
Ada sedikit rasa bersalah dalam hari Hega, apakah sikap posesifnya pada sang istri selama ini terlalu berlebihan ?
Apakah tanpa sadar, Hega telah membatasi ruang gerak dan kebebasan istrinya ? Sungguh bukan seperti itu maksud dari sikap posesifnya selama ini.
Hega hanya ingin menikmati kebersamaan bersama gadis yang paling dicintainya.
Selama 27 tahun hidupnya, ini adalah kali pertama Hega merasakan cinta pada seorang wanita selain ibunya, pria itu tentu tidak memiliki pengalaman apapun perihal hubungan antara pria dan wanita.
Yang dia lihat selama ini adalah bagaimana Bara ataupun Derka ketika bersama para kekasih mereka, dan tentu saja yang dilakukan kedua sahabatnya itu sama sekali tidak sesuai dengan karakter Hega.
Moza adalah gadis pertama dalam hidup Hega yang sanggup masuk begitu dalam ke lubuk hatinya. Menguasai hati pria itu sepenuhnya.
Dan apapun yang pria itu lakukan selama ini hanyalah mengikuti instingnya sebagai seorang pria yang ingin selalu menjaga seseorang yang paling dicintainya.
Tentu saja dengan selalu berada dekat dengan Moza adalah salah satu bentuk usaha Hega menjaga gadis tercintanya itu.
Tapi jika sikapnya itu justru membuat istrinya malah membatasi diri dan keinginannya, maka Hega tidak akan memaafkan sikap egoisnya itu.
" Tidak, bukan begitu maksudku, yank. Aku sungguh tidak bermaksud membatasi kamu. " Moza bisa merasakan suaminya tengah menggelengkan kepalanya di pundaknya.
" Tidak apa, kak. " jemari Moza masih bermain di rambut suaminya, memberi kenyamanan pada suaminya.
Hega mengangkat wajahnya, menarik kedua bahu istrinya dan membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. " Kalau kamu mau kuliah lagi, aku akan mendukungmu, kan aku juga bisa ikut dengan kamu dimana pun kamu berada, hm. Lagipula di Paris juga ada cabang perusahaan kita, jadi aku bisa mengurus perusahaan dari sana sekaligus menemani kamu. "
Senyum indah itu masih menghiasi wajah cantik Moza. Gadis itu sungguh merasa bersyukur karena Hega lah yang menjadi suaminya.
Pria penuh kasih sayang dan cinta, meskipun kadang kala suaminya itu bisa dibilang berlebihan dalam mengekspresikan cinta dan perhatiannya. Sepertinya Moza memang harus membiasakan diri tentang hal yang satu ini.
Tapi Moza tetap bersyukur, karena diluar sana tidak sedikit kan pria yang cuek pada pasangannya. " Kita bahas nanti saja kalau kuliahku yang sekarang ini sudah selesai ya, kak. " Ucap Moza dengan posisi masih berada di pelukan suaminya.
" Hm. Oh iya, lusa ada undangan pesta, yank. Kamu mau menemani suamimu ini, kan ? "
Moza langsung melepaskan diri dari dekapan suaminya. " Pesta ? "
" Hm. "
" Tapi lusa ada puncak acara KSM, kak. "
" Masih belum selesai juga kegiatannya ? Kamu masih mau pergi lagi ? Kenapa tidak diselesaikan sekalian sih ? Kenapa harus bolak-balik ? " Hega memberondong istrinya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Hega itu tampak kesal, bagaimana tidak kesal, baru juga temu kangen, masa mau ditinggal lagi.
Meskipun seminggu kemarin mereka tidak benar-benar berpisah sih. Hanya tidak bertemu secara langsung saja, karena Hega kan masih bisa melihat istrinya dari jauh, meski tidak bisa menyentuh, memeluk, dan mencium.
Aaaahhh, kalau istrinya tidak mengeluh lelah setelah perjalanan sih, sudah Hega terkam sejak tadi istrinya itu saking kangennya.
" Tinggal acara lelang amal saja, kak. Acaranya di kampus kok, dan itupun tidak akan lama, mungkin sekitar dua jam. "
Hega langsung sumringah dan jelas merasa lega, ia kira istrinya mau pergi lagi. Bagaimana nasib proyek si bebi kalau istrinya ini pergi-pergi terus.
" Oh, memang apa saja yang dilelang ? Sini biar aku beli semua, biar cepat kelar acaranya, kalau perlu tidak usah diadakan segala acaranya. " Hmmm, kalau cucu sultan sudah bicara gini, roman-romannya beneran mau borong semuanya.
Ini baru cucunya loh, belum sultannya, kan sultan aslinya kakek Suryatama, bisa-bisa bukan hanya barang lelang yang diborong, kampusnya pun dibeli kalau perlu. Ehhh, tapi kan itu kampus memang kepunyaan kakek, kan ?
" Hish, mana bisa begitu sih kak. " Moza melotot sebal dengan sikap suaminya yang seenaknya.
" Hehehe, iya iya, becanda sayang. Mau aku temani ? "
" Tidak usah, kak. "
Moza mendesah lirih, kenapa suaminya jadi manja sekali sih. " Ya ampun, kak. Cuma dua jam saja kok. Setelah acaranya selesai aku akan langsung ke kantor kakak, kita makan siang bersama. Gimana ? "
Mendengar tawaran istrinya, Hega tersenyum smirk. " Makan siang ? Di kantor aku, yank ? "
" Iya, nanti aku kesana bareng si Jul. " Jawab Moza, sepertinya gadis itu tidak menyadari maksud senyuman suaminya.
