FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 76 • Back To Campus



...Assalamualaikm semua 😊...


...[ Yang ngak jawab salam, dosa tanggung sendiri, ingat !! salam adalah doa ]...


...Yang masih stay di sini, sini absen dulu, angkat jempolnya....


...Makasih yang masih mau nungguin aku up,...


...Happy Reading....



...' Sejatinya mencintai itu bukan perkara mencari sosok yang paling sempurna, justru pada mereka yang memiliki kekurangan maka cinta akan terasa berbeda, karena cinta itu ada untuk saling menyempurnakan satu dan yang lainnya. '...


...☆☆☆...


Hega mencondongkan wajahnya mendekati wajah sang istri, pria tampan itu memejamkan mata, menunggu inisiatif gadisnya untuk memberi apa yang ia minta.


Cup.


Bibir mungil Moza mendarat cantik di salah satu bagian wajahnya. Namun dugaannya benar adanya, bibir tipis berwarna pink alami itu mendarat di tempat yang tidak sesuai yang diharapkannya.


" Sudah kan, kak. Sekarang buka kuncinya ya, aku akan terlambat masuk kelas kalau kakak terus menahanku disini. "


Hega mendesah pelan dan membuka kembali kedua matanya, menatap wajah istrinya dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas sembari menggelengkan kepalanya.


Istriku gemesin banget sih, pengen puter balik pulang lagi.


Memang apa yang bisa diharapkan dari istri cantiknya yang polos ini. Maunya cium bibir malah dapat cium pipi.


Seminggu diberi pelatihan intens selama bulan madu, sang istri masih juga polos polos lugu untuk urusan 'begituan'.


Entah memang masih beneran polos atau istrinya itu masih malu-malu kucing setiap Hega meminta sesuatu yang bersifat sentuhan fisik yang intim.


Padahal kan mereka sudah halal, malu kenapa coba ?


Huft, sepertinya lagi-lagi Hega yang harus agresif. Sebelum istri cantiknya itu kabur, dengan cepat namun tetap selembut mungkin, pria itu meraih lengan istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggul sang istri, kemudian satu tangannya yang lain berpindah mengelus pipi istrinya.


" Sayang, aku tuh maunya disini. " Ujarnya seraya menunjuk bibirnya sendiri.


Manik mata Moza membola, " Tap--mmmhph. " Belum sempat protes, bibir mungil Moza sudah dibungkam oleh bibir pria di hadapannya, dikecup dan dilumat lembut oleh suami tampannya.


Lagi-lagi Moza merasa kecolongan, suaminya ini benar-benar ahli dalam hal mencari kesempatan dalam kesempitan.


Ahhh, tapi kenapa ini terasa begitu menyenangkan, hingga mau marah atau protes pun Moza tak sanggup melakukannya.


Perlahan, Moza sudah mulai membiasakan terhadap setiap sentuhan suaminya yang hobi sekali menyerang secara tiba-tiba.


Sentuhan yang selalu berhasil membuat darahnya berdesir, sekaligus mengalirkan getaran menyenangkan di sekujur tubuhnya.


Meskipun Moza sendiri belum bisa memulai skinship diantara mereka atas inisiatifnya sendiri, padahal sang suami sering sekali memberi kode agar dirinya mau memulai terlebih dulu. Seperti yang barusan terjadi.


Tapi yah, sepertinya pria itu harus lebih bersabar lagi dan tak lupa memberikan pelatihan untuk sang istri secara lebih intensif lagi tentunya.


" Manis. " Ucap Hega setelah melepas pagutannya, menjilat pelan bibirnya sendiri dan mengusapnya bibir basahnya dengan ibu jarinya.


Mata elangnya masih menatap lekat manik mata istrinya, jemarinya terulur mengusap lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya.


Ciuman yang singkat namun tetap terasa mendebarkan.


" Kakak ihhh, seneng banget bikin aku jantungan. " Moza menggerutu sambil memukul pelan dada bidang suaminya saat tersadar apa yang barusaja terjadi.


Hega terkekeh, " Terima kasih, ciuman penyemangatnya, istriku sayang. Aku jadi makin semangat kerjanya. " Mengelus pelipis Moza dengan jemarinya.


" Kamu juga semangat ya kuliahnya, kan udah dapet vitamin pagi dari suami. " Imbuhnya menggoda dengan kerlingan mata jahilnya.


