
...☆☆☆...
Moza memekik ketika tubuhnya sudah jatuh diatas pangkuan suaminya, dan dikuasai sepenuhnya oleh sang suami.
" Ssssttt. . . " Meletakkan telunjuknya di bibir sang istri, dan mengeratkan rengkuhan lengannya di pinggangnya agar gadis itu tak kabur dari kuasanya.
" Kak. " Cicit gadis itu merasa tak nyaman.
" Hem. "
" Turunkan aku. " Pintanya lirih sambil meronta-ronta di pangkuan suaminya.
Hega bisa merasakan tubuh istrinya sedikit gemetar, pria itu tersenyum lembut, menatap bola mata bulat istrinya, " Kenapa, hem ? "
" A-aku merasa tidak nyaman. " Moza seketika melipat bibirnya ke dalam saat menyadari apa yang baru saja keluar dari bibirnya, cemas kalau-kalau suaminya itu salah mengerti dan tersinggung dengan ucapannya.
" Huffft. . . " Tuh kan suaminya menghela nafas, pasti salah paham kan ? Moza langsung menelan salivanya dengan susah payah, membalas tatapan suaminya.
" Kak, maksudku---. "
Hega menggeleng kecil, " Ssshhh. . . Aku tahu, tapi aku tidak akan melepaskan kamu hari ini. "
Manik mata Moza mengerjap beberapa kali kembali menelan salivanya dengan susah payah, mencerna ucapan suaminya yang ia yakin hanya satu artinya, yaitu memang malam inilah saatnya untuk mereka berdua.
Saatnya untuk menyatukan diri mereka, bukan hanya jiwa namun juga raga.
" Pakai dulu baju tidur kakak ya. " Bujuk Moza lagi, lebih lembut daripada sebelumnya. Berharap kali ini suaminya kembali melunak dan melepaskannya, tapi tidak.
Sepertinya batas toleransi Hega sudah mencapai ambang batas, tidak bisa lagi diganggu gugat. Hari ini juga pria itu akan meminta haknya, toh mereka sudah halal dan saling mencinta.
Mereka menikah bukan atas dasar paksaan ataupun perjodohan sepihak, apalagi pernikahan kontrak seperti yang ada di novel-novel romansa. Pernikahan kontrak yang diawali kesepakatan untuk tidak melakukan kontak fisik, sok-sok-an tidak akan saling jatuh cinta namun nyatanya berakhir dengan kebucinan yang hakiki juga nantinya.
Tidak !!! Mereka bukan pasangan semacam itu. Mereka saling mencintai dari awal, bahkan Hega sudah bucin sebucin-bucinnya pada sang istri.
Lalu untuk apa menunda lagi untuk saling memiliki jika nyatanya hati mereka sudah saling terikat untuk mencintai.
" Nanti saja, toh nanti juga akan dilepas. " Tegas Hega dengan begitu entengnya, kemudian mengambil piyamanya yang ada di dekapan sang istri dan meletakkannya di sisi sofa yang masih kosong.
" Eh. . . " Manik mata Moza membulat sempurna, lagi-lagi gadis itu menelan kasar salivanya, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Padahal beberapa menit yang lalu baru ia basahi dengan segelas air, kenapa terasa haus lagi.
" Lagipula kamu juga masih pakai jubah mandi tuh. " Menaikkan dagunya menunjuk pakaian yang dikenakan istrinya.
Hega terkekeh saat melihat istrinya reflek menyilangkan kedua tangannya di dada, " I-itu karena . . . Eemmm. . . " Gumam Moza sedikit tergagap.
Satu alis Hega terangkat naik ketika mendengar gerutuan istrinya, tampak menebak-nebak apa yang tengah tersembunyi di balik wajah gelisah sang istri, " Karena apa, hem ? "
" Eh. . . I-itu k-ka-rena. . . "
" Karena apa ? Ayo bilang, hem ! " Sahut Hega cepat, menyudutkan sang istru sambil mencondongkan wajahnya ke wajah istrinya, " Bilang saja karena kamu mau menggodaku, iya kan ?! " Imbuhnya seraya menaik turunkan alisnya dengan nakal.
Bugh. . .
" Auwh. . . Sakit sayang. " Hega meringis kecil saat pukulan kecil mendarat di pundak kanannya.
" Salah sendiri kakak bicaranya terlalu. . . "
" Terlalu apa ? "
" Ah, sudahlah. Aku mau tidur lagi. " Hendak bangkit dari pangkuan suaminya.
" Kenapa lagi ? " Sahut Moza ketus.
" Pakai dulu baju tidurmu ! Jangan tidur dengan jubah mandi, nanti aku tergoda. " Mengerlingkan satu matanya genit.
