti?"


"Ya aku mengerti." Ucap Luca, padahal kenyataanya, sebentar lagi mereka akan melakukan hal itu.


"Papa akan segera pulang, jaga dirimu dengan baik." Ucap Bram menutup telfon.


Luca menyeka air matanya, jam menunjukan 05:00 itu artinya sekitar 12 jam lagi. Ia keluar kamar dan menatap ke bawah, terlihat keempat omnya sedang berkumpul di sana. Ia menyusuri tangga dan menghampiri mereka, ia ingin mematangkan kembali persiapannya.


"Kak, semuanya sudah berada di tempatnya." Gerald memberitahu posisi anak buah mereka.


"Kita melakukan ini secara rahasia, jangan sampai mereka curiga dengan pergerakan kita." Ujar Galang.


"Luca, apa lo berhasil melacak mereka?" Tanya Galaxi.


"Ya gue berhasil mengetahui nomer asli mereka, ini adalah nomernya." Luca menunjukan beberapa digit nomer itu yang tertera di layar hpnya. "Mereka berada di lokasi ini, mungkin ini markas mereka. mereka belum melakukan pergerakan." Jelas Luca.


"Apa lo bisa melacak panggilannya juga?"Tanya Gior.


"Dia sama sekali belum melakukan panggilan apapun sejak semalam, apa mereka tau ya kalau di sadap?" Luca mulai bingung.


"Gak mungkin sih kayaknya, terus gimana perkembangan Shina?" Giliran Galang yang bertanya.


"Dia berhasil meminta bertemu, jam 2 siang mereka akan bertemu di cafe STAR. Jika Shina bisa melihat wajahnya itu akan lebih baik." Gerald memberikan informasi.


"Lihat ini." Luca menunjukan 4 gelang pada mereka. " Ini Adalah alat pelacak, jika sesuatu terjadi pada kita nantinya maka kita akan saling terhubung dengan ini. Kalian bisa melacak keberadaan satu sama lain." Luca membagikan satu persatu gelang itu.


"Tapi ini terlihat seeperti gelang biasa." Ujar Galaxi.


"Gue sendiri yang rangkai ini, gue pilih gelang biasa biar gak terlalu mencolok."


"Lo kok gak pakai?" Tanya Galang.


"Punya gue anting." Luca dengan bangga menunjukan hasil karya di telinganya.


"Hp lo bunyi." Gior memberitahu Luca.


"Kita akan menyerang mereka jam 15:00." Suara lelaki itu.


"Kenapa maju? Apa ada masalah?" Tanya perempuan itu yang bisa terdengar dari hp Luca.


"Jika mereka berada di kantor, maka aku akan mengepung kantornya. Jika di rumah, maka kita akan serang rumahnya."


"Baiklah, dapatkan gadis itu secepat mungkin." Ucap perempuan itu menutup perbincangan mereka.


"Sebaiknya kita tetap di rumah, jika di kantor akan mebahayakan banyak orang." Ujar Galaxi.


"Perubahan rencana, gue mau nyerang mereka duluan." Ucap Galang.


"Haah? Kenapa?" Mereka bertanya serentak.


"jika mereka menyerang kita jam 3 sore, maka kita serang mereka sekitar setengah tiga sore. Informasi itu pasti akan membuat posisi mereka berantakan dan kita bisa mengalahkannya secara mudah."


"Kaak, bukakah ini adalah wilayah markas." Galaxi mentap layar, di sana tertera lokasi lelaki yang melakukan panggilan tadi.


"Itu wilayah Adamson, gue tau. Tapi gue Galang, dan gue gak takut."


"Menurut gue rencana kakak bagus, itu bisa membuat kita menang lebih cepat." Gerald menyetujui ide Galang.


"Tapi gue pulang sekolah jam 3." Luca merasa keberatan.


"Itu akan lebih baik. Gior dan Galaxi lakukan aktivitas di luar rumah agar tidak ada kecurigaan, dan tempatkan juga penjagaan di kantor dan perketat penjaan Luca." Perintah Galang.


"Baik Kak." Mereka bertiga menyanggupi.


"Jaga diri dengan baik." Galang bangkit dan mencium pipi Luca di hadapan semua saudaranya.


Blusshhh


Luca masih terperangah kaget, di situasi sepertiini leelaki itu masih bersikap begini. Bahkan dengan santainya dai mengusap rambut Luca dan pergi tanpa perasaan bersalah.


"Iya deh yang bucin." Seru mereka kompak menyudutkan Luca.


.


.


.


.


.


Silahkan komen, author sangat berharap kalian bisa menanggapi bab ini dan like.


bukannya author mau bertele-tele dalam menyelesaikan konflik ini, tapi author ingin ceritanya lebih rinci agar readers mudah memahami alurnya... maaf ada bagian yang kurang berkenan pada cerita author๐Ÿ™๐Ÿ™