
Diatas panggung Miko dan Stela sama-sama terlihat bingung. Tentu saja juga membuat penonton penasaran, secara mereka tidak bisa melihat angka yang tertera di bidding board yang membuat dua MC acara sampai terheran seperti.
" What ? Are you kidding ? Upss. . . [ Apa ? Apa anda bercanda ? Ups. . . ] " Miko reflek terpekik saat melihat satu angka yang tertulis disana, yeah hanya satu angka. Dan itupun adalah angka 1.
Hei, tawaran tertinggi aja udah melebihi seratus juta loh.
Pria itu hanya menggeleng sebagai respon, memberi isyarat pada sang pembawa acara jika ia memang sedang tidak salah menuliskan angka.
Itu angka satu yang tertulis di bidding board maksudnya apa ? Satu juta kah ?
Kan tawarannya udah puluhan juta, mana ada orang nawar di acara lelang dengan angka dibawah angka tertinggi ?
Normalnya yang namanya lelang itu harus semakin naik dong angkanya.
Memangnya nawar cabe di pasar apa ? Ehh, cabe aja belum tentu juga bisa ditawar kan ?
Atau jangan-jangan itu maksudnya bukan satu juta tapi mungkin satu milyar.
Weiiitsss, yang ini lebih enggak mungkin kan ?
Mana ada orang waras yang rela menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk makan malam dengan seorang wanita. Dan itupun hanya untuk sekali. Ya kali wanitanya artis dunia ? Atau putri kerajaan mana gitu ?
Atau apakah mungkin jika memang seorang Moza Artana sedahsyat itu pesonanya ? Hingga membuat seorang pria dengan mudahnya mengeluarkan uang senilai 1 Milyar hanya untuk makan malam dengannya.
Stela dan Miko saling melempar pandang, kemudian kembali fokus pada si pria yang sama sekali tidak pernah mereka lihat itu.
Eh, tunggu !!! Sepertinya Miko merasa tidak asing dengan wajah itu, tapi siapa dan dimana ketemunya ?
" One for a million ? [ Angka satu untuk satu juta ? ] " Miko memancing, keningnya mengerut, dan pria yang menjadi lawan bicaranya itu itu kembali menggeleng dengan entengnya.
Miko menelan ludah sebelum kembali bertanya. Wajahnya mulai berkeringat karena gugup, saking gemetarnya dengan dugaannya sendiri.
" Hei, don't say if the number one for-- [ Hei, jangan bilang kalo angka satu itu untuk--]. " Miko sudah emosi sepertinya, hingga sejenak melupakan jika ia harus menggunakan kalimat yang sopan pada pria yang tengah menjadi lawan bicaranya.
Lihat saja cowok itu kembali bicara santai seperti yang dia lakukan sejak awal acara. Tapi jelas terasa jika Miko sedang gugup saat ini, cowok itu bahkan tidak sanggup mengucapkan kata miliyar dengan bibirnya, tertalu gemetar.
" Yes, as you guessed. One for one billion. [ Ya, seperti yang anda tebak. Angka satu untuk satu milyar ]. " Pria berjas navy itu menyahuti dengan nada datar, sedatar ekspresi wajahnya.
Jegerrr....
Kedua pembawa acara itu kembali dibuat melotot kaget dengan ucapan pria itu. Bahkan mulut Stela sudah menganga tidak percaya.
Namun tidak hanya mereka saja yang syok dibuatnya, tapi juga barisan tribun undangan tidak kalah kagetnya. Ini adalah nominal rekor terbesar yang pernah dihasilkan dalam sejarah acara lelang yang diadakan Dwitama University.
Bahkan kini para tamu yang duduk di barisan VVIP juga ikut dibuat syok. Kecuali Yanuar Wijaya, pria itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Sepertinya kegilaan sahabatnya-Aryatama, menurun pada putra pria itu.
Dan semua pemuda yang tadi ikut dalam penawaran dipaksa menelan kekecewaan karena suara mengejutkan dari salah satu tamu undangan khusus yang duduk di barisan kursi VVIP.
Suara bass pria itu sontak membuat tercengang semua orang yang ada di auditorium kampus ternama itu dengan angka penawarannya yang fantastik.
Sepertinya ini akan menjadi makan malam termahal abad ini.
Padahal si tokoh utama saja tidak tahu jika namanya berada di kertas lelang yang ada di tangan pembawa acara. Gadis itu malah terkurung di belakang layar, bersama dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi rekan satu team nya saat kegiatan KSM seminggu lalu.
Julian yang mengintip dari sisi panggung langsung bersorak senang dengan senyum tengilnya.
" Yes, that's my idea. Gotcha 😏. "
Sepertinya kesenangan Julian tidak akan bertahan lama.
Lihat saja cowok tengil itu sudah seperti seorang pesakitan yang sedang disidang. Julian menelan ludah mendapati dua orang yang sedang menatap horor padanya.
