FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 97 • Mau Magang, Bukan Perang



Selepas sarapan, Moza berpamitan pada kakek Suryatama, pria tua itu mengangguk dan tersenyum pada gadis yang sekarang menjadi kesayangannya itu.


Bahkan rasa sayangnya pada sang cucu menantu seperti mengalahkan rasa sayangnya pada cucunya sendiri.


Sekarang Hega menjadi yang kedua, tapi tak apa, toh saingannya adalah istrinya sendiri. Ia tak masalah jika semua orang lebih menyayangi gadis itu, toh baginya Moza juga adalah yang paling utama baginya.


" Momo berangkat ya, Kek. "


Kakek Suryatama mengusap kepala Moza, " Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan pada kakek. Kakek yang akan mengurusnya. " Moza hanya mengangguk, karena gadis itu tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan kakeknya.


Beralih pada suami tampannya yang berdiri bersandar di dinding, Moza berjalan mendekati pria yang sedari tadi memasang wajah cemberut itu. Diraihnya telapak tangan pria itu dan menciumnya dengan takzim.


" Kak, aku berangkat ya. Sampai ketemu sore nanti. " Pamitnya.


Tidak langsung merespon, pria itu hanya menatapi wajah istrinya dengan tatapan memohon. Telapak tangannya langsung menggenggam erat tangan mungil istrinya dan menariknya hingga tubuh sang istri merapat padanya, merengkuh sangat erat pinggang istrinya seolah tidak mau melepaskan gadis itu pergi.


" Aku antar ya, sayang. " Pintanya setelah beberapa saat terdiam, permintaan yang ia ucapkan untuk kesekian kalinya.


Moza menggeleng, " Arahnya berbeda dengan kantor kakak, aku diantar Pak Bakti saja ya. Kita kan sudah sepakat begitu, kak. "


" Hari ini saja, sayang. Besok kamu baru diantar Pak Bakti. " Suara bass yang biasanya tegas itu terdengar melemah.


" Kak. "


" Aku janji tidak akan---. "


Moza menggeleng lagi, " Ssstttt. . . Kakak sudah janji loh kemarin. "


Yah memang saat tahu istrinya akan menjalani masa magang, Hega sempat begitu penasaran dimana istrinya itu akan magang selama sebulan.


Semalam bahkan Hega terus berusaha mengorek informasi di perusahaan tepatnya istri cantiknya itu akan magang.



Moza berjalan menuju ranjang, meninggalkan suaminya yang sedari tadi mengekorinya dengan rengekan manjanya.


Menarik selimut dan menata bantal kemudian membaringkan tubuhnya di benda persegi yang nyaman.


Hega masih mengekori istrinya, ikut berbaring di sebelah sang istri dengan posisi miring menumpu kepalanya dengan tangan.


" Yank. "


" Sudah ihh, kak. Jangan pancing-pancing aku terus, aku nggak akan kasih tahu dimana aku magang. " Dumal Moza saat suaminya itu tengah kembali merengek dengan mata penasaran dan terus bertanya tentang nama perusahaan tujuan magangnya istrinya.


" Kenapa sih kok aku nggak boleh tahu, hm. "


" Pokoknya nggak boleh, aku tuh mau menjalani masa magangku dengan damai. " Ucapnya sembari menarik selimut sampai sebatas perutnya.


" Hish, memangnya kamu pikir aku akan melakukan apa, hm ? "


Moza mengedikkan bahunya, " Entahlah, aku tidak tahu. Hanya saja aku merasa akan terjadi sesuatu diluar dugaanku jika kakak tahu dimana aku magang. Apalagi setelah aku tahu banyak hal yang terjadi padaku atas campur tangan keluarga kakak. Iihhh, aku nggak mau hal itu juga terjadi pada masa magangku. "


" Sayang. " Hega menjatuhkan kepalanya di bantal, tangannya merengkuh pinggang istrinya dan menariknya hingga tubuh keduanya merapat.


Moza mendesah pelan kemudian mendongak dan mengelus pipi suaminya, " Kak, setidaknya biarkan aku menjalani masa magangku yang singkat ini tanpa ada campur tangan dari keluarga kakak. " Moza menurunkan intonasi suaranya memohon pengertian sang suami.


Meskipun nyatanya perusahaan magangnya pun juga sebenarnya adalah pengaturan sang papa yang tentunya atas perintah kakek Suryatama.


Moza masih menduga hal tersebut, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mengajukan tempat lain ke kantor akademik pun sudah ia lakukan meskipun hasilnya nihil.


