
Mereka bertiga adikku, kamu gak perlu cemburu pada mereka apalagi merasa tersaingi...... ucap Dion pada istrinya itu. Perempuan itu pun terpaksa tersenyum.
Setelahnya mereka turun dari podium, dan menuju meja yang sudah disediakan khusus untuk mereka.
Luca... ucap sang mami menyapa putri yang selalu ia abaikan. Luca berbalik menatap datar wajah paruh baya yang masih sangat cantik itu.
Bagaimana kabarmu... tanyanya
Baik, sangat baik hingga semalam tentunya... ucap Luca yang menunjukkan betapa ia tak ingin berlama-lama dengan wanita itu, wanita yang hanya tahu mengabaikannya. Wanita itu terdiam, tampak jelas penyesalan itu namun Luca sudah menutup hatinya, ia tak ingin lagi mengharapkan wanita itu mau menyayangi dan mencintainya layaknya seorang ibu pada anaknya.
Sedangkan Sasa, rasanya ia ingin terus mengumpat, Lelaki paruh baya yang terus saja mengikutinya bagai perangko itu sungguh membuatnya sesak nafas.
Sasa, bagaimana kabar mu nak? kemana saja kamu? kenapa gak pernah ngabarin papi?...berbagai macam rentetan pertanyaan dihujani pria itu pada sasa.
Saya baik, sangat baik tanpa anda, Anda urus saja gundik dan anak kesayanganmu itu...sahutnya sarkas lalu meninggalkan pria paruh baya itu yang menatapnya penuh sesal.
Bagaimana kabarmu? tanya pria paruh baya itu
Baik...sahutnya singkat.
Kenapa kamu tak pernah pulang? tanyanya lagi.
Memangnya aku punya rumah..sahutnya dengan wajah tak berdosanya pada sang ayah yang sejak kecil selalu mengucilkannya.
Rahang kepala keluarga Soedrajat itu pun mengeras, putra bungsunya itu tak pernah berubah selalu saja ahli dalam membuat tensinya naik.
Pah.... bujuk istrinya. Dani malas melihat drama ia pun berlalu dan menghampiri ke dua sahabatnya yang jelas saat ini ekspresinya sudah sangat tidak mengenakan.
Belum sempat Dani menjawab, tiba-tiba saja rekan ayahnya yang ternyata pernah menjadi klien yang ia kalahkan datang menghampiri dan menyapanya.
Mr. Dani??? apa kabar.?... ucap pria bernama Broto itu.
Ah... selamat malam? maaf siapa ya? tanya dani yang memang tak mengingat broto
Ah...anda melupakan saya, saya Khairil Broto, yang kasusnya anda kalahkan di persidangan 1 tahun lalu.... ucap Broto yang memang mengagumi Dani.
Ah... maaf saya tidak ingat, ada begitu banyak kasus yang saya menangkan tahun lalu....ucapnya sombong, Dani yang memang tak suka mengingat orang-orang yang pernah ia kalahkan dipersidangan.
Hahahaha.... kau memang tidak pernah berubah Mr.Dani.... ucap Broto yang sangat disegani itu namun tak membuat Dani tunduk dan takut padanya.
Hari Soedrajat terdiam melihat interaksi itu. Ia pun mendekat.
Maaf, ada hubungan apa anda dengan putra bungsu saya.... tanya Hari pada Broto
Hubungan?? ah.... pemuda ini berhasil membuatku kalah dipersidangan berkali-kali dan membuatku rugi banyak.... ucap Broto tanpa nada marah justru kagum, sontak Hari terkejut
Persidangan?? gumam Hari heran.
Ah anda tidak tahu rupanya, Putra bungsu anda ini adalah seorang pengacara hebat, kasus yang ia tangani tak pernah ada yang kalah.... bayarannya juga sangat mahal, banyak mafia dan orang-orang penting menginginkannya menjadi kuasa hukum mereka, tapi sayang ia selalu menolaknya..... Apa anda tahu bayarannya sangat mahal bahkan mungkin kini ia lebih kaya dari anda ayahnya.... ucap Broto memuji, membuat Hari yang selalu menganaktirikan putra bungsunya terkejut bukan main, sedangkan Dani, ia tampak cuek dan sibuk memainkan ujung rambut sasa yang saat ini sedang menahan kesal karna sejak tadi ayahnya terus saja berusaha mendekatinya.
Hari tak pernah menyangka, si bungsu yang selalu ia caci maki, justru mampu berdiri tegak diatas kaki nya sendiri tanpa nama soedrajat dibelakang namanya. Ada rasa bangga juga rasa bersalah disana saat ia menatap betapa gagah dan mumpuninya putra bungsunya itu.