
Ruang divisi keuangan yang biasanya tenang dan tentram nampaknya hari ini sedikit memanas suasananya.
Geovano tengah memberi peringatan tegas pada staffnya yang telah lalai dan hampir saja membuat seluruh divisi keuangan mendapat amarah dari sang Presdir yang terkenal perfeksionis dan tidak menerima kesalahan sedikitpun dalam urusan pekerjaan.
Apalagi itu adalah berkas yang sudah diminta oleh Sekretaris Presdir untuk disiapkan sejak satu minggu yang lalu.
Tentu lah Geovano harus menindak tegas si pembuat masalah. Meskipun pria itu tidak mengerti kenapa Anita meminta Moza yang mengantar berkas ke aula rapat utama.
Dan sekarang, Geovano semakin dibuat pening karena merasa bersalah dengan secara tidak langsung telah mendorong gadis itu ke dalam masalah.
Kembali ke aula rapat.
Berbeda dengan Geovano yang merasa ketar-ketir karena mengirim anak magang untuk mengirim berkas penting. Bukan karena tidak percaya dengan Moza.
Tapi Geovano hanya tidak mau membuat gadis itu berada di situasi rapat yang Geovano yakin situasinya sedang memanas mengingat bahasan rapat yang terbilang sensitif.
Entahlah, mungkin karena rasa itu masih ada, jadi Geovano tidak akan tega melihat gadis yang masih ada di hatinya itu menjadi target amukan Presdir.
Akan tetapi Anita justru malah merasa sebaliknya, wanita itu merasa situasinya aman dengan kehadiran Moza. Karena sejujurnya itu memang tujuan Anita meminta Geovano mengirim Moza untuk mengirim berkas, dengan alasan memberi pengalaman pada mahasiswa magang.
Padahal ada tujuan lain Anita melakukan itu.
Semua pasang mata lainnya justru menatap gadis itu lekat, mereka semakin gemetar cemas jika Presdirnya yang sedang dalam mode monster beruang kutub itu akan semakin mengamuk dengan kehadiran staff biasa yang menginterupsi rapat penting itu.
Apalagi gadis itu hanya staff magang, terlihat dari tag pegawai yang menggantung di lehernya.
Dan bukan tidak mungkin mereka akan semakin terkena imbasnya.
Tapi apa ini yang terjadi ? Bukannya murka tapi justru ekspresi sang Presdir malah tidak terduga.
Wajah dingin dan tatapan mata menyeramkan Presdir mendadak melembut dan hangat saat menatap gadis bermata coklat di hadapannya.
Sebuah lengkungan ke atas bahkan mulai tampak di kedua sudut bibir pria itu, meskipun teramat tipis dan samar.
Dan perubahan itu tentu saja langsung ditangkap oleh semua mata yang sedari tadi menatap dengan ekspresi cemas.
Dan kecemasan mereka berubah menjadi keterkejutan, ditambah nada suara Presdir yang begitu tenang dan entah kenapa justru terdengar manis.
Berbanding terbalik dengan ekspresi dan nada bicara yang mereka dengar beberapa detik yang lalu.
" Nona Artana, karena rapat sudah hampir selesai, sedangkan divisi nona baru menyelesaikan laporannya. Nkna bisa membawanya ke ruangan saya dan memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban secara langsung. " Titah Presdir dengan gaya cool nya disertai seringai tipis penuh arti.
What the hell ? Apa-apaan nada manis itu ? Sejak kapan pula Presdir Jutek mereka bisa menggunakan nada bicara selembut itu pada karyawannya.
Berbagai pertanyaan timbul di benak semua orang yang ada disana.
Ehhh.... Apa kakak bilang barusan ?! Ke ruangan kakak?! Tidak mau ! Lihat saja itu senyumannya ! Bisa-bisa aku tidak bisa keluar dengan selamat jika aku menuruti perintahnya.
" Dan jika nona tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal perihal kesalahan fatal team anda ini, siapkan diri anda untuk mendapatkan sanksi atas keteledoran yang sungguh tidak bisa ditolerir ini. " Seringai tipis kembali terukir di bibir pria itu.
Heh, enak saja aku yang dimintai tanggung jawab, ini kan bukan salahku. Aku cuma mahasiswa magang tau. Hish.
Moza semakin waspada melihat suaminya yang mulai kumat tingkah polah anehnya.
