FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 06 • Hish, Dasar Rentenir



" Kan bisa istirahat disini, ada satu kamar kosong kok kalo untuk kalian berdua, nanti nak Jul bisa tidur di kamar Ryu. "


Glek. . .


Astaga, cobaan apalagi ini Tuhan, mau berduaan dengan istri sendiri saja rasanya kok harus penuh hambatan dan rintangan. Ada saja penghalang.


Mungkin itulah yang terlintas di benak Hega saat ini, tapi bukan Hega jika tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Terbukti dengan sikap Hega yang masih tampak cool dan datar-datar saja.


Pemuda itu hanya bisa menelan salivanya sendiri dengan kasar, dan diam-diam menghela nafas dalam sembari terus berusaha bersikap biasa-biasa saja. Padahal dalam hati rasanya sudah nyaris kalang kabut gak karuan.


" Ya enggak enak dong Bun, Rena kan enggak mau gangguin penganten baru yang sedang butuh ruang, waktu dan privasi, kami yang jomblo mah harus peka, ya nggak temen-temen ?! " Seloroh Rena seraya melirik teman-temannya.


" Lagipula Re gak mau gigit jari liat kemesraan pengantin baru yang pasti bikin Re baper, Re lagi jomblo, Bun. Gak ada pasangan buat sayang-sayangan. " Imbuhnya lagi semakin ngawur.


Dan melongo lah Amira, Dea dan Julian mendengar penuturan no filter sahabatnya yang entah kenapa hari ini terlalu terlena dengan mode bloon nya itu. Tapi kenapa juga mulut lemes nya tetap utuh dan bekerja seperti sedia kala, nyerocos tanpa rem.


Bahkan Aliza dan Bara sampai dibuat speechless dengan kekonyolan gadis itu. Sedangkan Hega pastilah lega luar biyasah.


Ardi dan Ayu hanya tersenyum mendengar ucapan dari sahabat putri mereka, " Ya sudah kalau kalian maunya begitu, terima kasih atas bantuannya hari ini ya. " Ucap Ayu kemudian.


Akhirnya semua sahabat Hega dan Moza pamit undur diri, begitu juga Deana yang sempat tinggal sebentar untuk membantu bunda Ayu membereskan beberapa hal.


Hega awalnya hendak membantu ayah mertua dan adik iparnya beberes, namun terpaksa mengurungkan niatnya karena ayah Ardi melarangnya.


" Sudah, kamu istirahat saja di atas. Kamu pasti kelelahan. " Ujar Ardi seraya menepuk pundak menantunya yang sudah ia anggap seperti putra kandungnya sendiri.


" Tapi, Yah. "


" Sudah, nurut saja apa kata ayah kamu, Ga ! Toh Ayah hanya tinggal mengawasi saja, yang beres-beres nanti akan datang dari pihak WO ( Wedding Organizer ) kok. Kamu istirahat saja sama Momo. " Sela Bunda Ayu ketika melihat raut wajah Hega yang merasa tidak enak disuruh istirahat padahal keluarganya masih sibuk beberes.


Tapi akhirnya Hega menyerah, tidak baik juga rasanya terus menolak niat baik sang mertua yang memang melihat raut wajah kelelahan dirinya, " Baiklah kalau gitu. Hega ke atas dulu ya, Bun, Ayah. "


Kedua orangtua Moza mengangguk dan Hega segera berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar sang istri yang kini juga menjadi kamarnya.


▪▪▪


Dikamar pengantin,


Hega memutar handle pintu berwarna perak, kemudian mendorong pintu kayu bercat putih di hadapannya, perlahan memasuki area privat sang istri.


Mata elangnya langsung menyusuri penjuru ruangan mencari sosok yang dirindukannya. Padahal belum satu jam berpisah, tapi rasanya begitu rindu.


Dasar sindrom pengantin baru, rasanya ingin deketan mulu. 😍


Dan manik matanya langsung terkunci di satu titik ketika didapatnya sosok cantik itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dan yang membuatnya membeku adalah sang istri yang hanya memakai bathrobes dan sebuah handuk kecil melilit di kepalanya.


Hega menelan salivanya saat pandangannya tanpa sengaja berhenti di area dada dan bahu mulus sang istri, ditambah leher putih jenjang yang terekspose sempurna, yang terlihat begitu menggoda imannya


" Aakhhh, kakaaaak. . . " Moza sontak terpekik dan merapatkan kimono handuknya yang sedikit longgar saat menyadari arah tatapan mata sang suami dan langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Tentu saja Hega langsung tersadar, " Mo, kenapa kamu teriak sih ? Dan kenapa malah masuk lagi ke sana ? " Berjalan cepat menuju pintu kamar mandi.


" Kakak kenapa nggak ketuk pintu dulu sih ? " Tanya Moza tergagap dari balik pintu kamar mandi, sembari melepas lilitan handuk di kepalanya.


" Memangnya kenapa ? Sekarang kan ini juga kamarku, hem ? "


Ah, iya juga sih. Mana ada orang yang mengetuk pintu dulu kalau mau masuk ke dalam kamarnya sendiri ?


Moza bergumam kecil membenarkan ucapan Hega, tapi logikanya ingin mendebat alasan yang diutarakan suaminya itu.


" Iya sih, tapi kan aku belum pakai baju. Gimana kalo tadi aku---" Gadis itu seketika menghentikan ucapannya, terlalu malu melanjutkan.


Sungguh tidak bisa dibayangkan jika tadi dirinya keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk minim seperti kebiasaannya selama ini.


