LUCA

LUCA
EPISODE 141



Cinta adalah pembunuh dan penyembuh yang paling ampuh.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kenapa gak masuk?" Tanya Luca pada Elen dan Gior yang hanya berdiam diri di tangga.


"Dia mau nunggu lo." jawab Gior, karena sedari tadi Elen tidak mau peergi kecuali bersama Luca.


"Yau dah lo bisa pergi." Ucapnya pada Gior.


Mereka melangkah bersama, Elen menggenggam tanga Luca. Ia merasa sangat takut dan sedih, bahkan Luca bisa merasakan tangannya yang begitu dingin dan gemetar.


"Elen." Kanya Langsung bangkit teersenyum melihat wajah putrinya, namun setelah mengetahui siapa yang di sampingnya, senyumnya berubah menjadi tatapan kebencian.


"Mau apa kau?" Bentak Kanya pada Luca, ia juga melirik Elen yang menggenggam tangannya."Kau juga merebut putriku? Kau dan Katrina memang suka merebut, kalian sama saja."


"Bukan gue yang merebut dia, tapi karena sikap lo itu dia ninggalin lo. Lo harus sadar, lo udah gak punya apapun sekarang."


"Elen lepaskan dia, jangan menyentuhnya." Kanya mendekati jeruji dan berusaha meraih mereka yang berada di luar.


"Elen lepaskan tanganmu." Teriak Kanya.


"Nggak." Tolak Elen dengan tegas.


"Kamu berani ngelawan mama? Anak macam apa kamu?"


"Mama itu yang orang tua macam apa? Seharusnya mama gak pernah lakuin ini, mama liat? Aku sekarang hidup sendirian, bahkan aku kehilangan sahabat aku karena mama."


"Ini semua salah gadis itu, dia yang membuat kita jauh Elen."


"Udah maa, kenyataannya mama emang perempuan jahat. Elen benci banget sama mama."


"Harusnya kamu benci dia bukan mama." Kanya menunjuk Luca.


"Kita pergi." Elen menarik Luca pergi dari sana, ia hanya ingin melihat wajah ibunya sebelum hukuman itu terjadi.


Sepanjang mereka berjalan, Luca tidak mengatakan apapun. Ia tau suasana hati Elen sangat buruk sekarang, ia juga tidak bisa melakukan apapun untuknya.


"Nangis aja gak usah di tahan." Ujar Elen saat mereka sudah keluar ruangan.


"Gue gak mau nangis lagi."


"Udah selesai?" tanya gior yang sedari tadi menunggu mereka, lebih tepatnya menunggu Elen pasti.


"Nih cewek lo mau nangis, buruan sana temenin tidur." Luca mendorong tubuh Elen sampai menabrak Gior.


"Ihhh Luca." Elen memperbaikai posisinya.


"Sediain tisu yang banyak." Ucapnya pergi menjauh.


Gior bengong, otaknya sekarang malah pergi kemana-mana.


"Buat nangis sama ingus, bukan buat otak kotor lo Gior." Jelas Luca sebelum menghilang terhalang dinding.


"Kenapa senyum?" Tanya Elen kebingungan.


"Nangis di kamar yuk." Gior langsung semangat.


"Kenapa harus di kamar?"


"Ya kalo nangis di sini malu, ayo buruan ke kamar." Gior tersenyum puas sembari menyeret kekasihnya yang dungu itu.


Luca yang ternyata bersembunyi tersenyum menatap mereka, ia sangat lega akhirnya Elen kembali padanya. Ia sangat bahagia melihat gadis itu tidak ketakutan seperti tadi, ia lega membuat mereka kembali bersama.


"Ngapain ngintip mereka?" Galang yang entah dari mana tiba tiba berada di samping Luca.


"Huuuhh lo ngagetin gue." Luca kesal karena dia sudah hampir akan menjerit.


"Ya abis lo ngintip mereka yang mesraan, mau juga?" Tanya Galang mendekati wajah Luca.


"Ogaaah." Ucapnya sebari melewati Galang.


"Yakin gak mau?"


"Nggak."


"Oke makasih." Galang langsung mengejar Luca dan menggendongnya mendadak membuat gadis itu berteriak.


"Galang nakaall." Umpat Luca.


"Iya sayang."


"Galang jelek."


"Makasihh."


"Galang gilaaaaaa."


"Muaaaaaachhhhh."


"Iiiiihhh najis." Teriak kedua saudara jomblo yang hanya bisa menatap mereka.


.


.


.


.


Plislah like sama komen meskipun kalian bosen😪😪


kakian udah gak pada komen yaa😭