
..." Ketika masa lalu menyentuhmu, menolehlah sejenak, tapi hanya sebatas menjadikannya sebagai pengingat diri. Jangan lantas ternggelam di dalamnya hingga kau lupa akan masa depan yang menantimu di sisi lainnya. Maka berbaliklah, kembali pada kenyataan. Sejatinya masa lalu tidak akan bisa diulang, sedangkan masa depan adalah hal yang harus kau perjuangkan. "...
...~ Sherinanta ~...
...☆☆☆...
Hega menoleh sekilas ke arah pintu saat menyadari ada seseorang yang datang.
" Bun. . . " Kedatangan sang bunda sontak memutus rantai ingatan Hega perihal kenangan masa lalu kebersamaannya dengan sang sahabat.
Canda ria dan perdebatan yang diam-diam selalu membuat Hega merindu. Ia baru tahu rasanya hidup yang sebenarnya setiap bersama sahabatnya yang selalu berhasil membuat hari-harinya yang flat jadi lebih berwarna dan bergelora.
Meskipun lewat adu mulut yang seringkali tak ada habisnya. Tapi itulah yang Hega suka.
Wanita paruh baya itu mendekat dan tersenyum.
" Apa yang sedang kamu pikirkan sampai seserius itu sih ? Sehingga tidak menyadari kedatangan bunda, hem ? " Bunda Ayu mengelus lengan Hega, ia bisa melihat ekspresi sendu di wajah tampan sang menantu.
Hega tersenyum sekilas, " Hega hanya sedang teringat masa lalu saja kok, Bun. " Ujarnya kemudian kembali menatap pigura besar yang tergantung di dinding berwarna biru itu, bunda Ayu mengangguk paham.
" Bun, Hega ingat kalau dulu Arka kurang suka jika Hega berdekatan dengan Momo, dia selalu saja marah kalau Momo bersama Hega. " Keluh Hega.
" Tapi sekarang Hega malah menikahi adik kesayangannya itu. Pasti dia makin kesal. " Bunda Ayu tersenyum mendengar ucapan pemuda itu, putra sahabat karibnya yang juga telah tiada.
" Kenapa kamu berpikir begitu ? " Tanya sang bunda lembut menatap lekat Hega.
" Hega ingat kok bun saat Arka mengatakan jika Hega tidak boleh menikahi Moza, dan Hega melanggarnya. Sepertinya sekarang dia juga sedang memaki Hega dari atas sana. " Tuturnya dengan suara lirih.
" Dan sepertinya kalau dia masih ada disini, dia pasti akan memaki Hega sampai telinga Hega tuli. " Canda Hega ringan dan kemudian terkekeh kecil, memaksakan senyum di bibirnya untuk sekedar menutupi rasa sesak di dadanya.
Terasa ada ruang hampa dalam dirinya saat ini, " Tapi kalau itu benar terjadi pun, Hega rela kok diomeli olehnya. " Tidak disangka akan datang hari dimana kebawelan Arka yang selama ini terdengar menyebalkan di telinga Hega, justru menjadi hal yang begitu dirindukan olehnya.
Netra hitamnya masih menatap nanar bingkai foto yang terpajang di dinding kamar sang sahabat yang kini resmi menjadi kakak iparnya itu.
Hubungan yang terupgrade dari sahabat menjadi saudara ipar. Sungguh kebahagiaannya akan sempurna jika sosok menyebalkan itu masih ada diantara mereka.
Hega bahkan rela telinganya berdengung mendengar semua kecerewetan Arka tentang adik perempuannya.
Bunda Ayu masih memilih diam, mendengarkan setiap keluh kesah suami putrinya itu.
" Arka pernah mengatakan jika dia tidak akan rela menyerahkan adiknya pada Hega. Dia ingin adiknya bahagia dengan menikahi pria biasa. Memangnya kenapa dengan Hega ? Apa yang salah dengan Hega, Bun ? " Suara Hega sedikit bergetar, dan bunda Ayu merasakan hal itu.
" Dia sepertinya sungguh tidak ingin Hega memiliki adik kesayangannya. " Sambungnya kala mengingat ucapan Arka dulu.
Ayu kembali tersenyum, kemudian melingkarkan satu tangannya di lengan pemuda itu dan satu tangan mengelus lengan Hega. " Kamu salah, sayang ! " Sahutnya lembut sembari ikut memandangi foto almarhum putranya.
Hega menoleh ke arah sang ibu mertua, sepertinya ada cerita versi sang bunda yang wajib ia dengar tentang sahabatnya.
" Hyu begitu mempercayaimu, dia bahkan mengatakan hanya kamulah pria yang layak untuk menjadi pendamping adiknya. Hanya saja kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat keras kepala dan egonya yang setinggi langit itu. " Ayu tersenyum tipis mengingat betapa besar gengsi sang putra sulungnya.
