LUCA

LUCA
EPISODE 147



Hal terbaik dari jatuh cinta adalah kebersamaan kita.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Supriseeeeee." Teriakan mereka bersamaan dengan lampu yang hidup satu persatu.


Luca masih kaget, ia tidak bisa langsung merespon mereka.ia hanya menatap satu persatu dari mereka yang menghapiri dirinya.


"Kalian ngapain?" Pertanyaan konyol itu malah keluar dari mulut Luca.


"Happy b'day Luca." Galang melangkah membawa kue yang sudah mereka siapkan.


Luca masih belum bisa mencerna, ia menatap sekeliling yang di dekorasi dengan indah.


Ini tanggal Berapa?


Hari ini ulang tahun?


"Gue lupa." Luca nyengir, ia sendiri lupa pada tanggal kelahirannya.


"Sorry ya tadi ninggalin lo." Ucap Elen memberikan pelukan pada Luca.


"Eh anak ayam, nih kado dari gue." Galaxi memberikan sebuah kotak yang lumayan besar, entah apa di dalamnya.


"Nih dari gue." Gior juga mmebrikan sebuah kotak yang berwarna ssama dengan ukuran lebih kecil.


"Dan ini dari gue." Gerald membrikan kotak yang paling besar di antara kedua saudaranya itu, dengan warna yang sama.


"Punya gue udah di taruh di kamar lo." Ujar Elen.


"Anak papa ulang tahun ya, umur beerapa sekarang?" tanya Bram mendekati Luca setelah semua selesai memberikan kado.


"Mmmhhh 18." Jawab Luca.


"Maaf ya papa gak bisa nemenin kamu selama itu." Bram mencium kening Luca. "Hadiah papa ada di depan kamu."


"Haah apa?" Luca celingak celinguk mencari hadian yang Bram maksud.


"Ini di depan kamu." Bram mendorong Galang yang membuat Luca mengerti. Gadis itu tersenyum senang, Galang memang hadiah paling indah dalam hidupnya selama ini.


"Semua milik papa udah punya kamu, jadi papa cuman bisa ngasih orang yang kamu cintai." Bram membelai lembut rambut Luca.


"Sekarang ikut gue." Galang menaruh kuenya dan menarik Luca keluar, mereka menuju taman.


"Lo juga hias taman ini?" Luca menatap taman yang di penuhi bunga dan semua lampu yang berwarna kuning keemasan menghiasi taman itu.


Galang mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ia menatap mata Luca lekat.


"Galang." Luca menatap cincin itu tidak menyangka, ia terlalu awal baginya.


"Lo gak usah jawab sekarang kok."


"Gue mau." Jawab Luca.


Galang tersenyum lega, ia memakaikan cincin itu di jari manis Luca. Ukuran yang pas, seakan itu memang tercipta hanya untuknya.


"Cieeee yang udah tunangan." Elen berteriak ke arah mereka.


Gerald dan Gior menyalakan kembang api untuk merayakan malam ini.


Seluruh pelayan berbaris, mereka memegang lampion satu persatu. Mereka semua melingkari Galang dan Luca, kemudian menerbangkan lampion itu secara bersamaan.


Ini mengingatkan Luca saat mereka berada di danau, Galang bahkan juga menyiapkan hal ini karena Luca sangat menyukainya.


"Selamat ulang tahun noona." Mereka serentak mengatakan itu kemudian mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dan memberikan kepada Luca.


"Gue cinta sama lo." Galang mencium pipi Luca, setelah itu ia mencium jemari yang baru saja di sematkan cincin.


"Gior mau nerbangin lapion juga." Rengek Elen menarik baju kekasihnya.


"Iya ayok." Gior menggandeng Elen dan pergi mengambil lampion untuk menerbangkannya.


Malam ini terasa sangat indah, bukan hanya untuk Galang dan Luca, tapi juga untuk mereka semua.


"Hay." Seorang perempuan datang menghampiri kawanan Bram, Gerald, dan Galaxi.


Di antara mereka hanya Galaxi yang merasa kaget, perempuan itu adalan seseorang yang selama ini mendiami hatinya.


"Udah sana pergi, sebelum gue yang narik dia." Bisik Gerald pada adiknya.


Galaxi tersenyum, entah siapa yang mengundang Raina ke sini, tapi kesempatan ini tidak boleh ia lewatkan lagi.


.


.


.


.


Silahkan like dan komen readers๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


berikan tanggapan kalian.