Untung saja tadi gadis itu berinisiatif memakai handuk berbentuk jubah yang setidaknya menutupi area pundak, dada dan juga pahanya. Meskipun tadi memang sempat sedikit longgar dan merosot di bagian pundak yang akhirnya sedikit mengekspos kulit putihnya.


" Kak, tolong jangan menggodaku sekarang ! Aku lelah dan ingin segera istirahat. "


Hega menyandarkan punggungnya di dinding dekat kamar mandi, menyilangkan kedua tangannya di dada, " Memangnya siapa yang sedang menggoda kamu, bukannya justru sebaliknya kamu yang tadi menggodaku duluan, hem ? " Pintar sekali pria ini memutar balikkan fakta.


" Si-siapa yang menggoda kakak sih ? A-aku--- "


Hega kembali terkekeh, membayangkan wajah istrinya yang pasti sedang sangat merona karena malu sekaligus gugup, " Hehe, iya iya, kamu tidak menggodaku. Ayo sini keluar dulu, nanti kamu masuk angin kalo kamu terus ada di sana. " Bujuk Hega dengan lembut, tapi tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda bahwa gadis itu akan keluar dari persembunyiannya.


Tok tok tok. . .


Hega mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali dengan posisi masih bersandar di dinding, tapi sang istri tak kunjung keluar juga.


" Mo, kenapa diam ? Ayo sini keluar ! "


" Iya, aku keluar. Tapi tolong aku dulu kak. "


" Hem. Apa yang bisa aku bantu, Momo sayang ? " Tanya Hega dibuat semesra mungkin.


Astaga, merinding disko rasanya mendengar namanya disebut dengan semesra itu.


" I-itu, kak. Tolong ambilkan piyamaku yang ada di atas sofa. "


Hega mengernyit, " Kenapa kamu tidak keluar saja sih ? Dan ganti baju di sini. "


" Kakak iiihhh,--- "


Hega malah semakin terkekeh mendengar gerutuan Moza yang bernada sangat kesal dari balik pintu. Tapi kan Hega bukan pria biasa, dia itu pria yang tidak mau menyerah begitu saja jika sudah melakukan sesuatu. Terutama hal-hal yang sangat disukainya, dan menggoda sang istri adalah salah satu kegiatan favoritnya saat ini.


" Kenapa, Momo sayang ? Ayo dong sini keluar, sampai kapan kamu mau bertahan di dalam sana ? Atau aku yang masuk nih. " Hega semakin gencar menggoda sang istri dengan kalimat-kalimat nakalnya.


" Kak, please ambilkan piyamaku yah. " Suara Moza mulai terdengar lemah dan memelas, membuat Hega sedikit tidak tega.


" Kalau aku ambilkan, aku dapat imbalan apa, hem ? " Tapi Hega masih ingin menggoda sang istri, beberapa hari tidak menjahili Moza membuat mulutnya gatal, tidak bisa menghentikan ulahnya untuk membuat gadisnya itu kesal.


" Ya ampun, kakak ini perhitungan sekali, kan cuma mengambilkan bajuku apa susahnya sih ? " Sepertinya Moza mulai kehilangan kesabarannya menghadapi keusilan suaminya.


" Kalau begitu kamu tinggal keluar dan ambil sendiri piyama kamu, apa susahnya sih ? " Jawab Hega dengan entengnya membalikkan kalimat sang istri. Padahal rasanya Hega sudah tidak tahan ingin tertawa karena berhasil menggoda istrinya.


" Lagipula tidak ada satupun yang gratis di dunia ini, Momo sayang. " Imbuhnya dengan nada mesra, membuat Moza semakin geram saja.


Dibalik pintu, Moza bahkan sudah mengacak rambutnya yang basah saking frustrasinya menghadapi ulah nakal suaminya yang kambuh lagi jahilnya.


Tapi sepertinya kali ini dirinya yang harus menyerah kalah untuk kesekian kalinya, karena tidak mungkin dirinya seharian berada di dalam kamar mandi.


" Eemmm, memang kakak mau imbalan apa ? " Pasrah Moza akhirnya kalah berperang juga, memang kapan sih Moza bisa mengalahkan suaminya dalam hal adu mulut dan kejahilan.


Yang ada gadis itu memang selalu berakhir dengan menghela nafas berat setiap kali menghadapi suaminya yang benar-benar tidak pernah mengalah dan pantang menyerah. Apalagi dalam hal menggoda dan menjahili dirinya.


YESSS, Hega tersenyum menang di balik pintu, " Aku akan katakan nanti, tapi kamu tidak boleh ingkar ya atau aku akan melipat gandakan imbalannya ?! " Tapi bukan Hega namanya jika tidak bisa bersikap biasa saja, pemuda itu masih saja bisa menjawab dengan sangat tenang dan santai, padahal sendirinya sudah hampir melompat kegirangan.


Hish, dasar rentenir.


Sedangkan di sisi pintu lainnya, Moza malah sedang mengumpati suaminya yang kelewat menyebalkan. Baru sehari saja jadi istrinya, Moza sudah dibuat kesal setengah mati. Gimana nanti ???


...------------------------------...


🌹 Kira-kira bang Hega mau minta imbalan apa ya ?


Like dan koment ya sayang, biar aku semangat UP.


BTW Bang Hega mau aku ikutin lomba nanti per Senin depan, kalian dukung akuh ya, kasih kembang 🌹 gitu biar aku semangat nge-Halunya 😁😁 murah kan cuma 19 poin. 🙏 Dan poin itu gratis kan gak beli koin.


Buat yang ikhlas aja, yang gak mau ya gak maksa. Akuh kan bukan tukang palak. 😉