Hega menelan ludahnya kasar, nyatanya bukan hanya Arka yang demikian, Hega sendiripun juga punya gengsi tinggi yang sama dengan Arka.
" Hyuza hanya cemburu saja kalau ada yang lebih dekat dengan adiknya, hingga suatu masa sepertinya dia sadar jika satu-satunya hubungan yang akan membuatmu bisa menjaga dan membahagiakan Moza sepenuhnya adalah dengan kamu menjadi suami Moza. " Terang sang bunda memberi sedikit rasa lega di hati Hega.
" Mungkin Hyu menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu. Meskipun akhirnya dia tidak bisa mengatakannya langsung padamu dengan mulutnya sendiri. " Hega dapat merasakan sedikit perubahan dalam nada suara ibunya itu.
" Bun, Hega minta maaf ! " Hega beralih menatap nanar ibu mertua rasa ibu kandungnya itu.
Benar-benar merasa bersalah dan berdosa karena insiden yang merenggut nyawa sahabat baiknya itu. Seandainya ia tidak terlambat datang saat itu, mungkinkan ia bisa menyelamatkan nyawa sahabatnya ? Atau seharusnya saat itu ia pulang bersama Arka.
Ayu menggeleng, menepuk lembut pipi Hega, " Tidak ! Jangan meminta maaf. Semua memang sudah ditakdirkan seperti ini. "
" Bunda menceritakan hal ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah atau terbebani, karena kamu memang tidak bersalah sama sekali. "
Ayu beralih mengusap rambut Hega, wanita itu bahkan harus mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah tampan sang menantu. Karena pemuda yang selalu memanggilnya bunda sejak kecil itu benar-benar sudah tumbuh menjadi pria tampan yang tinggi dan begitu gagah.
Ayu memandang lamat-lamat wajah Hega, mengelus pipi Hega penuh kelembutan seorang ibu. Hatinya bergetar antara kesedihan dan rasa haru.
Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, atau andai saja nyawa Hyuza bisa terselamatkan. Apakah kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini akan tetap sama seperti ini atau lebih besar lagi ?
Atau justru sebaliknya, tidak akan ada hari dimana ia memiliki Hega sebagai menantunya mengingat jantung yang kini berdetak di dada pemuda ini adalah jantung milik putra sulungnya.
TIDAK !!! Sepertinya terlalu menyakitkan, terlalu sakit jika Ayu harus memilih salah satu diantara kedua putranya.
Hega tetaplah putranya, meskipun pemuda ini tidak lahir dari rahimnya.
Tapi tidak bolehkah Ayu tetap berandai-andai akan sesuatu yang sudah pasti tidak akan terjadi hanya untuk sekedar menyenangkan hatinya yang tiba-tiba merasa kembali berduka kala mengenang sang putra ?
Apakah jika Hyuza masih hidup, putranya itu juga akan setinggi menantunya ini ? Apa Hyuza juga akan setampan dan segagah Hega ?
Bunda Ayu tersenyum bangga, karena sepertinya Hyuza akan tumbuh menjadi pria sehebat Hega. Karena kedua putranya itu sama-sama pemuda yang sangat tampan.
Walaupun keduanya tidak memiliki hubungan darah, ketampanan mereka bagaikan pinang dibelah dua. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain.
Jika saja putra sulungnya itu masih ada, betapa besar kebahagiaan yanv dirasakannya sebagai seorang ibu.
Memiliki tiga putra yang sangat luar biasa. Hyuza, Hega dan Ryuza. Ketiga jagoan kebanggaannya yang akan menjaga putri semata wayangnya, Moza Artana.
Ayu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat saat menyadari apa yang baru saja terlintas di benaknya. Terlalu menyesakkan berandai-andai tentang sesuatu yang sungguh tidak akan mungkin menjadi nyata.
" Sayang, yang mau bunda sampaikan tadi, meskipun kalian sering berdebat dulu dan dia sering membuatmu kesal dengan ucapan dan tingkah menyebalkannya itu, tapi kamu harus tahu kalau Hyu sangat menyayangimu. " Sambung Ayu, membuat sudut hati Hega sedikit demi sedikit merasa nyaman.
" Bunda bahkan ingat saat kamu tidak bisa datang liburan sekolah saat usiamu tujuh tahun karena kamu dirawat di luar negeri karena penyakit jantungmu. Hyuza saat itu berkata-- "
" Bun, kalau saja Hyu punya dua jantung, atau kalau jantung Hyu bisa dibelah menjadi dua, Hyu ingin memberikannya pada Hega agar anak itu tidak sakit lagi. "
...--------------------...