
Setelah berhasil menyelamatkan Moza. Fabian memutuskan membawa Moza ke mansion pribadinya yang ada di pinggiran kota.
Area pribadi yang tidak bisa terjamah oleh sembarang orang. Bahkan oleh keluarganya sekalipun. Siapapun harus mendapat ijin darinya jika ingin menginjakkan kaki di tempat itu.
Hari itu saat mengetahui jika dalang penculikan Moza, dengan membabi buta Fabian membabat habis pria bernama Raditya yang telah berani menyakiti gadis paling berharga Fabian.
Namun kematian dirasa adalah hal yang terlalu ringan untuk Raditya. Hingga dengan kekuasaannya, Fabian mengirim pria itu ke tempat yang asing. Dimana Raditnya dipastikan akan mati perlahan.
Jangankan Raditnya, Fabian bahkan dengan tanpa perasaan mengasingkan wanita yang menjadi sekutu Raditnya. Meskipun dalam tubuh wanita itu mengalir darah yang sama dengannya.
Bian tidak melunak sedikitpun, bahkan ketika ayahnya datang memohon pengampunan untuk putrinya, Alsena.
" Tolong untuk kali ini saja, lepaskan Sena. Bagaimanapun dia juga adalah kakakmu, Bian. "
Fabian mendengus, menatap dingin pria yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
" Cih, siapa yang Dad sebut kakakku, heh ?! " Ucapnya menghunus dengan angkuh menatap pria paruh baya di hadapannya.
" Kakak Bian hanya satu yaitu Kak Brian. Wanita itu bukan siapa-siapa. Jangan menyebutnya sebagai kakak Bian hanya karena dalam tubuhnya mengalir darahmu, Dad ! She's just your illegitimate daughter, Dad. " Imbuhnya sarkas.
" Bian, jangan keterlaluan kamu !!! "
" Whatever. Kalau Dad kesini hanya untuk membujuk Arsen untuk melepaskan wanita itu, maka lebih baik Dad menyerah saja. "
Pria itu terdiam, mencari cara membujuk putranya. Tapi hendak kembali bersuara, mulutnya langsung terkatup saat mendengar kalimat mengancam dari putra kebanggaannya.
" Atau Dad lebih memilih Bian mengirim jenazahnya saja, hm ?! " Santai tapi benar-benar mengintimidasi.
Pria yang pernah menjadi penguasa tertinggi keluarga Graham itu akhirnya hanya bisa menyerah atas keputusan putranya. Tuan Besar Graham itu sudah tidak bisa berkutik lagi dihadapan putranya.
" Lalu apa yang kau rencanakan terhadap gadis itu ? Apakah kau akan mengembalikannya pada keluarganya ? "
" Its none of your business, Dad. "
" Kau harus ingat kalau gadis itu tidak pantas untukmu, Bian. Gadis itu sudah bersuami. Masih banyak gadis yang lebih pantas bersanding denganmu. "
" Jangan ikut campur urusan Bjan, Dad ! "
Pria paruh baya itu menghela nafas, sepertinya putranya ini sedang tidak bisa diajak bicara baik-baik.
" Dad akan datang lagi saat kau sudah tenang. Tapi Dad harap kau pertimbangkan permintaan Daddy. "
Fabian hanya mendesis meremehkan, mau setenang apapun pikirannya. Fabian tidak akan pernah melepaskan wanita yang sudah berani menganggu teritorinya.
Apalagi wanita itu telah berani nekat berniat membunuh gadis yang sangat Fabian cintai.
Jangankan saudara tiri, saudara kandungpun akan Fabian bereskan jika ini menyangkut Moza Artana.
Siapa yang yang berani menyentuh seorang Fabian Arsen Graham ?
Fabian menyesal kenapa dirinya tidak menyelidiki secara detail perihal gerak-gerik janggal Sena yang dilaporkan bawahannya dua minggu terakhir ini.
Pikirannya yang kacau akhir-akhir ini membuatnya tidak fokus pada apapun.
Jika saja dari awal Fabian menindaklanjuti laporan asistennya tentang Sena. Mungkin sudah sejak lama Fabian mengetahui keberadaan Moza yang tengah diculik.
Tapi untung saja Fabian langsung bergerak cepat saat orang kepercayaannya melaporkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Sena.
Jika saja ia terlambat sedetik saja, bisa jadi Fabian hanya akan menemukan jasad gadis itu tertembak oleh peluru.
Dan betapa sakit hatinya saat mendapati Moza dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan beberapa luka memar di bagian tubuhnya.
Namun disisi lain Fabian tidak bisa mengelak dari rasa bahagia yang menggelitik hatinya.
