LUCA

LUCA
EPISODE 78



Sebuah rasa akan datang tanpa di undang.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Luca, ya ampun cantik lo kenapa sampai begini?" Elen datang dan langsung mengomel.


"Gak papa." Jawab Luca malas, gadis itu sudah mengganggunya pagi-pagi begini.


"Kan gue udah bilang lo ikut gue pulang, kenapa lo malah keluyuran sama supir taxi."


"Lo bisa gak sih gak usah berisik." Ucap Luca jengah.


"Gak bisalah, liat nih kulit mulus gini jadi biru-biru." Elen mengangkat tangan Luca melihat lukanya.


"Luca." Tiba-tiba Helen datang membawakan semangkok bubur." Makan dulu ya."


Sejak kemarin, Helen baru hari ini menghampiri Luca ke kamar.


"Biar gue aja ya tante." Elen merebut mangkok dari tangan Helen.


"Ya sudah aku pergi dulu." Ucapnya seraya meninggalkan mereka berdua.


Luca hanya menantapnya tanpa bergeming, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.


"Btw, kenapa lo sampai kayak gini?" Tanya Elen, sebenarnya ia sudah tau dari Gerald, tapi dia masih ingin mendengarnya darri Luca.


"Lagi males cerita."Jawab Luca sembari mengunyah makanannya.


Elen menceritakan rencananya hari ini akan mengajak Luca menikmati hari libur, tapi karena Luca sedang sakit ia juga tidak jadi pergi.


Ia juga mengatakan bahwa ibunya sedang menuju kemari setelah belanja.


"Anak mama." Ibu Elen datang dan langsung memeluk Luca, ia begitu khawatir sejak mendengar bahwa Luca sedang sakit.


Luca tersenyum mendapatkan pelukan itu, apakah seperti ini pelukan seorang ibu?


Ia bahkan lupa seperti apa rasanya memeluk mamanya saat itu.


"Kau sakit apa? Kenapa kamu memar seperti itu?" Ucap perempuan itu melepas pelukannya dan membelai rambut Luca.


"Aku hanya terjatuh saja ma." Ucap Luca masih canggung saat harus memanggil mama.


"Kau bahkan harus diajari cara berjalan ya?" Ujar perempuan itu menautkan kedua alisnya.


Luca hanya tersenyum kikuk mendapatkan teguran seperti itu, ia tidak terbiasa mengobrol dengan seseorang yang lebih tua darinya.


"Maaa aku ke luar dulu ya mau naruh ini." Ucap Elen meninggalkan mereka berdua.


Mama elen membuat suasan di antara mereka cair, dia terus mengajak Luca berbicara dan membuat gadis itu tertawa.


Sementara Elen pergi ke dapur untuk menaruh mangkukdan mengambil air minum di kulkas.


Saat ia menutup pintu kulkas, Gior tiba-tiba saja muncul dari balik pintu itu.


"Anjimm,,,Lo ngagetin gue." Bentak Elen mengerucutkan bibirnya.


"Lo ngajak mama ke sini mau ngelamar gue?" Tanya Gior dangan sangat percaya diri.


"Ikut gue yuk." Gior langsung menarik Elen secara paksa ke kamarnya.


"Lo ngapain ngajak gue ke kamar." Elen berusaha melepaskan tangan Gior.


"Otak lo kotor banget sama gue, gue mau ngembaliin ini." Gior mengambil KTP dan memberikannya pada Elen.


"Kok bisa ada di lo?"


"Mungkin jatuh pas makan malem, gue nemu di tangga. Simpan baik-baik, ini penting buat ke KUA." Ujar Gior lagi membuat Elen bingung.


"Ngapain ke KUA?"


"Buat surat nikah kita lah." Jawabnya degan enteng, ia seperti akan menikah besok.


"Gue gak mau." Elen hendak pergi tapi Gior memeluknya.


"Jadi pacar gue." Bisiknya di telinga Elen.


"Gak." Jawabnya cepat.


"Setidaknya lo coba dulu, gue baik kok."


"Gue gak mau Gior." Tolaknya kekeh.


"Lo udah ciuman sama gue beberapa kali tapi tetep nolak gue?"


Elen berpikir keras, benar juga kata Gior. Dia bahkan sudah berciuman beberapa kali dengan lelaki yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


"Gue pikir-pikir dulu." Jawabnya mendorong tutbuh Gior.


"Kok masi....."


"Kalo maksa gue bakal nolak." Ucapnya lagi seraya meninggalkan kamar Gior.


Lelaki itu hanya diam mendengar perkataan Elen, dia seperti tidak berani menjawabnya.


Apa Gior benar-benar mencintai Elen?


.


.


.


.


.


.


Menurut kalian Gior beneran suka gak sama Elen?


yuk komen dan like🥰🥰