Moza tersenyum tersipu, Ya Allah, punya suami ganteng, gini amat ya rasanya, jantung disko melulu.


Moza menghela nafas pelan untuk menormalkan degup jantungnya yang sempat maraton, kemudian mengulurkan tangannya pada sang suami, " Have a nice day, kak. " Ucap Moza setelah mencium punggung tangan suaminya untuk berpamitan.


" Have a nice day too, my wife. " Hega menarik kepala istrinya pelan.


Cup.


Astaga olahraga jantung mulu tiap pagi, huffft... jantung yang kuat ya.


Semburat merah jambu nampak menghiasi pipi putih Moza.


 



Moza yang baru saja kembali pada rutinitas di kampusnya, harus mulai mengejar ketertinggalannya.


Selain menemui beberapa dosen untuk menyerahkan beberapa tugas, Moza harus menyalin beberapa catatan mata kuliah yang ditinggalkannya selama hampir dua minggu ini.


Dan tentu saja tujuan pertamanya pastilah sosok Amira Rahayu, si ibu negara yang selalu rajin mencatat materi kuliah dengan lengkap dan terperinci.


Jika harus mengandalkan Renata atau Deana, oh God, sesungguhnya mereka itu sepertinya kuliah hanya bagaikan mengisi waktu luang saja.


Mereka terlalu malas untuk urusan catat mencatat, terutama Renata yang memang asyik dengan dunia modelingnya yang mulai naik levelnya.


Sedangkan Deana, bagi cewek yang satu ini catatan materi kuliah itu asal seadanya aja, alias poin-poin pentingnya doang. Meskipun tak jarang kadang gadis itu suka lupa penjabaran dari catatan yang dia punya.


Meskipun tidak sampai dalam artian bodoh sih, mereka hanya punya tingkat kemalasan tersendiri.


Baik Renata ataupun Deana, mereka cenderung memilih menggunakan jurus SKS, alias sistem kebut semalam jika ada ujian atau jadwal quiz.


Tok tok tok


Moza mengetuk beberapa kali salah satu ruangan dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Mikro.


" Kamu cari saya ? " Moza dikejutkan oleh suara berat dari arah belakangnya.


" Ya Tuhan. " Pekiknya sembari menempelkan telapak tangannya di dada.


Pria paruh baya seusia ayahnya itu tampak mengernyitkan keningnya.


" Maaf, Prof. Yan, saya mau mengumpulkan paper saya. "


Pria itu semakin mengernyitkan keningnya, " Kamu jurusan apa dan tingkat berapa ? "


" Manajemen bisnis tingkat 3, Prof. "


" Seingat saya minggu ini tidak ada tugas pengumpulan paper dari mata kuliah yang saya pegang untuk mahasiswa tingkat 3. "


Moza menggaruk belakang telinganya, merasa sedikit canggung, " Eumm, itu. Sebenarnya ini tugas untuk pengganti presensi kuliah saya, Prof. "


Pria itu tampak berpikir sejenak seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu, tak lama kemudian terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, " Ohh, kamu mahasiswi beasiswa exclusive itu rupanya ? "


Kini Moza yang dibuat bingung oleh kalimat dosennya itu, sempat terperangah, tapi karena bingung juga mau menjawab apa akhirnya Moza memilih tersenyum saja meskipun terasa canggung.


Ceklik


" Masuk, saya mau lihat dulu paper kamu. " Titahnya setelah membuka pintu.


Moza menurut, mengikuti langkah kaki pria di hadapannya.


" Silahkan duduk. "


Lagi-lagi Moza hanya bisa mengangguk dan tersenyum kikuk, mengikuti perintah dosennya.


" Jadi referensi apa yang kamu gunakan untuk menyusun paper ini ? " Tanya pria itu setelah membuka halaman demi halaman.


" Ehh ??? " Moza tersentak.


Tidak mungkin kan dirinya akan langsung ditanya jawab detik ini juga tentang isi papernya. Meskipun bukan masalah juga sih sebenarnya, hanya kaget saja.


Melihat respon Moza, pria berkemeja batik biru tua itu menaikkan satu alisnya dan menatap tajam ke arah salah satu mahasiswinya itu. " Jangan katakan kamu membuat ini tanpa buku referensi yang jelas dan hanya mengandalkan data di gugle yang belum tentu akurat dan terjamin sumbernya. "


Jeng jeng jeng...