
Seharusnya bukan tentang memiliki, tapi tentang membahagiakan.
🌹🌹🌹🌹🌹
Luca merasa ada yang aneh dari Juan, ia tahu kalau laki-laki itu memang lembut dan sangat ramah. Tapi ia merasa hari ini sikapnya berbeda, lebih dari sebelumnya.
“Ngapain kita ke sini?” Tanya Luca yang mulai menelusuri setiap inci cafe yang menrutnya sangat bagus tapi sepi.
“Kita ya makan di sini, duduklah.” Juan menarik kursi khusus untuk Luca dan memintanya duduk.
“Bukankah di sini sangat sepi? Apa mungkin makanan di sini gak enak?”
Juan tersenyum mendengar pertanyaan polos Luca, kenapa perempuan itu masih belum menyadari kalau dirinya menyiapkan ini semua.
“Gue yang siapain ini semua khusus hari ini, dan gak ada yang bisa ganggu kita.” Jawabnya tersenyum.
“Tapi kenapa?”
“Kita makan dulu ya.” Tanpa menjawab, Juan malah memanggil pelayan di sana untuk menghidangkan makanan yang sudah ia pesan.
“Ini makanan kesukaan kamu kan?”
Luca melirik spagetti yang terasa sangat menggiurkan baginya, memang ia begitu banyak menyukai makanan. Bahkan ia merasa ia menyukai semua makanan, asal menurutnya layak di makan.
“Iya, makasih.”
Mereka berdua makan dengan tenang bahkan tanpa sepatah katapun.
“Jangan bilang ni anak mau nembak gue.” Seru Luca dalam hatinya, setelah ia berfikir ribuan kali, barulah ia mencerna tentang perlakuan Juan. “Tapi dia tahu gue punya cowok jirrr.” Ungkapnya lagi.
“Aaaah gak mungkin, gue jangan sampai kepedean terus malu sendiri.” Ia sampai menggelengkan kepalanya untuk menepis apa yang ada di otak kecilnya sendiri.
“Kenapa?” Tanya Juan melihat Luca menggelengkan kepala.
“Nggak, gue harus cepet pulang soalnya udah mau gelap.” Luca mengambil tisu dan mengelap mulutnya setelah meneguk segelas air.
“Luca, gue masih mau dansa sama lo.” Pinta Juan.
“Gue harus cepet pulang Juan, nanti Galang nyariin gue.”
“Kenapa sih lo takut benget sama Galang? Emang dia ngasih lo apa sampai lo gak bisa tanpa dia.” Tiba-tiba Juan meninggikan suaranya karena kesal Galang selalu saja menjadi alasan wanita itu menghindarinya.
“Maksud lo apa? Galang itu pacar gue, tunangan gue.”
“Lo gak sadar dia itu lebih tua dari lo, dia bahkan lebih cocok jadi bapak lo.”
“Lo sadar gak sih? Gue selama ini suka sama lo, gue cinta sama lo Luca. Kenapa lo gak pernah bisa liat perasaan gue?”
“Juan stop. Lo cuman temen gue dan itu gak lebih, gak akan pernah.” Luca meronta berusaha melepas tangannya dari Juan.
“Gak, lo tuh harus jadi milik gue.”
“Lo gila ya? Lepassssss.” Teriak Luca karena Juan sudah kehilangan kendali.
“Dia gak pantes buat lo Luca, lo cuman jadi mainan dia. Dia cuman butuh tubuh lo.”
Plaakk
Luca menapar keras menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya belum berhasil terlepas.
“Lo ngehina gue? Lo pikir gue jual badan sam dia?”
“Gue gak ngomong gitu.”
“Lepas!!”
Juan malah menarik Luca ke ruangan alam cafe, sementara pelayan di sana bingung dan tidak tahu harus bagaiman. Mereka hanya menatap tidak tega namun tidak berani ikut campur, pasalnya Juan adalah putra pemilik cafe itu.
“Sakit Juan lepasss.”
“Lo harus ngerti perasaan gue Luca, gue udah gak bisa nahan ini lagi.”
“Tapi gak gini caranya Juan, gue udah punya tuanangan dan gue cinta sama dia.”
“Dia gak bakal setia sama lo Luca, menurut lo dia bakal serius sama anak ABG kayak lo? Di luar sana masih banyak cewek lain.” Juan terus saja meracuni otak Luca.
“Lo gak tahu apapun tentang hubungan gue, jadi sebaiknya lo diem sebelum gue bener-bener lupa kalau kita temen.” Luca yang sedari tadi tidak melawan Juan, kali ini ia menyentak kuat tangannya sampai mengeluarkan darah dari cakaran kuku Juan, matanya menatap tajam pada lelaki itu.
“Tapi gue sayang sama lo.”
“Juan, apa gunanya lo sayang sama gue kalau gue gak sayang sama lo? Lo tega ngancurin pertemanan kita cuman karena perasaan egois lo itu? Masih banyak perempuan lain yang lebih pantas buat lo. Jadi gue mohon jangan pernah ganggu gue lagi.” Luca berbalik ingin meninggalkan Juan, tapi lelaki itu malah mencegat Luca dan mendorong menempel tembok.
“Gimanapun caranya lo bakalan tetep gue dapetin.” Juan mencekal kedua tangan Luca di atas kepalanya dan menekannya ke dinding.
“Lo gak tau siapa gue, dan lo bakal nyesel kalau kenal gue yang sebenarnya.” Ucap Luca tanpa takut.
Juan memandang bibir Luca, ia hendak mendekati bibir gadis itu dan sangat ingin **********.
Buuuggghhhh!