
Makan Malam
Ruangan dipenuhi keluarga Anggara. Para kakak Luca pun ada disana (Orion (1), Amara(2), Samudra (3), Saka (4), & Anita (5)), bahkan Saka hari itu membawa seseorang bersamanya, seorang Gadis yang Luca yakin dijodohkan oleh papanya yang haus kekuasaan.
Tatapan tajam Luca begitu awas pada perempuan yang dibawa Saka itu, tampak jelas Luca tak menyukainya. Saka dan ke 4 kakak Luca sangat mengerti tatapan mata itu, Gadis yang dibawa Saka itu tampak takut dan tak nyaman dengan tatapan tajam Luca. Gadis itu berusaha tersenyum manis pada Luca.
Mmm.. hai.. aku Maya Subagja..ucap gadis itu memperkenalkan diri pada Luca saat bahkan sang tunangan Saka, yang bahkan tidak memperdulikan keberadaannya atau bahkan sekedar basa basi memperkenalkan dirinya pada sang calon adik ipar, Luca.
Subagja??... ah... jadi kali ini mas Saka yang dijual pada Tuan Subagja?? ucap Luca tanpa mau memfilter kalimatnya.
Anggara melirik menatap tajam pada putri bungsunya yang sejujurnya sangat ia sayangi itu. Anggara tak berusaha menyanggah setiap kalimat sang putri, entah mengapa ia hanya ingin makan malam bersama putri bungsunya yang baru kembali itu, ia tak ingin ada pertengkaran malam itu.
Maya terdiam, wajahnya merah padam merasa malu, saat dengan tidak langsung Luca mengatakan tidak ada perasaan apapun antara Saka dengan dirinya. Lihat saja bahkan sang tunangan tetap tak acuh dan tak perduli.
Dasar gadis idiot, Apa Tuan Subagja juga sama seperti ayahku ini?, seorang yang haus kekuasaan dan kekayaan hingga rela dan bersedia menjual..ah, salah, maksudku menjajakan PUTRI-nya sendiri? ucap Luca menohok.
Kau lihat kakak pertamaku Orion Putra Anggara, Laki-laki menyebalkan ini sudah 5 kali ganti tunangan atas perintah kedua orang tua kami dan bahkan sudah menduda 2 kali, ah apa kau tahu? Kalau salah satu mantan kakak iparku itu sudah mati bunuh diri bersama keponakanku yang masih berusia 2 bulan didalam rahimnya? karna tak terima dipaksa cerai dengan kakakku tercinta ini ?. ...Ucap Luca tidak perduli dengan tatapan tajam sang ibu. Maya terdiam ia terkejut bukan main, melihat itu Luca semakin melanjutkan.
Maya terkejut, ia menatap heran pada Luca, dengan ekspresi tak enak, bagaimana pun ia seorang perempuan, dan dia juga bukannya tidak tahu dengan semua hal itu, namun ia memilih menganggap hal itu hanya RUMOR, ia menolak untuk percaya. Yang lebih membuatnya heran, justru hanya Calon ibu mertuanya saja yang terlihat seperti kebakaran jenggot, sedangkan sang kepala keluraga dan anak-anaknya terlihat begitu tenang dan berusaha untuk menyangkal.
Ah, lalu bagaimana dengan kakak ke-3 ku Samudra Putra Anggara yang bahkan dipaksa menikah dan menjadi duda untuk ke 2 kalinya karna keluarga istrinya yang bangkrut. Ah lalu kakak ke-2 ku Amara Putri Anggara sudah 4 kali dipaksa ganti tunangan karna tunangannya itu bangkrut, dan kakak ke-5 ku Anita, ia kini bahkan harus bertunangan dengan DUDA Playboy dan harus rela melepaskan pria yang dicintainya menikahi gadis lain semalam....hhh dan kakak ke-2 yang tampan ini kini harus bertunangan denganmu putri bodoh SUBAGJA, aku mau lihat sampai kapan pertunangan kalian akan bertahan, akankah sampai kepelaminan dan berakhir pada perceraian karna keluarga Subagja yang bangkrut atau karna keluarga Anggara yang bangkrut atau justru karna perselingkuhan...ucap Luca dengan sengaja.
Maya tercengang bukan main, ia tak menyangka akan mendengar kenyataan itu dari putri bungsu Anggara. Gadis berparas cantik bak boneka barbie yang mengatakan kalimat pedas dan menghujam jantung tanpa berkedip itu.
Maya tidak bodoh, ia memang menaruh hati pada Saka, Ia tahu dengan jelas lelaki dingin itu tak pernah membuka hati untuknya. Namun ia ingin mencoba dan tak ingin menyerah.
Luca... tegur Yuanita sang ibu.
Kenapa?, apa kata-kataku salah?... bagaimana pun bukankah nona subagja ini akan jadi bagian dari Anggara, Aku hanya membantunya untuk tahu lebih dulu calon keluarganya ini agar ia bisa memilih ingin tetap bertahan atau segera mengatur langkah untuk lari dari neraka ini... lagi pula toh tanpa aku beritahu pun sudah begitu banyak berita yang muncul diluar sanakan dan semuanya bukan sekedar rumor tapi FAKTA.... ucap Luca sambil menatap tajam yuanita yang sudah kesal setengah mati.
Sudah cukup, habiskan makan malam kalian...ucap sang kakek saat putranya sendiri, Anggara tak berniat menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
Nona, apa makanannya sesuai selera anda... tanya Malik yang berdiri tetap dibelakanngnya bukan Sang kepala keluarga.
mmm.... rasanya masih sama...I love it...Ucap Luca tersenyum begitu manis pada Malik. Malik yang terkenal dingin dan tak pernah punya ekspresi, segera menunjukan sekilas senyum manis diwajah datartarnya. Membuat Maya terkejut bukan main, karna sejak bertemu lelaki paruh baya itu tak sedikit pun ada senyum di wajah datarnya.
Anggara melirik sekilas pada putri bungsunya, ia menarik garis tipis dibibirnya, Pria itu rindu dan selalu merasa bersalah pada putri bungsunya namun Gengsi dan Keegoisannya membuatnya memilih untuk tak menunjukkan keperduliannya pada sang putri.
Wah.... aku tidak tahu kalau kau bisa tersenyum paman... Sindir Orion. Malik tak menjawab ia hanya diam.
Orion mendengus melihat Kepala pelayan dirumahnya yang sangat datar dan begitu memihak pada Luca itu mengacuhkannya. Apalagi Luca, si bungsu yang tampak tak perduli.