
" Maaf, Prof. Apa anda berusaja mengatakan hal lainnya ? "
" Saya ? "
Tentu saja anda, Prof. Memangnya ada siapa lagi diruangan ini selain saya dan anda ? Inginnya sih nyeletuk begitu, tapi lagi-lagi itu adalah hal yang tidak sopan untuk diucapkan pada dosen kita kan ?
Melihat tatapan curiga mahasiswinya, pria itu tetap tenang seperti biasanya, " Saya tidak mengatakan apapun. "
Ekspresi Moza masih sama, tetap berusaha setenang dan sesopan mungkin.
" Yang jelas segera tanda tangani KRS baru kamu di bagian Kemahasiswaan. Saya sudah bantu mengatur ulang jadwal kuliah kamu semester ini. "
" Intinya mulai semester ini saya yang akan menjadi Dosen Pembina kamu, kamu tahu kan setiap mahasiswa beasiswa memiliki dosen Pembina untuk memantau agar grade nilai mereka stabil dan agar lulus dengan tepat waktu, kalau bisa lulus lebih cepat malah lebih bagus. "
" Dan sebagai dosen Pembina, saya berkewajiban untuk memantau dan membantu agar proses menuju kelulusan kamu berjalan lancar. Serta memberi masukan dan saran terbaik yang bersifat akademis. Kamu paham kan ? "
Moza akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah, sudah tidak ada jalan untuk menolak. Apalagi mendengar rentetan pernyataan yang jelas-jelas bukan sebuah pertanyaan penawaran dengan pilihan ya atau tidak.
" Bagus, untuk surat magangnya akan kamu terima akhir bulan ini dan kamu bisa mulai magang awal bulan depan di perusahaan yang sudah ditetapkan oleh pihak kampus. "
" Maaf Prof ??? "
" Ada yang kurang jelas ? "
" Maksud Profesor, perusahaan nya sudah diatur oleh kampus dan bukan mahasiswa sendiri yang mencarinya ? "
" Kamu tidak lupa kan kamu kuliah di kampus apa ? " Moza reflek menggeleng.
" Tidak mungkin kan kalau kamu berpikir kampus sebesar ini membiarkan mahasiswanya repot-repot mencari tempat magang mereka. Apalagi kamu tahu kan biaya kuliah disini bisa dibilang 'cukup tidak masuk akal'. Jadi tentu saja itu harus setara dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak kampus. "
Kini Moza mengangguk mengerti arah pembicaraan dosennya. Tapi kenapa ya aneh saja penekanan di beberapa katanya, seolah ingin menyindir seseorang dengan kalimatnya itu. Apalagi saat sekilas tadi Moza sempat melihat dosennya itu beberapa kali melirik rak buku di sisi kanan ruangannya.
" Apalagi dengan status kamu yang---. " Lagi-lagi Moza dibuat mengerut tak suka pada kalimat dosennya yang sepertinya akan mengungkit kembali status nya sebagai menantu Arya Tama Saint.
" Yang seorang mahasiswa beasiswa. Sebuah potensi harus didukung dengan maksimal oleh kembaga yang menaunginya agar melahirkan generasi muda yang tangguh dalam bekerja membangun bangsa. "
Haish, pintar sekali dosennya itu memutar kalimatnya. Baru saja Moza hendak keluar tanduk di kepalanya.
" Ucapan saya benar kan, Nona Moza ? "
Moza mau tak mau tersenyum, " Terima kasih atas dukungan pihak kampus untuk para mahasiswa, semoga kami bisa memenuhi harapan kampus dan menjadi lulusan kebanggaan untuk almamater nantinya. " Ujar Moza yang terlihat berusaha bersikap tenang tak lupa 'tawa karirnya'.
" Tentu saja harus seperti itu. Semoga semua mahasiswa memiliki tanggung jawab moril seperti kamu yang masih memikirkan untuk membanggakan almamaternya. " Moza hanya mengangguk.
" Baiklah, yang harus saya sampaikan sudah saya katakan semua, kamu boleh pergi. "
" Terima kasih, Prof. "
" Hm. "
Baru satu langkah membalikkan badan, Moza kembali memutar tubuhnya ke arah semula, " Ah maaf, Prof. Yan, kalau boleh ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. "
Pria itu menatap penasaran apa gerangan yang akan disampaikan mahasiswinya itu dengan ekspresi datarnya.
" Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mohon Prof. Yanuar tidak memperlakukan saya berbeda karena status saya yang 'lainnya'. Karena saya sendiri juga tidak akan dengan sengaja memanfaatkan status saya 'tersebut' untuk memudahkan tugas dan kewajiban saya sebagai mahasiswa ataupun ketika menjadi individu bersosial nantinya. "
Pria paruh baya dengan penampilan rapi dan berwibawa itu seketika sedikit terperangah, tapi sesuai pengalamannya, pria itu dengan sangat mudah mengendalikan ekspresinya.
Moza tersenyum sekilas, " Saya tidak tahu pasti, hanya saja ada yang berbeda. Apalagi mengingat personality Prof. Yan. Maaf saya hanya tidak ingin ada yang melihat hal ini perlakuan khusus yang bisa jadi mempengaruhi nama baik Profesor. "
" Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Saya akan memperlakukan kamu sama seperti mahasiswa saya lainnya. "
" Terima kasih, Prof. Saya pamit undur diri. "
" Ya, tolong tutup pintunya saat kamu keluar. " Moza mengangguk dan membungkuk hormat kemudian keluar dari ruangan itu.
Pria itu menghempaskan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya, menghela nafas panjang. Hampir saja tadi ia tersedak mendengar penuturan tegas mahasiswinya itu.
Heran ? Tentu saja.
Satu hal yang membuat pria yang satu ini lagi-lagi harus merasa kagum dengan sosok gadis satu ini. Selain berkarakter kuat, tegas tapi kepeduliannya pada hal yang sebenarnya bukan kewajibannya itu yang mungkin patut diacungi jempol. Mengingat jaman sekarang Banyak muda-mudi yang lebih suka hal instan.
Disaat banyak orang berlomba-lomba mendapat kemudahan bermodal status, kekuasaan dan harta mereka, gadis di hadapannya ini justru sebaliknya.
Pria itu bahkan masih ingat ekspresi terkejut gadis itu saat tadi pagi dengan sengaja dirinya mengatakan bahwa ia mengetahui status gadis itu sebagai menantu Arya Tama Saint.
Disaat banyak gadis yang akan dengan sukacita menjadi menantu Arya Tama dan pasti akan berbangga diri pada dunia memamerkan status mereka.
Gadis yang satu ini justru seolah ingin menyembunyikan statusnya sebagai Nona Muda keluarga ternama dan berkuasa itu.
Spesial..
Itulah satu kata yang mewakilkan penilaian seorang Yanuar Wijaya pada menantu sahabatnya itu.
" Hahaha... " Pria yang duduk di kursi kebesarannya dengan wajah herannya itu dikejutkan oleh suara tawa pria yang sedari tadi bersembunyi di ruangan yang ada di balik rak buku miliknya.
" Puas kamu, Ar. "
" Tentu saja, coba kamu bisa lihat ekspresi kamu tadi yang seperti tersedak duri. "
" Hisss. "
" Sudah aku katakan padamu, Yan. Menantuku itu berbeda. Dan karena dia berbeda, maka dialah yang pantas menjadi menantuku. "
" Iya dia memang beda, lagipula memang harus seorang yang berbeda yang bisa menghadapi mertua sepertimu. Apalagi kudengar putramu itu juga bukan pria yang mudah ditangani. Bahkan oleh ayahnya sendiri, ck. " Balas Yanuar masih tak mau kalah.
" Tetap saja, dia gadis luar biasa. "
" Iya iya, dia memang luar biasa. Puas kamu membanggakan menantumu, heh ? Bosan aku mendengarnya, sedari pagi kamu terus memuji menantumu. "
Yanuar menghela nafas heran, suatu yang langka seorang Arya Tama yang terkenal tak suka banyak bicara itu malah seharian ini mengoceh kesana-kemari tentang menantunya, menantunya inilah, itulah. Padahal putranya sendiri tak pernah sampai segitunya dia banggakan.
Dan jangan lupakan raut wajah sumringahnya setiap kali membahas putra dan menantunya, pria yang jarang sekali menunjukkan ekspresinya itu benar-benar memperlihatkan kebahagiaannya.
" Tentu saja. Apalagi saat melihat ekspresi wajah aneh seorang Yanuar Wijaya. Hahaha. . . " Arya Tama tergelak puas karena berhasil mengalahkan sahabatnya.
" Makanya kamu cari mantu sana, Yan. " Ejek Arya kemudian.
" Yayaya, aku akan cari mantu yang lebih hebat dari mantumu, Ar. Dasar kau ini. "
" Selamat berjuang, teman. Aku pergi dulu. "