FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 70 • Kencan Yuk, Sayang



...☆☆☆...


Setelah insiden bahas 'cicit' yang sempat merubah suasana haru seketika mendadak horor, Moza hanya bisa menggigit bibirnya kelu.


Bingung harus menjawab apa ketika sang kakek bertanya apakah mereka berencana menunda untuk memiliki momongan atau tidak ?


Takut salah jawab.


Kalau dijawab iya, Moza takut mengecewakan sang kakek, meskipun kenyataannya mereka memang tidak berencana menunda juga sih. Hanya belum siap saja.


Kalau dijawab tidak, Moza takut sang kakek akan berharap. Padahal dalam hati Moza masih merasa belum siap untuk hamil di usianya saat ini mengingat kuliahnya juga masih kurang satu tahun lagi. Setidaknya saat lulus kuliah lah mungkin Moza bisa mempersiapkan diri, setidaknya tidak ada kesibukan kuliah.


Aahhh sudahlah, biarlah semua sesuai rencana Tuhan saja.



Moza sedang berada di ruang tengah, duduk di atas lantai beralaskan matras bulu berwarna coklat. Kedua lengannya berada di atas meja,  tengah fokus pada beberapa buku tugas yang harus segera ia selesaikan.


Satu tangan sibuk menggores tinta di atas lembar tugas, tangan lainnya beberapa kali tampak membolak-balik halaman buku tebal yang ada di sisi kirinya.


Manik mata Moza yang terbingkai kacamata bulatnya menandakan gadis itu tengah serius dengan aktivitas belajarnya.


Begitu seriusnya hingga ia tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang tengah mengamati dirinya dengan tatapan mata elangnya.


Hega yang barusaja menyelesaikan ritual mandinya, masih juga tidak menemukan istrinya di semua sudut kamar. Setelah berganti baju, pria itu beranjak dari kamar hendak mencari keberadaan sang istri.


Baru saja hendak melangkah keluar dari pintu kamar, netra hitam Hega terhenti di salah satu sisi ruangan. Istri cantiknya ternyata tengah duduk bersila dengan wajah yang terlihat serius.


Kacamata bulatnya membuat gadis itu terlihat imut dan dewasa diwaktu yang bersamaan. Hega begitu takjub melihat begitu mempesonnya sang istri meskipun dengan tampilan apa adanya ala rumahan itu, rok selutut berwarna hitam dengan kaos grey longgar, dan rambut yang jelas terlihat dicepol asal-asalan.


Wajah cantik alami tanpa make up, sekali lihat saja Hega tahu jika sang istri belum sempat berdandan sedikitpun.


Istriku cantik banget, Tuhan.


Hega bersandar di pintu, bergumam dalam hati sembari memandangi lamat-lamat wajah istrinya.


" Kamu sedang apa, sayang ? "  Hega mendekati meja dimana sang istri berada, dengan masih menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.


Moza menoleh, melihat sang suami yang begitu tampan hanya dengan kaos polos berwarna hijau muda dipadu celana selutut berwarna army, ditambah rambut basah yang membuat suaminya itu terlihat sangat segar.


Heyuuuh, visual suaminya benar-benar surgawi sekali. Nggak dilihat tuh mubazir, dilihat tuh bikin hilang fokus mendadak, gak bagus buat jantung. Bawaannya disko mulu jantungnya kalo liat wajah cakep suaminya.


Huffft, astagfirulloh. Lah kok malah istighfar, emang lagi liat setan ???? 🙄


" Kakak sudah bangun. Aku sedang mengerjakan tugasku untuk besok. "


" Kenapa tidak membangunkan aku, hem ? "


" Kakak tidur dengan lelap tadi, aku tidak tega membangunkan kakak. Lagipula semalam sepertinya kakak bekerja hingga larut malam. "


Ya memang semalam Hega baru menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam, pria itu tampak kelelahan, bahkan hari ini pun Hega kembali meringkuk di ranjang selepas sholat subuh, dan melewatkan ritual jogging paginya karena saking lelahnya.


" Tapi aku tidak suka jika tidak melihatmu saat bangun tidur. Jadi jangan lakukan lagi, oke. "


Moza menarik keatas sudut bibirnya, " Iya, aku tidak akan begitu lagi. " 


Jika bukan karena tugas yang harus dia kumpulkan esok, sepertinya minggu pagi ini Moza masih akan bergelung dengan selimutnya, bersembunyi dalam dekapan nyaman suaminya.


Atau malah keduanya akan melakukan ritual pagi berkeringat seperti sebelum-sebelumnya.


Tapi apa daya, ia lupa ada paper yang harus segera ia selesaikan.


Moza sengaja bangun pagi untuk mengerjakan tugas itu saat melihat sang suami masih terlelap dalam tidur.


