FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 127 • Gercep Banget Si Boss



Beberapa saat yang lalu, Hega yang tengah gelisah menanti istrinya yang tidak kunjung tiba jadi tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Belum lagi Bara yang sedari tadi mengoceh ngalor ngidul gak jelas bikin kepala Hega makin pusing.


Untung saja saat diminta memilih antara diam atau pergi, pria 27 tahun itu memilih untuk pergi. Lagipula mama mungkin seorang Bara memilih tutup mulut, orang pria yang satu itu hobi ngoceh, apalagi kalo bahan ocehannya bisa bikin Hega dongkol. Maka makin gass aja mulut Bara.


Hega melirik jam tangan rolex di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12.15. Itu artinya sudah lewat 15 menit dari jam makan siang dimana seharusnya sang istri sudah berada di ruangannya dan makan siang bersama, atau mungkin beritual mesra agar makan siang makin lahap karena lapar kehabisan energy.


Ting


Notifikasi ponselnya berbunyi, dan menampilkan shortcut pesan dari asisten pribadinya, Julian Adiputra.


...---------------------- Privat Chat ----------------------...


📩 Julian


Lapor Boss, Nyonya Boss ada di kantin kantor lantai 5. Laporan selesai.


...---------------------- End Chat ----------------------...


Belum sempat Hega membalas pesan asisten pribadinya itu, satu pesan kembali masuk ke layar privat chat miliknya.


Tak lama masuk lagi sebuah pesan berisi foto tampak belakang, yang menampilkan sosok yang tengah tertidur berbantal kedua tangan yang terlipat di atas meja.


Dan Hega yakin itu adalah istrinya dari outfit yang ia pakai sepasang dengan setelan kerja miliknya.


Tidak berpikir dua kali dan tanpa membalas pesan Julian, gegas Hega bangkit dari kursi kebesarannya dan keluar ruangan.


Tujuannya sudah pasti, pria itu akan mendatangi istrinya. Karena itu sudah kesepakatan mereka, jika istrinya tidak mendatanginya, maka Hega yang akan mendatangi tempat dimana istrinya berada.


Tidak butuh waktu lama, sekitar kurang dari sepuluh menit pria itu sudah berada di lantai 5. Netra hitam pekat setajam elang miliknya memindai setiap sudut area hingga menemukan sosok yang ia cari.


Kaki panjangnya melangkah mantap menuju meja yang berada di pinggir area, tak menghiraukan banyak tatapan mata yang terus mengamati pergerakan pria dengan sejuta pesona itu.


" Eh, bang Gan-- ups Presdir maksud saya. " Amira nyaris memekik saat kembali memesan makanan malah mendapati suami sahabatnya itu sudah berada di sisi meja, berdiri dengan gagah dan penuh wibawa.


Julian sontak ikut menoleh dan mendongak. " Eh, gercep banget si Boss. " Ledek Julian disertai kekehannya, Hega melirik sekilas.


Tak merespon, Hega memilih mengabaikan celetukan sang asisten, mata elangnya kembali fokus pada sosok yang sepertinya tidak terusik sama sekali dengan keributan yang terjadi.


Padahal suasana kantin begitu ramai meskipun tidak terlampau penuh karena kebanyakan karyawan lebih memilih kantin yang ada di lantai 12 mengingat view dari sana lebih bagus untuk menyegarkan pikiran setelah setengah hari bekerja.


Keramaian semakin kentara saat kemunculan tiba-tiba sang Presdir di tempat yang nyaris tidak pernah dikunjungi oleh pemilik kuasa tertinggi GIG tersebut. Karena Hega hanya akan melakukan inspeksi area kantin dalam secara pribadi dalam kurun waktu tiga bulan sekali. Selebihnya ia cukup mendapat laporan dari divisi terkait saja.


Pesona Presdir yang terkenal jutek itu memang tak terbantahkan.


Lihat saja para karyawan yang tengah menanti makan siang mereka sembari mengobrol seketika atensi mereka terfokus pada satu titik. Bisik-bisik mulai terdengar.


Tapi keributan tak bertahan lama, saat mata beriris hitam pekat itu memindai seluruh area dengan tatapan tajam seolah memerintahkan agar semuanya berhenti bersuara.


Ditatap seperti itu tentu saja membuat bulu kuduk mereka seketika merinding dan nyali menciut. Walau tak sedikit karyawati yang malah ingin berteriak histeris saking berdebarnya ditatap sedemikian rupa.


" Bang, mau di bangunin nih ? " Tanya Julian sambil melirik sosok yang tengah tertidur cantik.


Pria itu menggeleng, tanpa mengatakan satu patah katapun, tubuh gagahnya mendekat ke kursi dimana istrinya berada.


Tangannya di punggung dan bawah lutut istrinya. Dengan satu kali sentakan, tubuh ramping berbalut dress putih dengan blazer warna abu itu sudah berada dalam gendongannya.


Sontak saja tindakan pria itu nyaris membuat banyak mata melotot saking terkejutnya, bahkan ada yang kelepasan berteriak histeris walaupun dengan cepat langsung dibekap oleh teman yang ada di sampingnya.


" Amira, maaf sepertinya kamu harus makan siang tanpa istri saya. " Ucap Hega yang untung saja tidak terdengar oleh karyawan lainnya, karena kursi mereka berada sedikit agak jauh dari karyawan lain.


