FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 133 • Inhale . . . Exhale . . .



Moza masih terus memutar otak mencari jalan keluar, tapi kepalanya seketika dibuat blank ketika titah mutlak kembali keluar dari bibir pria yang tidak sedikitpun mengalihkan pandangan matanya dari dirinya.


" Tidak, saya mau Nona Artana yang menjelaskannya. Karena berkas itu nona yang membawanya kemari, jadi saya anggap nona lah yang bertanggung jawab atas isi laporan tersebut. " Hega tahu istrinya sedang menahan kesal, dan itu sangat menggemaskan dimatanya.


" Sekalian saya mau tahu apa yang sudah nona dapatkan selama magang di perusahaan ini. Saya tidak mau mahasiswa yang magang di perusahaan saya tidak mendapatkan ilmu apapun. " Lelaki itu bahkan tidak memberikan celah bagi istrinya untuk bisa kembali membantah ucapannya.


Pintar sekali memang Hega untuk urusan mencari alasan.


Haaa, sejak kapan Presdir mengurusi anak magang ? Apa Presdir memang sesenggang itu turun tangan langsung pada hal sepele macam itu ?


Setidaknya itulah yang terlintas di benar beberapa orang yang ada disana. Tapi tentu saja mereka tak berani bersuara.


Sedangkan sang tokoh utama pria justru sedang asyik menikmati ekspresi istrinya. Merasa sangat gemas pada gadis cantik itu, rasanya Hega ingin mencubit pipi putih yang terlihat sedikit mengembang itu kemudian melum😘t bibir mungil yang sepertinya ingin sekali mengumpati dirinya saat ini.


G R R R R . . .


Ingin membantah, namun sepertinya Moza memang harus pasrah pada kekalahannya untuk yang kesekian kalinya saat berdebat dengan suami tampan sekaligus menyebalkannya itu.


Apalagi Moza sadar jika mereka sedang berada di kantor, tidak mungkin dirinya terus mendebat perintah pria yang merupakan pimpinan tertinggi di perusahaan tempat ia magang itu.


Aish, kenapa juga kampus harus mengatur lokasi magangnya disana sih ? Kan masih banyak kantor lainnya, kenapa juga Moza harus terjebak lagi dalam keposesifan suaminya. Hish, menyebalkan.


Kurang lebih itulah yang menjadi ganjalan hati Moza selama ini. Seperti apapun dihindari, tetap saja Moza akan terus terlibat dengan suaminya yang sungguh luar biasa posesifnya.


Inhale...


Exhale...


Tidak bisa berbuat apapun selain mengatur kembali emosinya yang hampir saja membuatnya melewati batas sebagai karyawan biasa.


Awas saja nanti dirumah, nggak akan ada jatah malam, huh. Gerutunya dalam hati.



Moza kembali mengatur ekspresinya, mengulas senyum tipis dan bersikap senormal mungkin.


" Baiklah, Presdir. Saya akan membawa laporannya ke ruangan anda. Permisi ! " Gigi Moza sudah bergemerutuk menahan kesal, ia tahu akhirnya akan kalah juga melawan sang suami.


Percuma mendebat suaminya yang dalam mode keras kepala dan tidak mau kalah itu pikirnya. Daripada semakin malu karena menjadi tontonan, lebih baik dirinya menyerah saja.


Gadis itu kemudian mengambil kembali map yang tadi diletakkannya di atas meja dan berbalik badan hendak meninggalkan ruang rapat.


Tapi Hega melihat ada yang aneh dengan gerak-gerik gadisnya itu, ah maaf ralat maksudnya istrinya.


" Tunggu ! " Suara bass Hega menghentikan langkah Moza yang jelas terlihat menahan sakit.


G L E K . . .


Hish, apa lagi sih ?


Moza berhenti dan menolehkan kepalanya, menatap kesal pria yang masih duduk di kursi kebesarannya itu. Sepertinya Moza sudah tak sanggup lagi menahan ekspresi di wajahnya.


Bukan hanya Moza yang dibuat gugup, semua karyawan yang menghadiri rapat ikut cemas seolah merasa akan ada bom besar yang menimpa kepala mereka. Karena jelas sekali nada suara atasan mereka tadi mengandung kemarahan.


Mereka bahkan sampai kembali berkeringat dingin saking tegangnya.


Moza mengatur nafas sejenak dan berbalik badan, merapatkan bibirnya sebelum akhirnya kembali tersenyum karir dan membuka suara,  " Ada lagi yang harus saya lakukan, Presdir ? " Orang yang peka pasti bisa merasakan jika gadis itu sedang menahan kesal dari tekanan suaranya.


