FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 51 • Always Bara



...☆☆☆...


Moza yang merasa kesal sejak pagi karena mengetahui siapa pelaku di balik raibnya koper miliknya serta insiden gaun tidur yang membuatnya malu setengah mati di hadapan sang suami.


Gadis itu merasa seperti wanita penggoda yang menggunakan tubuhnya untuk merayu seorang pria, yeah walaupun pria itu tak lain adalah suaminya sendiri sih. Toh suaminya tampaknya tidak keberatan. Tapi tetap saja kan Moza tidak terbiasa memakai pakaian se-seksi itu.


Dan kekesalannya bertambah saat baru memasuki area tunggu saja gadis itu semakin dibuat kesal dengan tampang tengil seseorang. Belum lagi saat mendengar celetukan menyebalkan orang itu yang berhasil membuat darahnya kemabali mendidih marah.


" Ciyeee, penganten baru, wangi bener pagi-pagi begini. Rambut basah muka cerah. " Yeah, siapa lagi jika bukan si mulut dakjal Bara Prasetya yang sedang meledek Hega dengan tampang songong nya.


Memang ya nih bocah kagak bisa kalo sehari aja nggak bikin gara-gara sama gue.


Hega melengos, " Masih pagi, Bar. Jangan bikin gara-gara sama gue ! " Hardik Hega malas.


Hih, pengen aku selotip itu mulutnya, sekalian aku tendang kakinya biar tau rasa.


Moza sendiri sudah jelas malas meladeni sosok yang menjadi sumber kekesalannya, dan memilih menuju kerumunan keluarganya. Tak jauh dari tempat dimana suaminya tengah bersama bersama sahabat gilanya itu.


Hega memilih duduk di kursi dengan kaki bersilang, menyilangkan kedua lengannya di dada.


" Gimana, Ga, hadiah dari gue ? Mantep kan ?! Pasti mantep dong, secara lo keliatan seger bener, roman-romannya sukses nih ritual lepas perjaka. Ya nggak, Der ? " Cerocos Bara sembari menaik turunkan alisnya, melirik Derka sekilas mengisyaratkan agar sahabatnya itu ikut bergabung dalam misi membuat Hega sebal.


Derka yang baru datang ikut menjatuhkan diri di kursi masih sekedar menyimak.


" Sok tahu lo. " Ujar Hega dengan gaya jutek yang memang menjadi ciri khasnya.


" Heleh, nggak usah ngelak lo, kalo bukti otentik ada di di depan mata. " Bara menaikkan alisnya menunjuk ke arah leher Hega sembari sengaja mengusap lehernya sendiri. Memberi isyarat jika dirinya melihat bekas cakaran di salah satu tubuh Hega itu.


Shiittt. . . Nih bocah matanya udah kayak agen mata-mata. Hega reflek menaikkan sweaternya yang berkerah turtle neck.


Bara terkekeh puas karena berhasil membuat sahabatnya sedikit salting, catat ya hanya sedikit, tapi itu sudah cukup membuat Bara merasa menang.


" Makasih nya mana dong ? Kan itu juga berkat kontribusi gue yang bikin firstnight lo bisa sukses. Kalo gak ada special gift yang gue siapain, mana mungkin tuh bekas percintaan sampai tercetak di badan lo ?! " Celetuknya kemudian panjang lebar dengan gaya tengilnya. Sok pengalaman, ehh, emang doi pengalaman sih masalah begituan.


Special gift ?


Hega yang belum terkoneksi perihal pembahasan Bara hanya bisa mengerutkan keningnya, menatap tak paham pada sahabatnya.


" Cih, jangan sok pura-pura kagak tahu lo. Agghh, gue penasaran sebanyak apa hasil karya yang udah dibuat sama si singa cantik galak lo itu. Sini gue mau liat ! " Bara bangkit dan mencondongkan tubuhnya hendak menggapai kerah sweater sahabatnya itu.


Begitu antusias ingin tahu apa gerangan yang disembunyikan Hega di balik baju dengan bagian leher yang cukup tinggi itu.


