FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 107 • Nakal Ya Istriku



Moza melangkah memasuki paviliun bergaya Eropa yang selama beberapa bulan ini telah menjadi rumah untuknya. Langkah kakinya perlahan sambil berpikir bagaimana caranya mengatakan perihal keberangkatan Dimas besok, dan rencana yang tadi disampaikan oleh Julian.


Apa suaminya akan mengijinkannya untuk mengantar keberangkatan pemuda itu ke bandara. Suaminya itu kan punya kecemburuan lebih pada pria-pria yang pernah mendekati dirinya.


Tapi Moza juga tidak mungkin jika mengabaikan keberangkatan salah satu sahabat baiknya selama beberapa tahun ini. Bagaimanapun mereka pernah dan masih dekat sebagai sahabat.


Entahlah, apa hanya Moza yang berpikir demikian, karena kenyataannya akhir-akhir ini, pemuda yang juga merupakan seniornya di kampus itu seolah menghindari dirinya.


Sebenarnya, beberapa waktu lalu sebelum pernikahannya, Deana sempat membahas sedikit perihal rencana sepupunya itu. Tapi sepertinya Moza melupakannya karena banyak sekali hal yang terjadi padanya sebelum pernikahannya.


Setelah memasuki rumah, Moza langsung menuju sisi kiri dekat tangga, sengaja tidak melewati ruang keluarga karena jam segitu biasanya kakek Suryatama sedang istirahat di kamarnya.


Moza menghentikan langkahnya setelah menekan tombol angka 3 di lift. " Huffft. . . Semoga Kak Hega tidak akan keberatan. "


" Hal apa yang membuat kamu berpikir aku akan keberatan melakukannya, hm ? " Bisik Hega di telinga istrinya.


Moza tersentak saat tiba-tiba terasa hembusan nafas di lehernya yang bikin merinding saja. " Astagfirulloh, kakak seperti setan, bikin kaget. "


Moza membalikkan tubuhnya, tangan kanannya reflek memukul bahu suaminya sudah ada dibelakang tubuhnya itu. Sedangkan tangan kirinya masih mengusapi dadanya yang masih berdebar efek terkejut.


Hega menegakkan tubuhnya yang tadi dalam posisi membungkuk, alisnya terangkat sedikit. " Suami sendiri dikatain setan, hm ? "


Kedua tangannya masih tersembunyi di kedua saku celana ban berwarna maroon pilihan sang istri tadi pagi.


Moza terkikik melihat ekspresi suaminya, " Hihihi, maaf, kak. Kak Hega juga sih kenapa datang-datang bukannya ngucapin salam malah ngagetin istrinya. "


" Tadinya aku mau ucapin salam, tapi liat istriku melamun sambil ngomongin aku, penasaran jadinya. "


" Banyak alasan. "


" Bener sayang, bukan alasan. "


" Kalau gitu ucap salam dulu, Kak. "


Hega tersenyum, " Assalamualaikum, istriku. " Ucapnya dengan sangat lembut membuat pipi istrinya merona.


" Waalaikumsalam, emm-- suamiku. " Balasnya malu-malu.


" Astaga, manisnya istriku. " Ucap Hega sambil memegangi dadanya untuk mendramatisir suasana.


" Ck, jangan mulai deh kak. "


" Hehe, oh iya, tadi menggerutu apa tentang suamimu ini, hm ? Kamu tidak sedang diam-diam memaki suami tampan kamu ini kan, yank ? "


" Ish, enggak lah, kak. "


" Atau kamu tadi berdoa semoga suami kamu selalu tampan rupawan ? Ahhh, kamu berdoa supaya makin disayang sama suami kamu yang gantengnya maksimal ini kan ?! Kalau soal itu kamu tidak usah khawatir, sayangnya aku ke kamu tiap hari memang makin nambah kok, yank. Suamimu ini kan memang ganteng dan penyayang. " Goda Hega sambil menaik turunkan alisnya.


" Hish, enggak, kak. Lagian narsis banget ihh. " Moza bergidik.


Hega terkekeh lagi, " Lalu kenapa, hm ? Oh, aku tau, kamu udah kangen berat kan sama suami ganteng kamu ini ? " Satu kedipan mata melayang menggoda.


" Hish, nyebelin. Enggak ya. "


Wajah Hega sengaja dibuat tampak kecewa, " Jadi nggak kangen nih ? Ssshhh, padahal suaminya ini kangen banget loh sama istrinya. " Hega menarik pinggul istrinya agar mendekat padanya.


" Kakak ihhh, nanti ada yang lihat. " Manik mata Moza melirik ke kanan dan ke kiri, mengamati situasi.


