LUCA

LUCA
EPISODE 94



Bukan tentang siapa yang menyerang, tapi siapa yang akan menang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Kenapa lo narik gue ke sini?" Elen melepas genggaman Gior saat sudah berada di dalam kamar.


"Lo harus selamatkan diri di saat seperti ini." Gior merebahkan tubuhnya di kasur.


"Maksudnya?" Tanya Elen bingung.


"Lo gak liat muka kak Galang, dia udah kayak mau bunuh tu nenek tua."


"Menurut lo apa Helen ada sangkut pautnya?"


"Lo gak usah banyak mikir, otak gue aja gak nyampe mikirin itu." Gior menarik Elen hingga terjatuh di sampingnya.


"Lo ngatain gue?" Elen menatap Gior.


"Udah diem, gue butuh relaksasi sekarang."


"Hah?" Elen hanya melongo tidak mengerti.


Gior langsung menyambar bibir Elen dengan penuh gairah, ia seperti sedang menahannya sejak tadi. Dia bahkan tidak memberikan ruang untuk gadis itu bergerak.


"Gior ih." Elen mendorong wajah Gior.


"Ini namanya relaksasi, ini penting biar otak encer."


"Lo jangan bohongin gue." Elen menautkan kedua alisnya.


Gior kembali mencium bibir gadis itu bahkan menindih tubuhnya, bohong jika Elen tidak menikmatinya. Ia bahkan ingin sekali mengeluarkan suara dari mulutnya, namun ia ingat jika di luar bisa saja ada orang lewat.


"Lo gak ada niatan jawab gue?" Gior melepas ciumannya.


"Iya gue mau." Jawab Elen lirih.


"Mau apa?" Tanya Gior ingin di jawab dengan jelas.


"Ya mau itu."


"Itu apa?"


"Ihhh iya gue mau jadi pacar looooooo." Teriak Elen karena kesal, segera ia menutup mulutnya setelah menyadari ia berteriak.


"Nah gitu dong yang jelas." Gior tersenyum karena berhasil mengerjai gadis itu, sekarang gadis itu sedang merasa malu.


"Lo gak keberatan kalo gue jaga Luca?" Tanya Gior menjatuhkan tubuhnya lagi ke samping Elen.


"Nggak, dia emang harus kita jaga."


"Emang lo gak cemburu?" Tanya Gior penasaran.


"Gue bisa cemburu kalau itu bukan Luca, Tapi kalau Luca gue yakin dia gak bakal selera sama lo." Jawabnya mengejek Gior.


"Maksudnya cuman lo yang selera sama gue?" Gior mendekati wajah Elen.


"Tapi gue benaran gak bisa jauh dari Luca, dalam artian dia adalah bagian dari keluarga ini. Dia perempuan pertema di keluarga ini, gue mungkin masih akan jadi penguntitnya." Gior memberi penjelasan.


"Gue ngerti kok, gue juga sayang sama Luca. Gue mau lo jaga dia dan terus dukung dia, lo kan omnya." Jawab Elen tanpa merasa ragu.


"Kalau gue omnya, berarti lo tante dong." Goda Gior.


"Bener juga, masak gue udah jadi tante." Elen melotot menatap gior.


"Gak papa, gue tetep sayang."


"Tapi lo gak bakal selingkuhin gue kan?"


"Gue mau selingkuh kalau itu Luca."


"Tapi sebelum itu lo udah di penggal sama Galang." Elen merasa Heran dengan tingkat kePDan Gior, ia bahkan tidak merasa malu mengatakan hal itu. " Gue mau ngambil minum." Elen beranjak meninggalkan Gior.


Terdengar suara pembicaraan samar dari arah kamar Helen, karena merasa penasaran Elen mengahmpiri dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.


"Kalo kamu tidak bisa dengan Bram, maka kamu harus bersama Galang." Ucap nenek tua itu penuh penekanan.


"Tapi maa, aku udah usaha sama Bram. Dia mungkin udah gak tertarik sama aku." Jelas Helen.


"Bram sudah tidak punya papaun, semuanya sudah menjadi milik gadis sialan itu, sekarang kau harus mendapatkan Galang."


Kemudian nenek itu menjauh ke arah pintu untuk mengangkat telfon, Elen bersembunyi di balik pot besar yang bisa menetupi tubuhnya.


"Aku sudah di sini, dia tampak sakit karena kalian. Tenang sja, aku punya waktu sampai besok bagi di sini." Ucapnya langsung menutup telfon.


"Huuuh dia hanya bisa memerintah saja." Gerutunya kembali ke dalam kamar.


Elen merasa curiga dengan pembicaraan telfon itu, dan apalagi dia menyuruh anaknya mendekati Galang.


"Dasar nenek laknat." Umpatnya keluar dari sana menuju dapur.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira siapa yang yang nelfon si nenek tua?


komen yang buanyaaakkk


likenya mana?