Tapi dengan cepat Hega berhasil menangkisnya, " Apa sih, Bar ? Jangan kurang ajar lo. " Ancam Hega lengkap dengan tatapan membunuhnya.


" Dan lagian lo ngomongin apa sih dari tadi ? Gak paham bener gue apa yang lo omongin. Gift apaan ? " Imbuh Hega kemudian.


" Ck. . . Gini ini, Der, repotnya kalo kita punya sohib beruang kutub. Suka tiba-tiba pasang mode dingin dan sok gak peka, padahal---auwh. . . anjirrr, males gue nih kalo udah main timpuk segala. " Bara mengumpat setelah sebuah cookies melayang tepat di wajahnya.


" Pusing gue dengerin lo, Bar. Berhenti muter-muter, lo nggak liat gue lagi gak mood buat becanda apa, hah ?! "


Yah maklum, Hega gagal mengajak istrinya olahraga di kamar mandi, yang ada malah istri cantiknya itu malah cemberut dari tadi. Dan lebih parahnya, pria tampan itu tidak tahu alasan yang membuat modd sang istri memburuk seperti itu.


" Hidih, sensian amat. Kurang lo asupan nutrisinya dua malam ngelonin bidadari, hah ? Padahal gue udah sengaja siapin nightgown spesial buat first night lo biar malam panas lo lebih bergelora gitu hahaha. . . Eh lo nya mah kagak bersyukur, sepet mulu wajah lo. "


Jadi ini biang keroknya ?


Hega reflek menatap Bara dengan tatapan menyelidik.


Bara terus ngedumel sendiri, tidak menyadari jika sahabatnya sudah menatapnya dengan tatapan horornya.


Derka yang tadinya mau menyahuti Bara dan ikut-ikutan meledek Hega, langsung memilih bungkam saat melihat ekspresi Hega yang berubah menakutkan. Daripada kena imbasnya mending tutup mulut dan jadi penonton saja.


Kali ini Derka menganut paham silent is gold [ diam adalah emas ].


Lumayan lah, liat Bara teraniaya kan cukup bisa jadi hiburan ditengah kepenatan pekerjaannya sebagai seorang dokter.


" Jadi itu kerjaan lo, Bar ?! " Tanya Hega akhirnya.


" Yoi, nice kan ?! Lo pasti mau terima kasih sama gue ? " Bangganya seraya menaikkan kerah kemejanya.


" Tapi gak perlu, itu gue lakuin ikhlas kok, tapi kasih kenaikan gaji buat gue juga gak masalah, gue terima dengan senang hati. " Nyerocos dengan sangat percaya diri.


Jeduk. . .


Hega menendang kecil kaki Bara yang duduk tepat di hadapannya.


" Aduh, anjirrr. . . Siyalan lo, Ga. Laknat bener jadi temen. Bukannya makasih dan naikin pangkat atau gaji gue malah nendang. " Bara mengumpat sambil menunduk mengelus kakinya yang baru saja terkena tendangan maut di bawah meja.


" Naik gaji palak lo, yang ada gue kirim lo ke Kutub Utara sana, mau ? " Hega memaki dengan wajah datarnya.


" Lah apa salah gue coba ? Harusnya lo seneng kan sama kado spesial gue, gue ma Aliza muter-muter itu carinya, yang paling berkualitas, merek mahal koleksi Victoria Secret--- katanya sih. " Ujarnya beralasan.


" Seneng dari mana ? Lo nggak liat apa bini gue dari tadi wajahnya udah kayak mau makan orang. " Ucapnya seraya menunjuk dagu ke arah sang istri yang tengaj berbincang dengan adik dan kedua orangtuanya.


Gimana gak kesal, udah gagal olahraga di kamar mandi, ditambah dicuekin istrinya lagi.


" Hah ??? "


Iya sih, si Momo cantik tadi liat gue wajahnya asem bener, meskipun masih keliatan cakep sih. Dasar singa cantik. Upsss.


Batin Bara heran dan langsung geleng-geleng kepala karena keceplosan memuji istri sahabatnya, untung cuma dalam hati. Coba keceplosan di mulut, bisa beneran langsung dapat tiket kilat ke Kutub dia. Hih, amit-amit.


...------------------...