" Biarkan saja. " Bukan Hega kan kalau tidak cuek, bucinnya tanpa kenal waktu dan tempat.


" Kakak, lepaskan dulu. "


Hega menundukkan wajahnya, " Cium dulu, yank. "


Moza malah menjauhkan wajahnya, " Hiiih, lepas. "


" Cium. "


" Cium. " Keduanya malah berdebat ringan yang tak berfaedah. Tak tahu saja dari sudut lain beberapa maid tengah senyum-senyum menyaksikan adegan bucin Tuan Muda mereka.


Kening Moza mengerut menyelidik, " Kakak kerasukan setan mesum ? "


Kali ini Hega malah tertawa renyah dengan suara bass seksinya. " Nggak pake dirasuki, aku sudah mesum kalo deket kamu. "


Bola mata Moza membelalak, kemudian merotasi malas, " Ihhh, lepas, kak. "


" Cium, sayang. "


" Ahhh, Kakeekkk. " Reflek Hega melepas rengkuhannya di pinggang Moza dan menoleh ke arah yang ditunjuk oleh jemari istrinya.


Kosong, tidak ada siapapun disana.


Ting


Saat menoleh istrinya sudah memasuki lift yang barusaja terbuka pintunya. Kemudian tampak istrinya tengah menjulurkan lidahnya mengejek.


Hega mengusap pelipisnya dan terkekeh. " Nakal ya istriku sekarang, sudah bisa ngakalin suaminya, hm. Awas kalau ketangkap. " Kepala Hega menggeleng pelan, gemas juga melihat istrinya yang juga bisa punya sisi nakal juga.


Dan apa itu tadi, pake melet segala, ngode nih. Senyum smirk tipis terukir di bibir pria itu.


Dengan langkah cepat, Hega memutar arah, berbelok menuju tangga. Sudah tidak sabar menangkap kelinci nakalnya dan memberikan hukuman pada istrinya itu.


Tapi barusaja kakinya menginjak anak tangga pertama, kakeknya menginterupsi langkahnya.


" Sudah pulang kamu ? "


" Ya, Kek. "


" Ada yang mau kakek bicarakan, kakek tunggu di ruangan kerja. " Kakek Suryatama melangkah menuju ruangan pribadinya tanpa menunggu persetujuan cucunya.



" Farhan Setiawan menelepon. " Kakek Suryatama buka suara, mengawali pembicaraan keduanya.


Tidak perlu menjelaskan apa maksud salah satu koleganya itu menelepon, Kakek Suryatama yakin jika cucunya sudah tahu hal apa yang hendak ia bahas.


Hega mendesah kasar, enggan berkomentar. Ternyata gagal membujuknya lewat Bara, ayah dari Aliza itu menggunakan cara lain dengan meminta bantuan kakeknya.


" Apa ada yang kakek tidak tahu tentang hubungan kamu dengan gadis bernama Alina itu ? "


Atensi Hega mau tak mau kembali fokus pada kakeknya saat mendengar pertanyaan yang terasa ambigu di telinganya. Alis Hega terangkat naik, mengisyaratkan jika ia mempertanyakan apa gerangan maksud kakeknya menanyakan hal itu.


" Apa tanpa sepengetahuan kakek, kamu diam-diam pernah memberi harapan atau janji-janji pada anak itu ? "


Uhukk. . .


Mendengar hal itu sontak Hega tersentak. " Apa maksudnya kakek bertanya begitu ? Apa kakek tidak cukup mengenal Hega sehingga kakek menanyakan hal tidak masuk akal semacam itu ? " Nada suara Hega sedikit meninggi, tapi Hega masih cukup waras untuk tetap menjaga sopan santunnya pada sang kakek.


Terdengar helaan nafas lega dari pria tua itu, meskipun Suryatama tahu jelas karakter cucunya. Hanya saja segala hal memang harus diperjelas dari yang bersangkutan agar tidak ada lagi keraguan.


" Ya, kakek hanya mau mendengar langsung dari mulut kamu. Lalu apa rencana kamu selanjutnya ? "


" Tidak ada. "


" Huft, apa tidak sebaiknya---. "


" Hega tidak pernah sekalipun memberi harapan pada anak itu, jadi apapun yang terjadi padanya tidak ada hubungannya dengan Hega, Kek. Hega tidak mau kebahagiaan Hega terusik oleh hal-hal yang memang tidak seharusnya Hega hiraukan. "


***


Apa menurut kalian Hega harus bertemu dengan Alina ? Seseorang yang hampir saja membahayakan nyawa istrinya ?