" Ampuuun, Baaaang !!! Emang gue sengaja masukin nama Momo buat puncak lelang amalnya, karena gue tahu bang Hega juga bakalan dateng di acara itu, hehe. Peaceee !!! "
Tuh kan, masih saja sempet-sempetnya Julian menyengir, niat tidak sih sebenarnya minta pengampunannya ?
Tapi harus diakui, otak bisnis Julian kali ini patut diacungi jempol. Tapi tetap saja Hega murka, beraninya menjual nama istrinya, bagaimana jika tadi dirinya tidak datang di acara itu. Mungkin Julian saat ini hanya tinggal nama.
Yang jelas sepasang suami istri itu tampak masih murka.
Berbeda dengan istrinya yang jelas terlihat marah dengan mata kecoklatannya yang memicing tajam. Hega justru sebaliknya, pria itu tampak tenang dalam posisi bersandar di sofa.
Satu tangannya menyampir di sandaran sofa di belakang bahu istrinya. Sesekali mengusap lembut kepala belakang istrinya dengan sayang. Sedangkan tangan lainnya berada di atas pahanya yang bersilang.
Dan ekspresi datar yang diperlihatkan oleh Hega justru membuat aura pria itu lebih menajam. Julian saja sampai bergidik dibuatnya.
Julian jadi setuju dengan apa yang pernah Bara ucapkan, bahwa diamnya seorang Hega itu lebih menakutkan daripada amarahnya.
Julian langsung menelan ludah kasar, otaknya berputar cepat. Dan bukan Julian Adiputra jika tidak bisa merangkai seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.
" Sumpah gue nggak ada niat jelek sama Momo, Bang. " Lanjut Julian, sepertinya masih ada rangkaian alasan yang tersusun di kepalanya.
" Lagian nih ya, Bang, dengan gini setidaknya semua cowok yang mau deketin Momo jadi keder dong, kan saingannya berat abis. " Ujar Julian seraya mengedipkan satu matanya ke arah Hega.
" Mereka jadi tahu dong kalo buat deket sama seorang most wanted seperti Momo mereka harus punya kualifikasi seperti apa. Dan dijamin kagak ada tuh yang bisa memenuhi standart, mereka udah mundur teratur karena sadar diri kalo mereka kagak ada apa-apanya dibanding Abang nih. " Sambung Julian dengan sangat cepat seolah tidak memberi celah bagi sepasang suami istri itu untuk memarahinya.
" Jangankan untuk deketin Momo secara personal, buat sekedar makan malam satu meja sama Momo aja mereka harus pikir-pikir ulang. " Cowok itu masih nyerocos bak seles panci yang lagi demo masak.
" Dan secara satu M gitu, mana ada coba cowok gila yang mau ngeluarin duit segede itu cuma buat dinner sama Momo, itupun cuma sekali doang. Kagak waras kalo ada yang mau. " Cerocos Julian yang sepertinya mulai kehilangan kewarasan.
Kalimat terakhir Julian langsung membuat Hega memelototi dirinya dengan sangat mengerikan. Sedangkan Moza malah terkikik, melupakan kekesalannya pada sahabat tengilnya itu.
" Eh, ada sih ya yang segila itu. Upppssss. . . " Julian tercengir dan langsung menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari tatapan Hega yang horor dan bikin merinding sudah menghunus tajam mengarah pada dirinya.
" Sejak akan berhenti jadi asisten saya, sepertinya kamu makin ngelunjak ya, Julian. Ingat ya, kamu belum resmi mundur dari posisi itu. " Geram Hega dingin.
" Hehehe, maaf bang, keceplosan gue, hehe. "
" Sepertinya kamu juga sudah bosan menghandle proyek resort dan hotel yang ada dalam naungan Golden Imperial Group. " Ucap Hega lagi dengan nada yang sangat datar namun terdengar mengancam.
" Hah ? " Julian nampaknya belum connect.
" Sepertinya belum terlambat untuk mengganti perusahaan konstruksi yang---. "
Julian langsung melotot saat mengerti arah pembicaraan atasannya.
" Ampuuuunn, bang. Yaelah becanda gue, Bang. Beneran ampun deh, gue masih betah kerja sama Abang. Please jangan gantiin perusahaan papa gue ya bang, please. Gue butuh modal gede buat kawin. Bisa dicoret gue dari ahli waris kalo sampai kontrak GIG sama ATRA di stop. " Sahut Julian menyela cepat sebelum suami sahabatnya itu selesai bicara.
Plak
" Auwsssh. . . Sakit, Deaaaa. " Julian meringis dan menoleh ke arah sumber pukulan.
Darimana datangnya cewek bar-bar ini sih ? Sudah kayak setan. Julian mengumpat dalam hati saja tentunya.
" Makanya punya mulut itu dikontrol. Nikah dulu baru kawin. " Omel Deana setelah menggeplak punggung Julian.
" Ujung-ujungnya kawin juga. " Gerutu Julian lirih dan langsung mendapat pelototan Dea.
•••
YEY, urutan pertama yang jawabannya bener langsung DM IG aku ya, kode nya GA-FLD.Ch149