" Hhhh, kenapa harus dengan Julian ? Suami kamu ini yang akan menjemput kamu. "
" Astaga, masa dengan si Jul aja kakak cemburu sih ? "
" Kenapa ? Tidak boleh ? Dia juga laki-laki kalau kamu lupa, yank. "
" Ck, siapa bilang si Jul perempuan sih ? Lagipula si Jul itu panitia acaranya, kak. Jadi dia juga akan ada disana nanti, sekalian saja aku ke kantor kakak bareng dia, kakak nggak perlu repot menjemputku. "
" Nggak repot, yank. Orang aku jemput istri aku sendiri kok. Repot dimananya coba ? " Hega masih tak mau kalah.
" Pokoknya enggak, memangnya kakak tidak ada pekerjaan apa ? Lebih baik tuh kakak tunggu aku di kantor, sambil istirahat kan bisa, nanti kita makan siang berdua. Hemat energi, kak. "
Hemat energi, hmm ? Sesuai permintaan kamu, yank. Aku simpan tenaga buat 'makan siang' di kantor. Hega kembali menyeringai, tentu saja arti makan siang yang ada di pikiran pria itu sangat berbeda dengan arti sebenarnya.
" Heh, apa maksudnya senyum aneh kakak ini, hmm ? " Moza menyentuh kedua sudut bibir suaminya dengan dua jari telunjuknya.
" Hish, senyum orang ganteng gini kok dibilang aneh. " Hega manyun, lagi mode merajuk dan itu malah membuat Moza terkikik.
" Iya, ganteng banget suami aku. Udah ya, jangan merajuk gini, jelek kan jadinya, senyum lagi gih. " Kedua telapak tangan Moza kini menguyel gemas pipi suaminya yang sedang pura-pura nggondok.
" Cium dulu, yank. "
Moza menggeleng heran, kapan suaminya akan normal sih ? Kemana wajah jutek Hega yang ada di ingatan Moza setahun lalu itu ?
Kenapa juga sekarang selalu mode kucing anggora yang manis begini, kan gemes lihatnya.
Meskipun begitu, Moza tetap menuruti kemauan suaminya, mendaratkan bibirnya di tempat yang diinginkan sang suami, yaitu di bibir yang sedang sedikit manyun menggemaskan itu.
Dan tidak akan pernah cukup hanya sebuah kecupan untuk seorang Hega, pria itu akan selalu meminta lebih. Dengan cekatan kedua tangannya menarik pinggul Moza, dan membawa tubuh istrinya duduk di atas pangkuannya. Tangan kekarnya mengunci punggung dan belakang kepala Moza agar istrinya itu tidak bisa kabur darinya.
" Kaakkkmmmphhhh. . . " Moza berusaha protes disela l*mat*n suaminya.
" Cium aja, yank. Aku janji nggak akan minta lebih, hmmm. Aku kangen banget, yank, mmmhhh. " Hega kembali memagut bibir tipis istrinya, mencecap manis bibir yang selama satu minggu ini tak bisa dirasakannya. Tangannya menahan tengkuk Moza, dan tangan lainnya mengusapi punggung gadis itu.
Keduanya saling menyalurkan rindu, mata Moza sudah terpejam erat, dengan kedua tangannya melingkar di leher suaminya, pertanda jika gadis itu juga menikmati apa yang mereka lakukan.
" Eungghhh. " Nafas Moza bahkan mulai tersendat, dadanya naik turun dengan deru nafas memburu.
Hega melepaskan sejenak tautan bibirnya, memberi jeda istrinya untuk mengambil udara. Tangannya yang berada di belakang kepala Moza terulur membelai pipi istrinya yang merah merona. Hingga mata beriris kecoklatan itu perlahan terbuka, mata sayu istrinya kembali membuat Hega tergoda untuk kembali menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.
Dengan perlahan Hega kembali menarik kepala istrinya, mendaratkan ciuman lembut di bibir Moza yang sudah sedikit membengkak karena ulahnya. Tapi kali ini Hega memberikan sensasi berbeda dengan memberikan ciuman yang sengaja dibuat patah-patah, agar istrinya bisa kembali bernafas normal pasca ciuman panjang dan dalam mereka sebelumnya.
Tidak hanya Moza saja yang nafasnya menderu, bahkan Hega ssndiri juga nyatanya mengalami hal serupa. Tapi hal itu tak lantas membuat Hega ingin menghentikan kegiatannya menikmati rasa manis bibir istrinya.
Disela nafasnya yang senin kamis itu, Hega masih ingin terus merasai hingga puas bibir tipis istrinya, toh hari ini tidak akan ada jatah ekhem untuknya. Jadi anggap saja ini kompensasi atas kesabarannya.
Meskipun Hega harus sekuat tenaga menjaga kewarasannya agar tidak sampai mengingkari janjinya untuk membiarkan istrinya istirahat hari ini tanpa ritual intim, meskipun dibawah sana nyaris tidak bisa diajak kompromi. Sepertinya lagi-lagi Hega harus berakhir mandi air dingin untuk menenangkan si garfield.
***
Sabar ya Bang Hega, masa tiap chapter mau adegan ekhem melulu mentang-mentang mau gass bikin yang unyu-unyu. 😑