Hega bahkan tidak menghiraukan tatapan tajam Moza yang mengatakan untuk menghentikan apapun yang hendak pria itu lakukan.


Semua mata sangat tegang mengamati pergerakan atasan mereka, hingga ketegangan itu berubah menjadi keterkejutan saat melihat adegan yang tengah terjadi.


Bahkan Moza pun memelototi pria itu mengisyaratkan agar menghentikan apapun yang akan dilakukannya.


Tapi bukan Hega Saint jika menurut begitu saja, pria itu tetap berjalan dengan mantap mendekat ke arahnya.


Hingga sang Presdir sudah berdiri tepat di hadapan wanita yang mereka ketahui adalah karyawan magang biasa itu. Tak lama boss galak mereka sudah berjongkok dengan satu lututnya menempel di lantai.


Semua mata mengerjap dengan mulut ternganga, ada yang membekap mulutnya karena hampir terpekik tidak percaya dengan pemandangan yang tengah mereka saksikan dengan kedua mata kepala mereka sendiri.


Ada yang terbatuk seolah barusaja tersedak angin.


Hega tidak peduli dengan tatapan penasaran semua karyawannya, pria itu kembali berdiri dan melirik salah satu staff yang mengikuti rapat, mengisyaratkan agar pria itu bangkit dari kursinya. Dengan sigap pria berjas hitam itu segera bangkit dan mendorong kursinya.


Hega menarik kursi yang sudah tidak bertuan itu dan menekan kedua bahu Moza agar gadis itu duduk di kursi yang ditariknya tadi.


Kemudian kembali berjongkok dan melepas high heels di kaki kanan sang istri, dan hal ini membuat mata semua mata di ruangan rapat semakin terbelalak lebar.


Sang Presdir tetap cuek, hanya fokus pada istri cantiknya yang akhir-akhir ini sangat keras kepala. Ngotot tidak mau menggunakan jalur koneksi yang bisa memberikan kenyamanan dalam proses kegiatan magangnya.


Dan benar saja dugaannya, kaki istri kesayangannya memar. Hega menyentuh kulit putih Moza yang sedikit kebiruan di area bawah mata kaki.


" Ish. . . " Desis Moza sangat lirih,  menggigit bibir bawahnya menahan sekuat tenaga rasa nyeri kakinya yang baru saja disentuh oleh suaminya.


Hega mendongak menatap wajah Moza yang terlihat meringis menahan sakit, " Kenapa bisa begini ?! " Tanyanya dingin.


" I-itu, saya hanya terkilir tadi saat lari untuk mengantar berkas. "


Aaa.... Berhenti dong, kak ! Aku malu jadi tontonan banyak orang.


Moza melirik sekitarnya, melihat tatapan mata semua orang yang tampak begitu penasaran. Dengan segera Moza kembali memakai lagi stiletto berwarna hitam yang teronggok di dekat kakinya, mendekap erat map di dadanya, dan hendak meninggalkan ruangan rapat.


Tapi seperti biasa, pergerakannya masih kalah cepat dibandingkan sang suami yang sudah berdiri dan menyambar tubuhnya.


Hega menelusupkan satu lengannya di bawah lutut dan satu tangan menahan bahu Moza.


" Aaaaaakmphh.... " Moza reflek membekap mulutnya sendiri yang baru saja tanpa sadar berteriak karena syok atas tindakan mengejutkan sang suami.


Dengan gerakan kilat tubuh mungil Moza sudah terangkat ke udara, Hega membawa sang istri dengan gaya bridal membuat semua orang kembali terbengong dengan mulut mereka kembali setengah terbuka dan mata melebar.


" Anita, bubarkan rapatnya ! " Titahnya tegas.


" Ba-baik, Presdir. " Anita segera tersadar dari lamunannya, begitu pula samua orang yang ada disana kembali pada kesadarannya setelah syok melihat apa yang dilakukan oleh atasan mereka itu.


" Kak, turunkan aku ! " Bisik Moza saat pria itu sudah membawanya keluar dari ruang rapat tapi sang suami tidak menggubris permintaannya.


Mau tak mau Moza harus menuruti kemauan sang suami, gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Hega. Menutupi kepalanya dengan map yang ada di tangannya, menyembunyikan diri dari tatapan mata semua karyawan yang dilewati olehnya.


Aaaa.... Selamat tinggal kehidupan magangku yang damai... 😥😥😥


***


Yang nanya kapan Momo hamil, please sabar, mereka kan udah rajin ngadon, tinggal tunggu tanggal jadinya. 😁