
...☆☆☆...
Akhirnya setelah perjuangan yang cukup melelahkan, disinilah mereka berada. Menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki sembari bergandengan tangan.
Moza berhasil menaklukkan singa bucinnya agar menuruti kemauannya yang sebenarnya sudah dari dua hari yang lalu dimintanya.
Bukan hanya lelah fisik yang dirasakannya dalam usaha membujuk dan merayu suaminya, namun juga lelah secara mental.
Bagaimana tidak ?
Moza harus berusaha bersikap semanis mungkin untuk meluluhkan suaminya yang kekeuh ingin mengurungnya di dalam kamar saja.
~ Flashback ~
Tekad Moza sudah bulat untuk membuat sang suami menuruti kemauannya. Gadis itu kembali membuka matanya, memasang wajah imut yang sebenarnya. Dan inilah yang dimaksud lelah mental bagi gadis itu, karena nyatanya bersikap imut dan manis benar-benar jauh dari karakternya.
Meskipun harus menahan geli pada tingkahnya sendiri, tapi Moza tetap berusaha melakukannya dengan semaksimal mungkin agar tujuannya tercapai.
" Kak, sampai kapan kita akan menghabiskan waktu hanya di kamar saja seperti ini si ?! "
Sebelah alis Hega terangkat, " Kenapa ? Kamu tidak suka ? "
" Bukannya begitu, aku suka kok tapi.... " Lirihnya sambil menundukkan wajahnya, sepertinya penyusunan kalimatnya ada yang tidak beres.
Ah dasar kenapa aku malah bilang suka segala. Meskipun benar si kalau aku suka. Aaahhh gila, Bagaimana jika kak Hega salah menangkap maksud ucapanku dan tidak mau melepaskanku dari kamar bak istana tapi terasa di penjara ini. Aku kan bosaaaannnn...
Hega kembali mengintip wajah istrinya, " Lalu apa masalahnya, hem ? "
Moza reflek mendongakkan wajahnya, " Aku bosan kak. " Jawabnya cepat.
" APAAAA ?! "
Moza tertegun sejenak menatap wajah suaminya yang berubah bikin merinding.
Eeehhh, kok ekspresinya berubah mengerikan begitu si, meskipun tetap tampan si. Gadis itu menelan ludah, apa dia salah bicara hingga suaminya kelihatan marah begitu ?
Bugh. . .
Dan saat tersadar Moza reflek memukul tubuh pria yang masih menatapnya dengan tajam itu.
" Kenapa kakak malah teriak si ? Mengagetkan aku. " Protes Moza seraya memukul pelan dada bidang suaminya, " Dan kenapa kakak memelototi aku begitu ?! " Rengeknya lalu bangkit menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, tak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Hega ikut bangkit, mengikuti pergerakan istrinya, " Siapa yang memelototi kamu, sayang ? " Bujuk Hega lembut sembari mengusap kepala istrinya, tatapan matanya pun perlahan melembut.
" Itu tadi kakak melotot padaku dan berteriak juga. " Lirihnya dengan wajah murung.
" Aku sungguh tidak memelototi kamu sayang, maaf kalau kamu melihatnya begitu, aku sungguh tidak sengaja. " Bujuknya lagi.
" Dan soal teriak, aku juga minta maaf, hem. Aku keceplosan tadi, yank. " Mengusap pipi istrinya lembut.
Istrinya masih diam tak menjawab.
" Maaf ya sayang, jangan diam saja gini dong. Aku hanya kaget saat kamu bilang kalau kamu bosan padaku. Makanya aku reflek berteriak. " Sambungnya beralasan, membuat sang istri kembali menatapnya dengan ekspresi heran.
Ya ampun kapan aku mengatakan itu si ?
Belum sempat protes suaminya kembali menyela, " Kita baru beberapa hari menikah dan kamu bilang sudah bosan padaku ? "
Cubit.
" Dasar, kapan aku bilang begitu kak ? " Omelnya setelah berhasil mencapit salah satu roti sobek suaminya dengan jemari lentiknya.
" Auwwhhh. . . Kok malah nyubit si, yank ?! " Meringis menahan ngilu, cubitan istrinya ini memang tak main-main rasanya, belum lagi jika cubitannya diputar, ampun nyerinya.
" Habisnya kakak sembarangan ngomongnya. Kapan aku bilang kalau aku bosan pada kakak si ??? " Geram Moza frustrasi.
" Tadi tuh kamu bilang begitu, aku tidak tuli Momo sayang. " Cup, satu kecupan mendarat di hidung bangir gadisnya.
" Ihhh, jangan cium-cium. " Mengusap kasar hidungnya dengan satu tangan, tangan lainnya menahan selimut di dadanya.
" Biarin, aku nyium istri aku sendiri ini. Dan jangan coba mengalihkan pembicaraan untuk membela diri. "
" Iihh, siapa yang mengalihkan pembicaraan si ? Aku memang nggak bilang gitu. "
Pria itu mencondongkan wajahnya, " Bohong sama suami dosa loh, yank. "
" Aku memang bilang kalau aku bosan--. "
" Tuh kan kamu ngaku--. "
" Iihhh, jangan memotong ucapanku, kak ! "
" Oke, sorry my wife. "
" Aku memang bilang kalau aku bosan, tapi bukan bosan pada kakak. "
" Terus ? "
" Aku bosan terus berada di dalam kamar saja. Ayo kita jalan-jalan keluar, kak. " Rengek Moza seraya mendaratkan kepalanya di dada suaminya.
" Tidak mau, aku suka menghabiskan waktu berduaan denganmu di kamar. " Kembali memeluk erat istrinya.
