
Prang
Entah untuk keberapa kalinya terdengar suara benda pecah dari kamar utama di lantai 3 itu ?
Yang jelas itu pasti karena amarah si pemilik kamar yang sekali lagi meluap. " Singkirkan semua itu dari sini ! Dan keluar kalian semua ! " Teriak suara bass yang terdengar sedikit serak itu.
Dua hari tidak sadarkan diri. Dan setelah sadar beberapa jam yang lalu, yang keluar dari mulut pria itu hanya kemarahan yang tidak ada habisnya.
" GARA ! "
" Tuan Muda. "
" Bawa aku keluar dari sini ! Siapa yang menyuruhmu membawaku kembali kesini, hah ?! " Hega memekik marah, netra hitam pekatnya begitu tajam seolah bisa menghunus siapa saja yang ada di hadapannya.
" Tuan Muda, s-saya---. "
" Kakek yang memerintahkan agar membawamu pulang, luapkan amarahmu pada kakek ! " Suryatama menyela di ambang pintu.
Kaki tua-nya melangkah mendekat ke sisi ranjang besar dimana cucunya sedang terbaring dengan selang infus yang masih terpasang di tangan kanannya.
" Aaarggggg----. "
" Kalian semua keluar, kecuali kau Ragil, tetap disini ! Sepertinya tenagamu akan dibutuhkan kalau-kalau anak ini hilang kendali dan harus ditaklukkan dengan paksa. " Ujar Suryatama penuh tekanan, pria seusia Hega yang sedari tadi berdiri di sisi ranjang Hega itu mengangguk patuh.
Setelah semua pelayan keluar dan pintu tertutup. Suryatama mengambil posisi duduk di sofa besar yang ada tak jauh dari ranjang dimana Hega berada.
" Mau apa kau setelah kembali ke apartemenmu ?! Mau menyiksa diri lagi dengan bekerja sampai mati, hah ? Apa itu maumu, begitu ? "
" Kakek tidak usah ikut campur, ini hidup Hega, kek. "
" Oh, jadi karena ini hidupmu, kakek tidak boleh mencampurinya begitu ? "
" YA. "
" Dan menunggu berita kematian mu, begitu ? Menyusul istrimu ? Itu yang kamu mau, hah ?! " Tekan Suryatama dengan nada sarkas.
" MOMO MASIH HIDUP, KEK. ISTRI HEGA BELUM MENINGGAL. " Amarah Hega kembali memuncak, suara bass nya menggema di penjuru ruangan.
Melihat kemarahan cucunya, Suryatama hanya mencibir dengan ekspresi datar. " Heh, kalau begitu buktikan keyakinan kamu itu ! Temukan istrimu jika kamu yakin istrimu masih hidup ! "
" Itulah yang Hega akan lakukan, dan masih Hega lakukan sampai saat ini. "
" Cih, dengan menyiksa diri di ruangan kerja tanpa makan dan tanpa istirahat ? Itu yang kau maksud dengan berusaha, hah ?! "
" Kakek rasa yang ada kau akan tumbang lebih dulu sebelum menemukan istrimu dan membuktikan keyakinanmu itu. "
" Hega akan menemukan Momo, Hega akan membawa kembali istri Hega pulang. "
" Buktikan ! Jangan hanya bicara. " Pria itu bangkit menuju pintu keluar, tapi sebelum kakinya melangkah meninggalkan kamar Hega, pria tua yang selalu ditemani pelayan pribadi setianya itu menolehkan kepalanya.
" Jika dalam satu bulan saat DNA itu keluar keyakinanmu itu tidak terbukti, maka kau harus bisa menerima kenyataan. Karena saat itu, kakek sendiri yang akan membuat papan nisan di makam kosong itu menjadi bernama. "
" Meskipun kakek sendiri juga berat melakukannya. Tapi hidup masih harus berputar, Hega. Kuatkan hatimu. Ada banyak kehidupan yang bergantung di tanganmu. "
Deg
Hega langsung membeku, pikirannya tertarik kembali kemasa lalu. Kalimat serupa yang diucapkan istrinya beberapa waktu sebelum insiden penculikan itu terjadi.
Pria itu langsung menghempas punggungnya di kepala ranjang. Kedua netranya memejam dan terdengar tarikan nafas berat.
Wajah cantik itu tersenyum manis, membuat Hega tak kuasa untuk mengulurkan tangannya menyentuh wajah ayu alami di hadapannya.
" Yang, aku kangen. Kamu kemana saja, Yang ? "
Tidak ada respon, gadis bermata kecoklatan itu kembali mengulas senyum. Kini telapak tangan istrinya itu sudah berada di pipinya.