Moza menggeleng, " Hanya satu bulan kok, kak. Dan itupun tidak akan mengganggu intensitas kebersamaan kita kita. Kita masih ketemu tiap hari ini, hanya mungkin untuk sementara kita tidak akan bisa makan siang bersama. Anggap saja aku kan sedang kuliah full time. " Menarik kedua sudut bibirnya, berusaha memberikan senyum terbaiknya agar suaminya tak lagi mendesaknya.


" Dan aku minta kakak tidak bertanya apapun pada siapapun tentang tempat magangku. "


Alis Hega tertarik sedikit ke atas, bibirnya sudah sedikit terbuka hendak protes tapi kembali disela oleh istrinya.


" Kalau kakak melakukannya, aku akan marah. "


Glek


Hega menghela nafas berat, kali ini pria itu harus benar-benar menuruti keinginan istrinya. Lagipula bukankah ia sudah berjanji akan memberikan apapun untuk sang istri, menuruti semua kemauan istrinya. Menjadikan gadis itu ratu yang harus selalu ia prioritaskan keinginannya, asal bisa membuat gadisnya itu bahagia.


Moza menatap suaminya, menunggu jawaban. Dan senyum merekah di bibir peachnya saat mendapati anggukan kepala sang suami.


" Terima kasih, kak. " Moza mengecup singkat bibir suaminya. Kemudian menenggelamkan wajahnya di dada sang suami membalas pelukan hangat suaminya.



" Kak--- Kak Hega. "


" Ahh, iya, yank. " Hega terkesiap saat merasakan lengannya digoyang pelan oleh istrinya.


" Melamun apa ? Ini sudah jam 7 lewat loh, aku berangkat ya. Kakak kan juga harus ke kantor. "


" Tapi, yank--- " Wajah Hega kembali memelas, tidak memperdulikan jika ekspresi wajahnya itu tengah menjadi bahan ghibahan para maid di kediaman utama itu.


" Sudahlah, sayang. Biarkan saja suamimu itu, sana kamu berangkat saja, nanti terlambat. " Suara sang kakek mendistraksi drama pagi sepasang suami istri itu.


" Dan kamu, Hega. Jangan kekanakan begitu, istrimu itu hanya mau berangkat magang, bukan mau perang. Ck. " Hardik Suryatama kemudian berbalik meninggalkan ruang keluarga dimana kedua cucunya seolah sedang syuting drama korea saja.


Hega menatap malas kakeknya yang terlihat tak membelanya, belum lagi pria tua itu ikut-ikutan memanggil istrinya sayang. Benar-benar bikin mood terjun bebas, apalagi kakeknya itu juga menolak memberikan informasi apapun perihal magang istrinya.


Saat Hega bertanya pada kakeknya semalam, jawaban kakeknya benar-benar membuatnya mati gaya.


" Kakek tidak akan memberi tahu, kamu tanya saja istri kamu. Lagipula kenapa kamu cemas begitu, seolah istri kamu akan magang di bulan saja. Ahhh, atau kamu cemas karena takut ada yang naksir istri kamu, hah ? Wajar sih kamu insecure seperti itu, selain wajah kamu, tidak ada yang bisa dilirik darimu. " Suryatama melirik sekilas cucunya dari balik kacamata baca yang bertengger di hidungnya.


Belum sempat Hega buka suara, sang kakek kembali mencercanya.


" Makanya perbaiki sifat kamu itu, di luar sana banyak pria yang sepertinya lebih baik untuk Moza daripada pria menyebalkan sepertimu. Ck, kakek menyesal menjerumuskan gadis sebaik Moza menikah dengan kamu. " Sinis pria tua yang tengah membaca koran di tangannya itu, pria itu mengomel bahkan tanpa menatap wajah cucunya yang sudah sangat masam.


" Kakeekkk. "


" Ck, sudah keluar sana. Menganggu saja, datang-datang kalau ada maunya saja, dasar cucu kurang ajar. " Hardik kakek Suryatama yang tentu saja hanya candaan semata.


" Ck. " Hega hanya berdecak, kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja kakeknya tanpa pamit, benar-benar definisi cucu durhaka bukan ?


Sedangkan kakek Suryatama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya, pria tua itu terkekeh melihat ekspresi masam cucu kebanggaannya itu.


Hega adalah satu-satunya alasan terbesar bagi Suryatama bertahan di dunia. Melihat kebahagiaan cucunya itu adalah satu harapan terbesarnya dan semoga Tuhan memberikan ia kesempatan untuk itu.


***


...Kakek Surya, sehat terus ya, tunggu cicit coming soon....


...Doain kakek panjang umur ya man teman....


...Met Puasa semuanya sehat selalu 🤗...