Jika tadi ia tetap berada di ranjang dan membangunkan sang suami, bukannya mengerjakan tugasnya, yang ada malah dirinya akan dikerjai oleh suaminya.


Hish, enggak mau. Sekarang tugas nomor satu. Begitu pikirnya, ia tak mau sampai harus gagal dalam mata kuliah yang satu ini karena terlambat mengumpulkan tugas.


" Fyuuh, syukurlah. Sudah selesai. Tinggal diketik dan diprint. " Moza menutup semua buku di atas meja dan merapikannya.


" Sini, biar aku yang keringkan, kak. " Moza mengambil alih handuk di tangan suaminya, dan menggosok dengan pelan kepala Hega dengan handuk itu. Sesekali memberi pijatan ringan disana.


" Kenapa tidak dikeringkan dulu dengan pengering rambut ? "


" Salah sendiri kamu tidak ada di kamar saat aku bangun, aku jadi ingin buru-buru mencarimu. " Hega menarik pinggul istrinya hingga terjatuh di pangkuannya.


" Hish, ucapan kakak itu seolah aku suka menghilang tanpa ijin saja. "


" Aku kan sudah bilang, aku tidak suka terbangun dari tidur tanpa melihat wajah kamu. " Gerutunya sembari mengeratkan rengkuhannya di pinggul sang istri, sembari menikmati pijatan lembut di kepalanya.


Nyamannya dimanjakan sama istri, udah gitu yang manjain cantik lagi. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan.


" Hih, lebay. "


" Sudah, hentikan, yank. " Hega mendongak dan menggapai tangan Moza, menghentikan pergerakan tangan gadis itu di kepalanya.


" Tapi rambut kakak masih belum kering. "


" Nanti juga kering sendiri. " Moza akhirnya pasrah, meletakkan handuk di pinggiran sofa. Kemudian menyisir rambut berantakan suaminya dengan jemari lentiknya.


" Kita jalan yuk, yank ! " Hega menduselkan wajahnya di ceruk leher istrinya, membuat Moza mengernyit apakah gerangan yang membuat suaminya itu mendadak begitu manja seperti ini. Apa suaminya itu sedang kesurupan ?


" Jalan ? "


" Iya, jalan. Mau ya ? "


" Kemana ? " Tanyanya lagi dengan jemari masih asyik mengelus kepala suaminya.


Hega mendongak, menatap lekat manik mata istrinya, " Terserah, kemana aja gitu. Pokoknya aku mau nge-date sama kamu. Sebelum nikah kan kita belum sempat kencan beneran. " Dumalnya dengan ekspresi memelas menggemaskan. Kan jadi nggak tega mau nolaknya.


" Tapi tugas aku belum selesai, kak. Kalau besok aja gimana ? " Tawarnya sembari menangkup wajah menggemaskan suaminya yang bikin otak traveling.


" Kan tinggal di ketik sama di print aja kan ? " Moza mengangguk membenarkan.


" Nanti aku bantuin. "


" Tapi--"


" Gak ada tapi, pliss kita kencan, mau ya ya ya ?! "


Ihhh, gemes. Jadi pengen cium, ehhh ???? Hih, kenapa pasang ekspresi gini sih, dasar curang.


Moza menghela nafas lirih kemudian mengangguk setuju, " Eumm, ya udah deh ayo, aku siap-siap dulu ya, kak. "


" Tunggu ! " Hega mencekal tangan Moza saat gadis itu hendak bangkit dari pangkuannya.


" Auwhhh, apa lagi sih, kak ? "


" Morning kiss dulu dong, sayang. " Hega mengerucutkan bibirnya.


Huh, kali ini kelakuan suaminya bukan lagi bikin gemas, tapi mulai bikin naik darah, " Hish, ini sudah setengah siang tau kak, morning kiss apaan ?! " Ucap Moza sebal.


" Aku nggak mau tahu, pokoknya bangun tidur harus ada morning kiss, mau tidur night kiss. " Kekeuh Hega tak mau kalah.


Ampuuun, ini orang kerasukan apaan sih. Manjanya jadi berkuadrat-kuadrat gini. Mentang-mentang sudah halal, bawaannya nyosor mulu.


Pening kepala Moza kalau suaminya sudah mode seenak jidatnya begini. Gini nih kalo punya suami tiran, maunya sewenang-wenang, kalo udah maunya A ya harus dituruti A.


Kalau tidak dituruti ? Bisa-bisa sampai besok Moza akan berada di atas pangkuan suaminya yang dijamin tak akan mau melepaskannya sebelum mendapat apa yang dimaunya.


...----------------------------------...


...Ehhh, aku mulai main tiktok nih, biar kek anak jaman now hahaha. intipin yah, follow juga kalo mau....


...Akun nya sama dengan napen dan igeh aku @sherinanta...