Walaupun tentu saja efek tindakan sang Presdir tetap saja membuat heboh, tapi tentu saja tidak ada yang berani berkomentar.


Amira mengangguk, untung saja ada Julian, jadi makanan untuk Moza tidak akan mubazir kan.



Sepanjang koridor, Hega sesekali mengulas senyum tatkala mengintip wajah cantik yang bersandar di dadanya dengan begitu nyaman. Wajah polos istrinya yang terlihat begitu pulas dalam tidurnya.


Memang tidak bisa dipungkiri, bagi Moza pelukan suaminya adalah tempat ternyaman baginya saat ini.


Sepertinya dewi fortuna memang masih berada di lihat Moza, karena lorong yang biasanya ramai oleh lalu lalang karyawan terlihat begitu lengang saat ini.


Sedangkan bagi Hega sendiri, pria itu sudah tidak mau ambil pusing kalau identitas istrinya terbongkar di kalangan karyawanya. Lagipula tidak akan ada yang berani membawa keluar segala informasi tentang GIG, apalagi mengenai informasi pribadi pemilik perusahaan.



Setibanya di ruangannya dilantai 15, Hega langsung menuju privat room, membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan sangat perlahan.


Melepas blazer berwarna abu-abu sang istri dan menyisakan dress putih dibawah lutut agar tidur istrinya lebih nyaman. Setelah mengatur suhu ruangan, Hega memberi satu kecupan di pelipis Moza dengan penuh rasa sayang.


" Tidur yang nyenyak, sayang. " Bisiknya lirih, senyum bahagia terkembang di bibir Hega.


Hatinya selalu berdebar setiap menatap wajah ayu istrinya yang begitu menawan bahkan ketika gadis itu sedang terlelap.


Setelah memastikan istrinya nyaman, Hega kembali ke ruang kerjanya dan Ragil Anggara yang sedari tadi mengekorinya tampak sudah siap menerima perintah.


" Tuan Muda, bagaimana dengan makan siangnya ? "


Hega melirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Pukul 12.50


" Siapkan satu jam lagi, Gara. Biarkan istriku tidur dulu setidaknya satu jam. "


Ragil Angggara mengangguk patuh. " Baik Tuan Muda. Apa ada yang Anda butuhkan saat ini ? "


Hega yang sudah duduk kembali di kursinya mendongak menatap asisten pribadi sekaligus ajudannya itu. " Tidak, lakukan pekerjaanmu. "


Pria yang selalu mengenakan setelan jas serba hitam itu kembali mengangguk dan hendak undur diri, tapi belum juga mulutnya bersuara, namun terjeda oleh pertanyaan yang sebenarnya pasti atasannya itu sudah tahu jawabannya.


" Gara, apa dari awal kau tahu dimana istriku magang ? "


Dengan tenang Ragil Anggara mengangguk membenarkan, membuat Hega menghela nafas panjang.


" Maaf kalau saya tidak mengatakannya pada Tuan Muda. "


Hega menggeleng dan mengibaskan satu tangannya. " Tidak, bukan salahmu. Memang dari awal tugas utamamu hanya menjaga keselamatannya. " Tegas Hega.


Sebagai shadow guard, Ragil Anggara tahu jelas tugas dan batasannya. Meskipun pria itu mengawasi segala kegiatan istri sang tuan muda. Namun tidak lantas semua hal harus dilaporkan pada Hega ataupun Suryatama.


Lagipula Moza bukanlah tahann rumah yang harus diawasi dan dilaporkan segala kegiatan dan gerak geriknya. Suryatama menekankan pada Ragil Anggara untuk menjaga privasi sang nona. Menjaga keselamatan tanpa mencampuri urusan pribadi nona mudanya itu.


Kecuali ada kejadian khusus yang menyangkut keselamatan dari istri tuan mudanya itu.


" Kembalilah satu jam lagi, tapi tetap siapkan untuk staff Sekretaris. Dan pastikan tidak ada yang membahas yang terjadi di kantin hari ini. Jangan sampai istriku merasa tidak nyaman. "


" Baik, Tuan Muda. Untuk itu sudah saya sampaikan pada Sekretaris An. "


" Ya, kau boleh pergi. "


Ragil Anggara mengangguk dan membungkuk hormat, kemudian meninggalkan ruangan kerja Presdir.


Seperti inilah Hega Saint, penuh pertimbangan. Segala sesuatu sudah dia atur sedemikian rupa demi kenyamanan sang istri. Tidak boleh sampai ada yang membuat istrinya kepikiran, bagi Hega, istrinya hanya boleh memikirkan satu hal, yaitu dirinya seorang. Sungguh kaum bucin sejati yang tidak akan tertandingi.


Tapi apa benar semua akan terjadi sesuai pengaturannya ? Bukankah mulut netizen terkadang lebih pedas dari mie setan level neraka, atau ayam geprek level dewa.


Entahlah kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya ? Apa ada yang berani cari mati dengan menganggu kenyamanan wanita terpenting dalam hidup seorang Hega Airsyana Saint ?


***


Selamat lebaran semua, maaf lahir batin.


FYI : Author recehan ini mau bagi angpao pulsa 10K ada yang mau ikutan ? Komen Dan tinggalkan jejak ya kalau minat, kalau ada 10 orang aja yang mau ikutan baru author jalankan.


Btw LEBARAN NIH, KASIH SAWERAN KOPI NAPA 😍