
Lagi-lagi pikiran Hega seolah terdistraksi, entahlah pria itu jadi merasa tidak tenang sejak tahu istrinya akan menjalani magang, itupun di tempat yang Hega tak tahu.
Rasanya tidak rela saja istrinya itu berada di tempat diluar pengawasannya. Bukan tidak percaya, hanya saja dirinya jadi tidak bisa menemui sang istri sesuka hati jika tiba-tiba rindu. Weeww.
Dan lebih kesalnya, ternyata bukan hanya kakeknya, bahkan sang papa pun memilih tutup mulut saat Hega bertanya.
Jawaban sang papa pun tidak jauh berbeda dengan sang kakek, " Tanya saja langsung pada istrimu. " Begitulah jawaban Aryatama tadi pagi saat mereka bertemu ketika jogging pagi.
Sepertinya sang istri sudah terlebih dulu meminta mereka untuk tidak menjawab apapun pertanyaan Hega tentang magangnya.
" Nona, Pak Bakti sudah siap. Apa nona mau berangkat sekarang ? " Sasa datang sambil membawa tas Moza.
Moza menerima tas yang diulurkan Sasa, " Iya, terima kasih, Sa. " Ucapnya pada privat maid yang sudah melayaninya beberapa bulan ini. Sasa mengangguk dan undur diri.
" Kak, ayo sekalian ke depan. " Moza menelusupkan tangannya di lengan suaminya, menggiring pria itu untuk ikut melangkah menuju pintu utama.
Pria itu masih menatap istrinya dengan tatapan memohon, berharap istrinya akan berubah pikiran di detik-detik terakhir keberangkatannya. Tapi nyatanya tidak.
Keduanya melangkah beriringan, terlihat harmonis dan sangat manis. Bahkan para maid yang mereka lewati ikut tersenyum seolah kebahagiaan sepasang pengantin baru itu menular pada semua orang di sekitar mereka.
" Hm, hati-hati. Jangan lupa kabari aku. " Ucap Hega saat keduanya sudah berada di pelataran depan pintu paviliun utama.
Disana Pak Bakti sudah menunggu dan dengan sigap membuka pintu belakang untuk istri tuan mudanya.
Moza mengangguk, " Iya, nanti aku kirim pesan. "
Cup
Hega mengecup kening istrinya sebelum gadis itu memasuki mobil. Bola mata Moza memejam menerima dengan sukacita segala bentuk ungkapan cinta suaminya, entah itu dalam bentuk verbal ataupun sentuhan.
Setelah memasuki mobil, Moza membuka kaca pintu hendak melambaikan tangan, tapi suaminya malah membungkukkan badannya, " Jangan lupa janji kamu semalam, hm ! "
Sontak saja celetukan suaminya membuat Moza merona sekaligus kesal. Semburat merah jambu langsung menyembur di kedua pipi gadis itu.
" Kakak. " Cicit Moza lirih.
Hega terkekeh gemas, " Hati-hati menyetirnya, Pak Bakti. Antar istri saya dengan selamat sampai tujuan. " Ucap Hega yang ditujukan pada pria yang sudah duduk di balik kemudi.
" Baik, Tuan Muda. " Pria yang masih berdiri di sisi pintu pengendara itu mengangguk saat Hega menoleh padanya.
" Bye, sayang. Aku tunggu nanti malam, hmm. " Pria itu mengusuk pucuk kepala istrinya sambil mengerlingkan satu matanya. Kemudian menegakkan kembali badannya dan melambaikan tangannya mengantar keberangkatan sang istri.
Ish, dasar mesum. Kalau yang begituan aja nggak pernah lupa.
Dumal Moza sembari membingkai pipinya yang terasa panas karena malu mengingat janji yang dibuatnya pada sang suami semalam.
" Nona bicara dengan saya ? " Tanya Pak Bakti saat samar-samar terdengar suara dari balik punggungnya.
Moza mendongak, " Ah, tidak, Pak. "
Pria di balik kemudi itu hanya mengangguk sebagai respon.
Dasar ini semua gara-gara janji absurd yang diminta suaminya semalam.
Janji untuk memenuhi satu permintaan suaminya sebagai konpensasi agar suaminya tidak mengintervensi magangnya.
