FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 183 • Segudang Bahagia Dibalik Segenggam Duka



..." Jika Allah membawamu ke dalam cobaan, Dia juga akan memberimu jalan untuk melaluinya. Dan jalan untuk menuju kebahagiaan sempurna adalah dengan kesabaran dan keikhlasan. "...


......................


Dua hari pasca kembalinya Moza ke pelukan suaminya. Kondisi kesehatan fisik Moza perlahan membaik. Meskipun wanita yang tengah berbadan dua itu masih tampak sedikit tertekan.


Begitu lama berada jauh dari keluarga, serta mengalami langsung kekerasan fisik dan mental.


Sepertinya kondisi mental Moza yang saat ini perlu untuk diperhatikan.


" Dea, kamu menemui Bian ? " Kalimat pertama yang ditanyakan Moza saat ia bertemu dengan Deana di hari kedua ia kembali.


" Hm, gue udah ketemu dia. "


" Bagaimana kondisinya ? "


" Eum, dia baik-baik aja, Mo. Jadi lo nggak usah kuatir, di---"


Moza menggeleng cepat, " Kamu jangan bohongi aku, Dea. Aku tahu Bian nggak baik-baik saja. "


Dea mengusap pelipis sahabatnya. " Mo, lo nggak usah mikir aneh-aneh. Lo harus inget ada nyawa di perut lo sekarang, dia yang harus jadi prioritas lo. "


Moza memeluk Dea, " Dea, aku sahabat yang buruk kan ? Aku membuat sahabatku---. "


" Hei, stop, Momo. Lo nggak salah apapun dalam hal ini. Lo berhak bahagia. Dan kalo kebahagiaan lo bukan sama Bian, nggak ada seorangpun yang bisa memaksa lo buat bersama dia. " Dea memotong ucapan Moza yang terdengar tak masuk akal baginya.


" Saat ini yang utama adalah kebahagiaan lo, dan lo berhak untuk itu. "


" Tapi kebahagiaan aku bikin sahabat aku sakit Dea. Aku ngerasa jahat. Aku nggak nyangka kalo Bian akan sehancur itu. Aku kira dia sudah benar-benar-- " Hampir satu bulan bersama Bian, Moza sedikit banyak tahu bagaimana terlukanya pria itu karena cintanya tak berbalas.


Luka yang membuat pria itu bersikap egois.


Dea menggeleng kuat, memotong cepat ucapan Moza. " Sssstttt ! Mo, dengerin gue ! Takdir cinta lo udah digariskan bersama suami lo, bang Hega. Nggak ada yang bisa merubah itu jika Tuhan sudah menggariskan begitu. "


" Dan lo nggak perlu ngerasa bersalah. Ikatan yang menghubungkan lo sama bang Hega sudah ada jauh sebelum lo kenal sama Bian, bahkan sebelum lo kenal sama gue. Jadi lo nggak salah apapun dalam hal ini. "


" Lo dan bang Hega memang ditakdirkan satu sama lain, meskipun jarak dan waktu memisahkan kalian, Tuhan tetap menyatukan lagi kalian berdua dengan segala cara. "


" Jadi syukurilah hal itu, Mo. Jangan terbebani oleh sesuatu yang nggak seharusnya. "


" Saatnya lo bahagia, benar-benar bahagia. "


Moza terdiam mendengar nasihat panjang Deana, dan hatinya tergerak matanya semakin memerah.


" Apa aku boleh seegois itu ? "


Dea mengangguk mantap, memegang kedua bahu Moza untuk memberi semangat. " Ya, lo boleh seegois itu. Ini hidup lo, lo yang menentukan pilihan jalan mana yang akan buat lo benar-benar ngerasa bahagia. Itu hak mutlak lo, nggak ada yang bisa merubah itu. "


" Thanks, Dea. " Keduanya berpelukan hangat layaknya saudara.


" I will be here for you, beside you, in your happiness and also your sadness. " Dea menepuk pelan punggung sahabat karibnya.


Disisi lain, Hega hanya bisa menyaksikan kesedihan istrinya dari kejauhan. Ingin rasanya pria itu memeluk erat sang istri, memberi kekuatan dan kenyamanan, menghapus setiap bulir air mata yang jatuh dari kelopak mata wanita yang kini tengah mengandung buah cinta mereka.


Tapi Hega sadar, saat ini bukan dirinya ia Moza butuhnya. Istrinya sedang butuh sosok sahabat yang mendukungnya.


Karena Hega tahu, istrinya akan merasa tak nyaman jika ia melihat kesedihannya saat ini. Terlebih alasan kesedihannya adalah karena pria lain, meskipun pria itu tak lebih dari sekedar sahabat bagi Moza.


Klek


Dengan sangat perlahan, Hega menutup pintu. Memberi ruang pada istrinya untuk mencurahkan segala beban hatinya pada Deana.



Kembalinya Moza di tengah-tengah keluarga Dama Saint menjadi kebahagiaan luar biasa bagi kedua keluarga.


Ditambah lagi berita bahagia yang turut menyertai kembalinya cucu menantu kesayangan Suryatama Saint itu.


Berita kehamilan Moza semakin membuat keluarga diliputi suka cita.


Semua keluarga sudah berada di Blue Heart Island sejak 3 hari lalu karena terlalu tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Moza. Dan hari ini saatnya mereka kembali pulang.


Sekembalinya dari BHI nanti, Suryatama berniat menggelar syukuran besar.