" Ish. . . Aku sudah pakai baju tidurku tau, memangnya kakak pikir aku tidak memakai apapun di balik jubah mandi ku ini, huh ?! Dasar mesum ! "
Hega terkikik mendengar ocehan istrinya yang memasang wajah kesal menggemaskan itu. Namun tawa pria tampan itu tidak bertahan lama, beberapa detik kemudian tawa Hega berubah dengan raut eajah penasaran, Hega kembali menatap sang istri seolah menyadari sesuatu yang aneh.
" Eh, kalau sudah pakai baju tidur kenapa masih pakai jubah mandi segala ?! "
" Ah. . . I-itu. . . " Menunduk sambil menggigit-gigit kecil ujung jarinya membuat Hega semakin penasaran.
" Apa ? Itu apa, hem ? Ayo jawab ! " Kembali mencondongkan wajahnya.
" I-itu. . . " Astaga, jangan memojokkan aku begini dong kak, Batin Moza gelagapan.
Hega menghempas pelan punggungnya ke sofa, " Baiklah, kalau kamu tidak mau bilang, aku akan mencari tahu sendiri jawabannya. " Jemari Hega sudah memegang tali bathrobes yang membingkai tubuh ramping istrinya.
" Kak, jangaaaan ! " Menahan tangan suaminya dengan kedua tangannya. Rasanya jantung Moza sudah berdegup tak beraturan.
Hega mengernyitkan dahinya, makin penasaran kan jadinya, " Kenapa ? "
" Aku malu. . . " Moza menundukkan wajahnya sembari menggigit kecil bibir bawahnya sendiri, pipi putihnya benar-benar merona. Rasanya ingin segera kabur dari tatapan mata suaminya yang membuatnya semakin berdebar-debar.
Kening Hega kembali mengernyit mendengar alasan sang istri. Alasan aneh yang membuat Hega semakin penasaran saja, memangnya baju tidur macam apa yang dipakai Moza hingga membuat istrinya itu merasa malu segala.
Hega berusaha menutupi rasa penasarannya, mengapit dagu istrinya dengan jemarinya dan mendongakkan wajah cantik Moza agar kembali menatap ke arahnya, " Katanya kamu sudah pakai baju tidur, malu kenapa coba ? Kalau kamu tidak memakai apapun baru kamu boleh merasa malu. "
" Ah. . . Tanpa sehelai benangpun seharusnya kamu juga tidak perlu malu kan, toh aku kan sudah jadi suami kamu sekarang, kenapa harus malu segala coba ?! " Ralatnya cepat dengan nada nakal andalannya.
" Iiih . . . Kakaaak. . . " Memukul lagi bahu tegap sang suami.
" Pffft . . . " Pria tampan itu malah kembali terkekeh dan mendaratkan kepalanya di ceruk leher sang istri, sedangkan kedua tangannya sudah melingkar erat di pinggang gadis cantik kesayangannya itu.
" Kakak iiih. . . Jangan begini ! Aku geli. " Ada gelenyar aneh merayap naik ke sekujur tubuh Moza setiap kali hembusan nafas hangat suaminya menerpa kulit lehernya.
Hega tak menggubris protes dari sang istri, pria itu malah mengendus-kedua aroma tubuh istrinya yang begitu menggoda indera penciumannya.
Rasanya jantungnya semakin berulah saja. Membuat gadis itu terus menggeliat di dalam dekapan suaminya.
" Lepaskan aku, kak. Dan cepat lah pakai piyamanya, nanti kakak bisa masuk angin. " Tutur Moza kemudian sambil mendorong dada bidang sang suami agar melonggarkan pelukannya.
Dan seringai kecil terbit di bibir Hega, terlintas ide nakal untuk menjawab rasa penasarannya akan sesuatu di balik jubah mandi berwarna maroon yang membungkus tubuh istrinya.
Hega menegakkan kembali badannya, menatap lekat wajah istrinya, " Hem, oke. Tidurlah dulu, aku akan ganti baju dulu dan segera menyusulmu. " Ujarnya dengan nada senatural mungkin, padahal diam-diam ada rencana licik dibalik ucapannya itu.
Hega benar-benar ingin tertawa melihat kepolosan sang istri, apalagi saat mendengar helaan nafas lega gadis yang masih duduk di pangkuannya itu.
Seolah mendapatkan celah, Moza tidak menyia-nyiakan kesempatan dan dengan cepat gadis itu bangkit dari pangkuan Hega, merasa lega bisa lolos dari cengkeraman sang suami.
Karena sejujurnya jantungnya sudah hampir meloncat keluar dari tubuhnya sedari tadi, bagaikan kelinci yang sedang berada di jebakan singa yang licik. Untungnya kali ini si kelinci polos bisa kabur dari kuasa si singa.
Tapi yang terjadi sungguh diluar perkiraan gadis polos itu, saat dengan sigap Moza bangkit dari pangkuan Hega, betapa terkejutnya gadis itu dengan apa yang dilakukan sang suami.
Street. . .
...--------------------...