Jelas sudah jika pria itu tengah merencanakan sesuatu pada gadis yang masih berdiri mematung di hadapannya.
" Sayangnya saya tidak menerima alasan atas kesalahan sekecil apapun. " Sela Hega cepat, pria itu sedang tidak bisa menerima bantahan.
Apa-apaan ini ? Bukannya tadi kakak mengatakan pada mbak An untuk memintaku berhenti bekerja. Dan sekarang kenapa juga aku harus ke ruangan kakak, huh ?
Manik mata Moza membulat sempurna tanpa sadar menatap kesal ke arah suaminya. Seolah mengisyaratkan pada sang suami untuk menghentikan kegilaannya.
Tapi kan memang pria yang satu ini tidak mudah untuk dilawan.
Glek. . .
Semua orang semakin berkeringat dingin, beraninya si pegawai magang membantah perintah sang Presdir.
Semua mata mengamati kedua orang tersebut bergantian sambil menelan ludah mereka karena seketika merasa tenggorokan mereka seolah tercekat.
Disaat tidak ada satupu yang berani melawan kuasa seorang Hega Saint, gadis yang entah dari mana datangnya itu malah tampak begitu berani bertatap mata langsung dengan mata tajam Hega.
Padahal selama ini hampir tidak ada yang berani menatap langsung mata setajam elang yang sungguh membuat tertekan. Tatapan yang selalu berhasil memberi tekanan mental pada karyawannya yang memang dianggap tidak becus bekerja.
Semua pasang mata yang ada di aula itu masih menatap dengan ekspresi cemas, wajah gugup dan gemetar, khawatir jika mereka akan semakin terkena imbas kemarahan Presdir yang sudah terlihat memuncak.
Hanya Anita saja yang tampak tenang melihat kejadian tersebut, karena wanita itu sudah hafal betul bagaimana perubahan sang Presdir jika sudah berhadapan dengan istri cantiknya.
Anita sudah terlalu sering menyaksikan drama sepasang suami istri di hadapannya ini.
Anita menghela napas, sepertinya api amarah atasannya itu memang hanya bisa dipadamkan oleh sang nona. Dan ternyata menghadirkan sang Nona di aula rapat adalah ide yang brilian. Setidaknya Presdir yang sedang mode devil tadi langsung luluh oleh sang istri.
Hega hendak membalas ucapan Moza, gadis itu kembali mengulas senyum sewajarnya, agar tidak ada yang mengira dirinya sedang berusaha menggoda atasannya.
Bibir tipis berwarna peach itu kembali bersuara setenang mungkin, namun tetap memberi sedikit tekanan seolah tidak memberikan suaminya celah untuk mendebatnya.
" Jika Presdir menginginkan penjelasan, saya bisa menyampaikan pada kepala divisi kami, Pak Geovano, untuk segera menghadap anda. " Moza berusaha keras menahan ekspresinya, padahal dalam hati gadis itu ingin sekali memaki suaminya.
Bagaimana mau menjelaskan, isinya saja Moza tidak tahu. Ini kan bukan area kerjanya.
Sebuah seringai tipis kembali terukir di bibir pria itu, senyum yang terlihat mengerikan bagi semua orang yang ada disana.
Tapi Moza tahu betul apa arti senyum yang sedang menghiasi bibir suaminya itu, senyum kelicikan, tanda kekalahan bagi dirinya.
Dan Moza sepertinya harus siap untuk kalah lagi atas suaminya sendiri jika dirinya tidak menemukan celah untuk menghindari perintah yang hanya akal-akalan suaminya saja.
Tapi apa lagi alasan yang harus ia buat agar dirinya tidak perlu memasuki ruangan pria itu ? Sungguh rasanya konyol sekali berdebat seperti ini dengan suaminya di depan banyak orang.
Jika saja mereka hanya berdua, maka Moza akan terus meladeni ucapan suaminya seperti yang sering mereka lakukan, perdebatan mesra lebih tepatnya.
Namun saat ini situasinya tentu berbeda, Moza berada di posisi yang sebenarnya tidak pantas menyanggah perintah pria paling berkuasa di perusahaan tempat ia magang ini. Lalu bagaimana seharusnya ?
***
Bisa aja Bang Hega mancing istrinya ke kandang singa, emang cowok tuh ada aja akalnya kalau mau minta jatah.
,