Hega bisa merasakan jemari ramping Moza yang mengusap lembut kulit pipinya. Matanya memejam menikmati rasa nyaman dari sentuhan lembut istrinya.
" Bangun yuk, Kak. Sudah saatnya kakak kembali ke dunia nyata. Kakak sudah janji untuk selalu kuat apapun keadaannya. " Suara merdu yang terdengar sejernih air itu menggetarkan hatinya. Suara yang ia gundukan selama hampir sebulan ini.
" Banyak keluarga yang menggantungkan hidup mereka di tangan kakak. Bangkitlah, kak. Buat aku bangga karena menjadi istri seorang Hega Saint yang bertanggung jawab apapun masalah pribadi yang dihadapi. "
Hega menggeleng, " Aku akan selalu kuat selama kamu bersamaku, Yang. Jadi jangan pergi lagi, hm ! "
" Aku selalu ada bersama kakak. meskipun ragaku tidak di dekat kakak, tapi cinta dan doaku selalu bersama kakak. "
Pria itu menggeleng dengan wajah tampannya yang sendu. " Sayang,---. "
" Aku tahu kakak bisa, kakak kuat, kakak pria yang luar biasa. Suamiku yang sangat aku cintai tidak akan mengecewakan aku. "
" I love you, Hubby. " Hega memejamkan mata saat wajah mungil itu mendekat padanya, mengecup keningnya dengan penuh cinta.
Tapi saat ia kembali membuka mata, sosok itu menghilang.
" Yang, sayang, Momo sayang, dimana kamu ? "
" MOMOOOOO. . . "
Hah hah hah . . .
Tubuh tegap itu langsung terduduk di atas ranjang besarnya. Nafasnya terengah, bulir keringat membasahi kening dan pelipisnya.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok sang istri yang biasanya akan tersenyum menyapanya di pagi hari.
Mimpi, hanya mimpi.
Karena sosok itu tidak ia temukan.
" Tuan Muda--. " Ragil Anggara muncul di pintu dengan ekspresi cemas.
Semalaman pria itu memang sengaja tidur di sofa yang ada di depan kamar Hega. Pintu kamar juga tidak ditutup rapat untuk mengantisipasi jika majikannya membutuhkannya sewaktu-waktu.
" Gara, siapkan mobil. Aku akan ke kantor. "
" Tapi Tuan Muda, kesehatan Tuan Muda belum pulih sepenuhnya. "
" Aku yang paling tahu bagaimana kondisi tubuhku, Gara. Lakukan saja perintahku ! " Tegas Hega sembari mencabut jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.
" Baik, Tuan Muda. " Dengan sigap Gara berbalik badan untuk bersiap dan melaksanakan perintah sang tuan.
Tidak butuh waktu lama Hega bersiap, memilih setelan kerja di ruang ganti. Hatinya mendadak perih, teringat bagaimana menggemaskannya sang istri ketika sedang berdiri kebingungan memilih baju kerja untuknya di pagi hari.
Dan kini sosok cantik itu entah ada dimana. Tangan kanannya terulur menyentuh deretan baju istrinya yang menggantung rapi di lemari pakaian bernuansa putih keperakan itu.
" Yang, aku akan memenuhi janjiku. Aku akan lakukan apa yang kamu katakan. Aku tidak akan mengecewakan kamu. " Tangannya meremas lembut salah satu gaun istrinya.
" Tapi cepatlah kembali, hm ! Aku akan mati jika kamu tidak juga kembali. " Suara bass yang biasanya terdengar berat dan tegas itu kini terdengar lirih, seolah menggambarkan betapa sakitnya hatinya saat ini.
Begitu menyakitkannya, hingga tanpa sadar bulir air bening lolos begitu saja jatuh dari kelopak matanya.
Tok tok tok
Suara pintu mau tak mau membuat Hega harus sadar dari rasa sakit dan lukanya.
" Hega sayang, bunda masuk ya, nak ?! " Suara lembut keibuan yang sedikit serak menyapa indera pendengarannya.
Hega menyeka tetesan air yang merembes di sudut matanya. Menghirup udara dalam-dalam, menguatkan hatinya yang entah sudah sehancur apa saat ini.
Tapi pria itu harus bangkit. Karena jika ia lemah dan terus terpuruk seperti ini, bukankah itu sama saja dengan mengakui jika jenazah yang terbakar itu adalah istrinya ?
Tidak !!!
...****************...
...Sudah dibilang ini konflik puncak ya !!!...
...Kalian Team happy ending atau sad ending ?...