Pemimpin keluarga Saint itu akan memberikan sumbangan ke panti asuhan serta yayasan sosial yang membutuhkan.


Sedangkan Hega, yang pasti paling bahagia diantara semuanya. Pria itu hanya menjadi penonton kehebohan keluarganya.


Saat ini Hega hanya ingin fokus pada istri dan kedua calon buah hatinya.


" Iya, Pi. Rasti akan siapkan dengan sempurna. Kan ini juga cucu pertama kita kan mbak Ayu ?! " Rasti mengusap perut Moza yang masih terlihat rata.


Ayu hanya mengangguk dengan mata yang masih memerah akibat menangis bahagia atas kembalinya sang putri.


" Terima kasih kamu sudah kembali pada kami, sayang. " Ini adalah kalimat yang sama yang sudah Ayu ucapkan entah berapa kali pada putrinya.


Wanita berhijab itu masih enggan jauh dari putrinya. Moza sendiri juga tidak keberatan terus berada dalam dekapan sang ibu. Rasanya tempat ternyaman bagi seorang putri adalah memang pangkuan sang ibu.


Mereka sedang berkumpul di ruang santai sebelum kembali ke tanah air. Nampak semua keluarga masih belum rela berpisah dengan Moza.


Sesuai saran Derka, Moza masih harus bedrest dulu untuk tiga atau empat haru kedepan sebelum melakukan perjalanan udara.


" Ga, kenapa lo bilang kalau mereka bakal dapat dua cucu sekaligus. " Bisik Derka.


Hega melirik sekilas pria yang berdiri di sampingnya.


" Moza sendiri yang akan mengabarkan berita bahagia yang satu itu. " Jawab Hega dengan tatapan tak teralihkan dari sosok istrinya yang berada di pangkuan Ayu Puspita.


" Gue nggak bisa bayangin gimana senengnya kakek Surya saat dengar kabar ini. "


Hega mengangguk dan tersenyum. Nyatanya dirinya saja begitu terkejut dan bahagia bukan kepalang saat tahu jika dirinya akan menjadi ayah dari bayi kembar sekaligus.


Dua hari lalu, saat Moza meminta untuk berjalan-jalan di pantai. Saat itulah Hega mengetahui perihal kehamilan istrinya yang ternyata bayi kembar.


Keduanya duduk beralas tikar, Sasa dan Ragil Anggara berdiri tidak jauh dari kedua majikannya.


Menanti sunset, adalah favorit istrinya. Jadi Hega menyiapkan semua ini untuk sang istri. Pria itu tahu istrinya pasti jenuh setelah begitu lama dikurung tanpa bisa melihat dunia luar.


" Aku harap nantinya kita akan lebih sering punya waktu bersama seperti ini, Yang. Aku tidak mau lagi jauh dari kamu. Kita harus sering datang kesini, hm. " Hega memeluk istrinya dari belakang, satu tangan menggenggam erat tangan Moza. Tangan lainnya membelai pelan kepala gadis itu.


Tidak disangka bukannya setuju, istrinya malah menoleh dan menggelengkan kepalanya. " Tidak boleh, Kak. "


Satu alis Hega terangkat. " Kenapa ? "


" Memangnya kakak kira tempat ini sedekat apa dengan rumah kita ?! Aku tidak mau disalahkan karena mengganggu pekerjaan Presdir yang super sibuk seperi kakak. Mereka akan mengira kakak mengabaikan pekerjaan karena terlalu sibuk dengan istri kakak. "


Hega mengedikkan bahunya acuh. " Aku tidak peduli, aku kan sudah bilang kalau kamu itu prioritasku. "


" Tapi kakak kan sudah janji. "


Hega menghela nafas, jiwa bucinnya memerintahkan agar dia mengalah saja pada istrinya. " Iya, sayang. Aku kan hanya ingin lebih banyak punya waktu berduaan dengan kamu seperti ini. "


" Kok hanya berduaan sih kak ? "


" Hah ?? "


Moza langsung cemberut dan membuang muka. " Bebi, ayah kalian jahat. Masa kalian tidak diajak jalan-jalan sih, hikss... " Moza merengek kecil sambil menarik tangan suaminya untuk mengelus perutnya.


Memberi kode pada suaminya sepertinya melupakan kehadiran calon anggota baru keluarga kecil mereka.


Hega langsung mengerti, " Ah, iya, maaf ya sayangnya ayah. Kita jalan-jalan nanti bertiga ya, sayang. "


" Iiihhh, bukan bertiga, Kak. Tuh kan, Ayah kalian itu nggak peka, sayang. " Moza merengek makin keras dengan kedua tangan masih mengusapi perutnya.


Hega, "....."


Tik tok tik tok


Wait !!! Kalian ????


Hega menelan salivanya kasar, " Mo-mo sayang.... " Binar bahagia tampak di kedua netra beriris hitam pekat itu.


Moza mengangguk, membenarkan dugaan suaminya. " Bebi twins. "


Duarrrr.....


Rasanya ribuan kembang api meledak di jantung pria itu saking bahagianya.


Ini Jackpot namanya.


Tidak sia-sia kerja kerasnya selama ini minta jatah tambahan pada sang istri.


Tuhan memang Maha Segalanya. Tuhan ternyata menyiapkan segudang bahagia dibalik segenggam duka dan cobaan berat yang ia terima sebelumnya.


...****************...