Dan tentu saja Moza tidak pernah mengira jika permintaan suaminya sangat diluar dugaan, sebuah permintaan yang sukses membuat Moza malu sendiri setiap mengingatnya.
Gadis itu menggelengkan kepala beberapa kali sambil memejamkan mata, mengusir bayangan tentang kelakuan nakal suaminya yang sungguh membuatnya selalu kewalahan.
Huft. lagi dan lagi, Moza menghela nafas panjang.
Suaminya itu memang pakarnya membuat lawannya tak berkutik, kalah telak setiap berdebat. Dan rugi bandar ketika membuat kesepakatan dengan suaminya itu.
" Pak Bakti, nanti ke alamat yang saya kasih tadi ya. Turunkan saya disana. " Pinta Moza saat mobil yang dinaikinya sudah keluar dari gerbang utama kediaman keluarga Saint, melesat di jalan raya utama.
" Baik, Non. " Jawab pria dibalik kemudi sambil melirik sang nona dari kaca spion.
Tidak butuh waktu lama, sekitar 15 menit mobil hitam itu sudah berada di depan sebuah rumah yang cukup besar. Mobil memasuki pagar dan terlihat sahabatnya baru saja muncul dari pintu.
Moza turun disambut sahabatnya yang juga sudah siap dengan outfit gaya kantorannya.
" Weish, soulmate nih kita keknya, lo datang disaat yang tepat, pas saat gue keluar, Mo. "
Moza menangguk, " Kita langsung berangkat ? "
" Eum, tapi mobil gue lagi di bengkel, tenang aja gue udah pesen taxi online kok. " Ucap gadis berhijab itu cepat.
" Nona. " Sela Pak Bakti sopan.
Moza mengalihkan pandangannya pada pria yang sudah berdiri di dekat mobil, " Bak Bakti kembali saja ya, saya berangkat dengan teman saya. "
" Tapi, Nona. " Pria itu tampak ragu dan tidak mengerti maksud majikannya.
" Eum, jadi Bapak antar saya kesini saja setiap pagi, nanti saya berangkat dengan teman saya dari sini. " Jelas Moza.
" Kenapa tidak saya saja yang mengantar nona dan teman nona ? Daripada naik taxi. " Pria itu tampak cemas, karena tugasnya memanglah mengantar kemanapu cucu menantu tuan besarnya itu pergi.
Ini malah nona nya mau naik taxi, bisa gawat kalau sampai tuan besar tau. Mungkin itulah sekilas pemikiran pria paruh baya itu.
Moza melirik mobil hitam yang selama ini menjadi transportasi yang sering ia gunakan, Mercedes-Maybach S560, kemudian menatap supir pribadinya.
Moza kemudian menggeleng bukan ide bagus pergi ke kantor magangnya dengan mobil semewah itu.
" Tapi Non---. "
" Tenang aja, Pak. Aman sama saya Nona nya, Pak. " Sahut gadis di samping Moza seolah tahu kecemasan pria berpakaian rapi itu.
" Ami. "
" Hehe, canda Mo, canda. " Amira menyengir.
" Bapak pulang aja. Nanti saya juga pulangnya pakai taxi. "
" Tidak, Non. Saya yang akan menjemput, Nona. "
Moza menghela nafas, berpikir sejenak, " Baiklah, tapi bapak jemput saya disini saja ya, atau nanti saya kirim pesan dimana bapak jemput saya. "
Merasa keputusan sang nona sudah mutlak, pria paruh baya itu akhirnya mengangguk pasrah, " Baik, Non. Saya permisi. "
Moza mengangguk, " Terima kasih, Pak Bakti. "
" Sudah tugas saya, Non. Non Amira, saya titip Nona muda kami. "
" Siap, Pak. Aman dah, gak bakalan lecet, bisa gawat kalau lecet dikit bisa bahaya, kan pawangnya galak, takut saya, Pak. " Pak Bakti tersenyum dan kembali pamit undur diri.
Sepeninggal Pak Bakti, Moza menatap tajam sahabatnya, " Ami, kamu ketularan Dea dan Rena, hm ? "
" Ampun, Momo. Becanda elah. Maaf, bestie. " Cengir Ami lagi.