
Hal terindah adalah saat menatap matamu.
~Juan.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Tuh cewek kurang ajar banget." Umpat Angel sembari menatap Luca yang jaraknya cukup jauh dari tempat duduknya.
"Kenapa lagi?" Tanya perempuan yang duduk di sampingnya.
"Kemarin gue liat dia lagi berduaan sama Juan, kan ngeselin banget."
"Ya itu hak dia Angel."
"Juan itu inceran gue dari dulu." Angel masih tidak terima.
"Ya terus lo bisa apa?" Tanya temannya sembari mengunyah bakso.
"Tenang aja, bentar lagi permainan gue di mulai." Angel tersenyum jahat.
"3, 2, 1." Angel menghitung mundur, lalu ada seorang lelaki yang tidak sengaja menabrak Luca dan membuat sikunya berdarah.
"Luca." Teriakan Elen yang histeris membuat seisi kantin menatap mereka.
"Maaf Luca, gue gak sengaja." Ucap lelaki itu sembari menyatukan kedua tangannya memohon-mohon.
"Eh lo gak punya mata? Liat nih sampai berdarah." Elen malah sangat marah.
"Gue beneran gak sengaja kak." Ucapnya hampir mau menangis, dia adalah adik kelas mereka.
"Udah sana pergi." Ucap Luca mengabaikan luka di sikunya.
"Apaan main di suruh pergi, gak bisa." Elen malah melotot kepada Luca sekarang.
"Luca kecil doang." Ucap Luca.
"Makasih kak." Lelaki itu pergi dari sana sebelum Luca berubah pikiran.
Luca menatap dari kejauhan, ia melihat senyum dari perempuan yang bahagia melihatnya terluka. Gadis itu malah membalas Angel dengan tersenyum juga.
"Ayo ke UKS." Elen menarik lengan Luca.
"Gak usah." Tolak Luca, baginya ini bukan luka berat.
"Nanti infeksi bahaya, ayo buruan." Elen masih membujuknya.
"Ya udah gue sendiri aja." Ucap Luca melepas tangan Elen dari lengannya.
"Kok gitu?"
"Lo tunggu di sini sebentar doang, cuman di kasih obat merah doang kan?"
"Tapi yang bener ngobatinnya."
"Iya." Luca bangkit dari sana dan pergi ke UKS, jika tidak di turuti maka temannya itu akan terus mengoceh.
Awalnya Luca biasa saja dan tidak ada fikiran apapun tentang hal ini, namun melihat penjaga UKS sedang tidak ada dan ruangan itu kosong, bukankah sangat mencurigakan?
"Loh, Luca di sini?" Tiba-tiba Bisma datang ke ruangan UKS itu.
"Wahh pak Bisma, kebetulan yang sangat di rencankan ya kita bisa ketemu di sini." Ujar Luca tersenyum muak.
Jadi inilah alasan sebenarnya ia terluka.
"Iya, eh bukan gitu kok. Saya ke sini mau ambil obat sakit kepala." Kilah Bisma sembari mencari obat mendekati Luca.
Pintu UKS tertutup dengan keras, dan sepertinya juga di kunci.
"Kebetulan juga ya pak kita terkunci." Ujar Luca lagi sembari menatap Bisma geram.
"Duhhh ini siapa yang nguci, bukaaaaaaa." Teriak Bisma, aktingnya benar-benar payah.
Luca mengabaikan hal itu dan tetap meengobati luka di sikunya.
"Sini bapak bantuin." Bisma dengan lancang meenyentuh lengan Luca.
Luca menatap lelaki itu, ia menyentuh dan mengelus dada lelaki itu. "Bapak mau bantuin saya?" Luca tersenyum manis dengan nada manja.
Di sentuh begitu saja Bisma sudah bergetar hebat, ia hanya mengangguk pasrah.
Sedetik kemudian Luca langsung mencengkram kuat kerah baju Bisma, tatapannya langsung berubah.
"Jangan mancing gue." Luca mendorong keras tubuh Bisma.
Gadis itu bangkit dan mengambil gunting kecil di meja, ia menatap gunting itu sembari mengusap perlahan.
"Bapak tau akibat dari mata kotor?"
Bisma menelan ludahnya ketakutan.
"Harusnya kan matanya itu di ilangin ya?" Luca terus mendekati Bisma selangkah demi selangkah.
Bisma meemukul tangan Luca dengan keras sampai gunting itu jatuh.
"Haaah, kamu pikir kamu bisa nakutin saya. Jangan sok jual mahal, berapa harga kamu?" Ucap Bisma membalikkan keadaan.
"Harga saya nyawa bapak, gimana dong?" Jawab Luca tanpa gentar sedikitpun.
Bisma menarik paksa lengan Luca sampai gadis itu merasa sakit.
"Saya bisa aja cium kamu sekarang."
"Emang bisa?" Luca menendang aset masa depan milik Bisma sampai lelaki itu melepaskan Luca karena merasa ngilu.
"Liat gimana gue permaluin lo nanti." Ancam Luca.
"Sebelum itu kamu sudah saya nikmati." Lelaki itu rupanya masih bisa menjawab.
Luca berbalik, ia harus keluar dari ruangan ini secepatnya. Bisma meraih gunting yang tadi terjatuh, ia sangat ingin meembuat luluh keangkuhan gadis itu dengan cara apapun.
Braaakkk!!
"Luca." Lelaki itu menatap sosok Bisma yang sudah berada di lantai.
"Juan?"
.
.
.
.
Hay, author tetap usaha semangat meskipun karya ini menurun. Semoga kalian tetap stay di cerita ini.
Author juga sudah merapikan beberapa bab awal agar lebih baik. Tapi belum selesai semua☺