" Kak ayo kita ke pantai ya ya ya... " Moza masih berusaha membujuk suaminya sambil mengintip wajah suaminya.
" Nanti saja " Jawabnya enteng setelah berhasil mengecup singkat bibir mungil yang menjadi candunya itu.
Moza mencebik, kemudian meronta dan kembali merengek manja, " Nanti saja itu kapan ? Sampai bulan madu kita selesai ? "
" Mungkin. " Lah, enteng bener jawabnya.
" Kak, kita kan sudah jauh-jauh datang kesini setidaknya ayo kita nikmati pemandangan pantainya ya. Masa hanya dihabisnkan di kamar terus si ?! " Masih belum mau menyerah.
Tekadnya sudah sangat bulat untuk bisa keluar menikmati alam bebas. Pantai yang disukainya, bermain pasir dan ombak, menunggu sunset dan ahhh, masih banyak lagi rencana di kepalanya ingin melakukan apa di pantai nanti.
" Ya memang kita kan kesini untuk bulan madu, ya dihabiskan dengan berduaan di kamar dong. "
Hei, jawaban macam apa itu kaaaak ? Manik mata Moza membelalak tak percaya dengan alasan suaminya yang terkesan semaunya saja.
" Mana ada aturan seperti itu, bulan madu dihabiskan di kamar saja, huh ?! "
" Ada, aturanku. Kan memang itu tujuannya bulan madu. "
Lah, kok makin seenak jidatnya si ?
" Apa ? "
" Supaya segera hadir Hega junior di dalam sini. " mengelus perut rata Moza, " Kita kan sedang nyicil ngerjain 'proyek cicit' untuk kakek. " Imbuhnya kemudian.
Glek. . . Merona susah wajah putih Moza, kenapa harus bahasannya tidak jauh-jauh dari urusan ranjang si ????
Aaarrrrgghhhh.... Sabar Momo, ayo pasang wajah manis manjamu, takhklukkan suami bucinmu ini....
Inhale. . .😮
Exhale. . . 😤
" Kaaaakkk... " Suara manja Moza kembali terdengar menggoda di telinga Hega.
" Hmmmm.... " Tapi pria itu mencoba menahan diri agar tak terburuk rayuan istrinya.
" Kak Hega " Jemari tangannya tanpa sadar bermain-main di dada bidang suaminya. Berputar-putar disana membentuk pola abstrak.
" Hmm..." Pria itu nyaris runtuh imannya mendengar suara istrinya yang terdengar semakin manja, ditambah sentuhan tangan istrinya. Tapi tetap masih berusaha menahan diri.
Moza mencebik kesal karena usahanya sepertinya tak membuahkan hasil. Huft, the last try.
" Suamiku sayang..... " Semakin manja dan menggoda.
" Hmmm... " Sok cool tuh, padahal aslinya udah ingin menerkam kembali istrinya yang tiba-tiba sangat nakal, menggoda hasratnya, walaupun gadis itu sepertinya tak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Moza menunduk dan endesah kecewa, sepertinya usaha terakhirnya juga tak membuahkan hasil.
Sedangkan Hega malah mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar, kemudian memejamkan matanya erat dan menghela nafas.
Tapi baru satu tarikan nafas, seolah ada sesuatu yang tidak beres, dengan cepat membuka matanya dan menatap manik mata istrinya. Sepertinya pria baru sadar akan sesuatu.
Hega sedikit terjengkit, " Eh... kamu bilang apa barusan ? "
Yes... Kena kakak... Moza bersorak senang dalam hati karena ternyata si singa masuk jebakan si kelinci. 😏
Moza mendongakkan wajahnya, " Apa ? Aku tidak bilang apa-apa tuh. " Jawab Moza dengan gaya acuh polosnya, tentu saja ia hanya pura-pura lupa.
" Jangan membohongiku, jelas-jelas kamu panggil aku dengan sebutan 'suamiku sayang', hem. "
Cihhh... Kalau kakak dengar kenapa masih tanya. mau mengerjaiku ya ?! Dasar. 😗
" Eh kapan aku bilang gitu ?! " Kelitnya sambil membuang muka menatap ke arah lain.
" Tadi, ayo katakan lagi ! " Menangkup pipi istrinya agar menatapnya.
Gadis itu kembali melengos, " Tidak mau. "
" Ayo panggil aku dengan sebutan 'sayang', hem. " Pinta Hega memelas, sembari menjatuhkan kepalanya di bahu kanan istrinya.
" Tidak mauuuu...." Masih menolak dengan nada sebal tak lupa menggoyangkan bahunya yang menjadi sandaran kepala suaminya.
" Aku akan mengabulkan apapun maumu. " Bisiknya parau di telinga istrinya.
Yes... I win. 😏
" Benarkah ?! " Diam-diam menyeringai puas.
" Tentu saja. " Jawabnya sambil memeluk erat istrinya, dengan dagu masih bersandar di bahu istrinya.
" Kakak tidak akan ingkar janji, kan ?! "
" Iya, sayang. Nah ayo katakan lagi yang tadi. Panggil aku sayang, yang mesra, dan manja. "
Hih, banyak maunya.
Moza menghirup oksigen sebanyak mungkin, kemudian tersenyum menatap suaminya dengan lembut, " Suamiku sayang. . . " Ucapnya dengan sangat manja dan mesra, ditambah sebuah usapan lembut jemari Moza di pipi kiri suaminya.
Serangan telak yang dipastikan tak akan bisa ditolak oleh pria yang menatap istrinya penuh damba.
~ Flasback End ~
...--------------------------...