Saat Fabian hampir gila karena rasa frustrasi kehilangan gadis itu untuk pria lain. Justru takdir mempertemukan lagi Fabian dengan gadis itu membuat Fabian berfikir jika mungkin masih ada kesempatan untuknya memiliki Moza.
Sisi egois Fabian menguasai dirinya, membuatnya lebih memilih menyembunyikan gadis itu dalam kuasanya.
Bahkan Fabian tidak peduli pada suami ataupun keluarga Moza yang tengah dirundung kesedihan dan kecemasan atas insiden menghilangnya gadis itu.
Ditambah lagi kondisi terbaru Moza yang membuat Fabian semakin dilema.
" Tuan Arsen, Nona ini---. " Dokter pribadi yang memeriksa Moza tampak gemetar. Siapapun pasti akan gentar jika berhadapan langsung dengan sosok Fabian yang memancarkan aura dingin dan menakutkan.
" Kenapa ? Ada apa dengan nya ? Kenapa dia tidak segera sadar juga ? "
" Sepertinya selain tekanan mental, kondisi nona ini melemah karena---"
Fabian mengeram marah, " Jangan membuatku menembak kepalamu karena bicara berputar-putar. "
" This lady seems to be pregnant. "
Tiga hari berlalu, Fabian dengan setia menjaga Moza tanpa lelah. Fabian juga mempekerjakan dua maid khusus yang bertugas menjaga kebersihan Moza yang masih terbaring lemah di ranjang besar bernuansa biru muda itu.
Fabian sama sekali tidak berniat beranjak dari kamar Moza, pria itu bahkan mengerjakan semua pekerjaannya di sana.
Duduk di sofa tak jauh dari ranjang, dan hanya akan keluar untuk membersihkan diri atau saat maid membersihkan tubuh gadis itu.
Hingga akhirnya setelah penantian panjangnya, Fabian yang sedang memeriksa berkas melalui emailnya mendengar samar suara dari arah ranjang.
" Eughh.... "
Pria itu reflek meletakkan asal tab di tangannya dan berjalan mendekati ranjang.
" KAK HEGA. " Moza tersentak dari posisi tidurnya dan kedua matanya menyusuri ruangan mencari sosok yang baru saja disebutkan namanya.
Tentu saja hal itu membuat hati Fabian terasa teriris.
" Bi-an ?! " Ucap Moza saat mendapati sosok yang dikenalnya tengah duduk di pinggiran ranjangnya.
" Iya ini aku. "
" Bian, aku ada dimana sekarang ? "
" Kamu ada di tempatku. Kamu sudah aman sekarang. " Mengabaikan sakit di hatinya, Fabian tetap berusaha memberikan senyum terbaiknya agar Moza merasa nyaman dengannya.
Tapi apa yang terucap dari bibir Moza kembali membuka luka dan kecewanya.
" Aku harus pulang. Ayah dan bunda pasti cemas mencariku, dan Kak Hega juga pasti sangat khawatir. Bian, tolong bantu aku kembali ke rumah. Aku.... auwwhh..." Moza moncoba bangkit dari ranjang, tapi tubuhnya terasa lemas dan kepalanya terasa berat.
Dengan sigap Fabian menangkap kedua bahu Moza yang limbung hampir terjatuh. " Kamu tidak akan pulang. " Jawab Fabian dingin.
Moza mendongak lemah, " A-apa maksudmu ? "
" Kamu akan tetap disini, bersamaku. Aku tidak akan mengembalikanmu pada suamimu, aku akan membuat kalian berpisah. "
" Ja-ngan ber-canda, Bian ! Itu ti-dak lucu. "
" Sejak kapan Bian yang kamu kenal akan bercanda tentang hal seperti ini ?! "
Fabian membantu Moza bersandar di kepala ranjang, menarik selimut sebatas perut Moza. Kemudian kembali duduk di tepi ranjang Moza.
Satu tangannya terangkat dan mencoba menyentuh pipi Moza. Namun Moza dengan cepat menghindari sentuhan Fabian dengan mengalihkan wajahnya.
Satu lagi luka menggores hati Fabian, penolakan Moza membuatnya harus kembali menelan kecewa. Tapi kali ini Fabian memilih bertahan.
" Aku akan menunggu. " Ucap Fabian dengan nada kembali lembut, sambil menarik kembali tangannya yang mengambang di udara.
Moza kembali menatap Fabian, " Apa yang mau kamu tunggu ? "
" Hatimu, perasaanmu. Aku akan menunggu itu menjadi milikku. "
......................
Sebenernya ingin nampol Fabian sih, tp beneran gak tega. Dia itu sadboy parah, cinta mati sama Momo.