LUCA

LUCA
EPISODE 120



Aku lupa, diantara banyak warna masih ada warna hitam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Tuan, penerbangan kita jam 3 sore ini." Ucap sekretaris Bram.


"Siapkan semua barang ku, kita harus segera pergi." Bram tersenyum senang, akhirnya ia bisa pulang lebih cepat dan bisa menemui putrinya.


Vian langsung pergi dan memerintahkan seseorang mengemas barang Bram.


"Aku harus memberikan dia hadiah, aku tidak pernah memberikan dia hadiah sebelumnya. Tapi aku harus membeli apa?" Bram sibuk berpikir sendiri.


"Vani, belikah aku hadiah untuk putriku. Ingat, itu harus sangat istemewa." Ucapnya kemudian memutuskan sambungan.


"Apa aku harus minta maaf nanti? Ya aku harus meminta maaf padanya, akau banyak berbuat salah." Putusnya lagi.


"Tuan kenapa?" Tanya Sekretaris yang sudah kembali.


"Apa tidak aneh jika aku meminta maaf pad putriku sendiri?" Tanya Bram.


"Tentu saja tidak, jika anda berbuat salah harus meminta maaf." Jawab Vian yang merupakan sekretaris dan orang kepercayaan Bram.


"Aku harus membuat pesta untuknya setelah sampai di sana." Bram seperti menggebu-gebu saat ini karena tidak sabar.


"Tuan seperti orang yang jatuh cinta saja."


"Tentu saja, dia putriku. Aku harus mencintainya sekarang, aku sudah banyak menyakitinya."


"Baiklah, pertama tuan harus menenangkan diri sampai kita tiba di indonesia baru tuang boleh melakukan semua hal yang tuan pikirkan."


"Kau benar, tapi kenapa dia tidak menghubungiku? Apa dia tidak merindukanku?" Bram kembali meraih ponshelnya dan menghubungi Luca.


"Kenapa tidak aktif? Apa hpnya jelek?" Tanya Bram pada Vian.


"Tuan saya juga tidak tau." Vian mulai malas meladeni Bram.


"Tidak masalah, saat sampai di sana belikan dia handphone yang baru."


"Baiklah." Vian hanya bisa menjawab pasrah.


"Oohh satu lagi, cari tau makanan kesukaannya dan warna kesukaanya juga."


"Baik tuan, ada lagi?" Tanya Vian mulai jengah.


"Mmmhhh entahlah, sepertinya banyakhal yang belum bisa aku pikirkan sekarang. Pergilah, siapkan semua itu dulu."


Vian langsung pergi dari sana sebelum Bram semakin menyuruhnya hal aneh lainnya.


"Apa aku harus memotong rambutku? Aku harus terlihat tampan di depan putriku." Ujarnya lagi sembari berkaca.


"Aaahh ya, nanti aku harus potong rambut." Bram melangkah keluar meninggalkan ruangannya.




"3, 2, 1." Luca melipat jarinya sesuai hitungan itu.



"Nggak maaa." Teriak Elen.



"Berhenti." Sesorang datang dan mengarahkan pistol ke kepala dia.



"Stefan." Elen menatap lelaki yang menodongkan pistol pada ibunya.



"Sudah ku katakan jangan menyentuhnya." Ujar Stefan.



"Jika aku tidak bisa mendapatkan apapun, maka dia harus mati." Ujar Kanya



"Lepaskan pistolmu atau aku yang akan menembakmu lebih dulu." Ancam Stefan.



"Bagaimana kalau kita mati bersama?" Dia tersenyum menatap Stefan tanpa menurunkan pistolnya.



Daaarrrr




Daaarrrr



Suara tembakan di luar ruangan menjelaskan siapa yang datang.



Stefan mendorong tubuh dia, menembak jendela kaca sampai hancur dan melompat ke luar.



"Sial, dia meninggalkanku." Umpat Kanya sembari bangkit karena jatuh di doronga Stefan, ia kembali meraih pistolnya.



"Lepaskan Luca." Galang masuk bersama anak buahnya yang sudah menodongkan pistol ke arah dia.



"Kalau kau mendekat, dia akan mati." Dia tersenyum menatap Galang. "Kau terlalu banyak memliki penyelamat Luca." Perempuan itu mendekati Luca.



Luca hanya terdiam tanpa menanggapi apapun, dia sangat lelah. dadanya semakin terasa sakit di tambah dengan keributan mereka.



Daaarrr



Salah satu anak buah Galang menembak kaki dia dan membuatnya jatuh tersungkur. Galang langsung menghampiri Luca dan memeluknya.



"Tenanglah, gue ada di sini." Galang melepas pelukannya dan mengelap darah di wajah Luca menggunakan pakaiannya.



Luca terisak, ia tidak atau apa yang harus ia katakan kali ini.



Kanya mengangkat pistolnya mengarahkan pada Galang saat semua sedang lengah.



"Galang..." Luca mencium bibir Galang dan membalik posisinya, tepat saat perempuan itu menembak.



Daaaarrr



"Lucaaaa..."Teriak Elen berlari menghampiri Luca.



Galang menatap tidak percaya, gadis yang tadi menciumnya sudah lemas di dalam pelukannya.



.


.


.


.


.


Yuk like dan komennya.



Ada yang ngeh gak sih sebenarnya author typo dan baru sadar. Nama mamanya Elen Katrina malah jadi mamanya Luca๐Ÿ˜‚



tapi sudah author revisi dan merubah nama mamanya Elen..