FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 95 • Termahal Se-Asia



" Tunggu ! " Hega menatap sekilas wajah cengo sang istri, " Jangan bilang kalau selama ini kamu tidak tahu kalau Papa adalah Ketua Yayasan yang menaungi kampus kamu, hem ? "


Moza menggelengkan kepala dengan polosnya, kemudian mencebik.


Memangnya bagaimana aku bisa tahu ? Yang aku tahu hanya rektor kampus, itupun hanya pernah lihat. Dan beberapa dosen yang mengajar mata kuliah yang aku ambil.


" Kakak tahu kan kampus itu terlalu besar dengan banyaknya pegawai serta staf. Mana mungkin aku bisa tahu apalagi kenal dengan semuanya, terutama dengan para pengurus Yayasan yang bahkan tidak pernah aku temui. "


Hega mengangguk setuju, memang tidak sembarang orang bisa bertemu dengan sosok Arya Tama Saint. Ayahnya itupun juga hanya dua kali dalam seminggu berada di Yayasan Dwitama, tidak hanya berbeda gedung dengan Fakultas Ekonomi, tapi sudah beda area.


Tentu saja kemungkinan untuk Moza bertemu dengan Arya Tama sangatlah kecil sekali.


Pria itu terkekeh gemas, kepolosan sang istri selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya.


" Tapi sekarang kamu sudah tahu kan, sayangku. " Pipi tembam Moza adalah bagian paling menyenangkan untuk menjadi sasaran kegemasan Hega.


Lihatlah pria itu sedang menangkup gemas kedua pipi istrinya, sedikit dipencet hingga bibir mungil istrinya mengerucut ke depan.


Cup. . .


Dan pastilah si tukang modus tak akan melewatkan kesempatan untuk mengecup bibir tipis yang menjadi candunya itu.


Moza memberengut, membiarkan saja suaminya dengan segala tingkah polah absurnya. Pikirannya masih sibuk dengan hal-hal yang masih mengganjal di benaknya.


Jadi ternyata memang benar ada apa-apa dengan beasiswa yang membuatnya berada di kampus sebesar Dwitama University. Kurang lebih itu salah satunya.


" Apa lagi sayang ? Kenapa masih cemberut sih ? "


Moza menggeleng lemah, ada rasa tidak nyaman dalam dirinya.


" Tidak mungkin tidak apa-apa, lihat ini wajah cantik kamu ini yang jelas menggambarkan ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kamu. Ayo sini bilang, ada apa ? " Hega mengangkat tubuh istrinya, mendaratkannya di pangkuannya.


Tidak ada penolakan dari Moza, gadis itu malah langsung bersandar di dada sang suami, kepalanya berada di bahu suaminya dengan posisi miring menghadap ke arah pria yang kini telah memenuhi seluruh hatinya.



Jemari lentik Moza terulur, mengusap rahang tegas suaminya dengan perlahan, tidak sadar jika sentuhannya mulai membangkitkan sesuatu dalam diri suaminya.


Hening selama beberapa saat.


Keduanya sama-sama tak bersuara, tanpa rasa berdosa, jemari lentik Moza masih setia bermain-main di rahang kokoh suaminya, sesekali turun ke dada bidang Hega, memutar-mutar jemarinya membentuk pola-pola abstrak disana.


Tidak tahu saja gadis itu jika suaminya tengah mati-matian menahan diri karena libidonya sudah mulai naik ke ubun-ubun kepalanya.


" Kak. " Dielus lembut seperti itu sontak membuat Hega mengeram tertahan, pria itu memejamkan matanya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.


" Hm. " Hega hanya mampu berdehem singkat, berusaha menahan diri agar tidak menerkam istrinya saat itu juga.


" Ternyata memang semuanya sudah diatur ya, sehingga aku kuliah di universitas yang bahkan tidak pernah terbuang olehku. " Nada bicara Moza terdengar sumbang, seperti ada rasa kecewa didalamnya.


" Memangnya apa yang salah dengan kampus kamu ? Kamu nggak suka kuliah disana ? "


" Ck, tentu saja karena biaya kuliahnya. Jika bukan karena beasiswa mana mungkin aku berada disana. Aku tahu ayah dan bunda pasti cukup mampu untuk membiayai kuliahku disana, tapi aku pasti yang tidak akan mau jika harus mengeluarkan biaya masuk dengan nominal yang sangat besar untuk dibayarkan. "


" Maksud kamu kampus kita itu mahal begitu ? "


" Tentu saja itu kampus mahal, kak. Itu kampus termahal se-Asia tahu, Kak ?! " Tandas Moza penuh penekanan.


" Lebih tepatnya kampus dengan sarana prasarana dan tenaga pengajar terbaik se-Asia, sayang. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapat kualitas terbaik, apalagi ini menyangkut pendidikan, yang akan menjadi modal terpenting seseorang untuk masa depan mereka nantinya." Sahut Hega lembut, memberi pengertian pada istrinya.


Gadis itu mengangguk, " Iya aku setuju dengan itu, kak. Tapi-- "


" Kampus itu dibangun dari nol, dengan usaha yang tidak mudah untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Lagipula semua biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa non beasiswa, juga kembali pada mahasiswa kan ? Lihat saja semua fasilitasnya ! " Hega menyela membuat sang istri bersungut kesal.


" Bukan memojokkan kamu sayang, hanya saja aku ingin kamu melihat dari sisi lainnya. " Papar Hega masih menjaga intonasi suaranya sembari mengusap kepala istrinya.


" Iya, aku tahu. Tapi yang aku bahas dari awal kan bukan menitik beratkan pada mahalnya. Aku hanya sempat heran bagaimana bisa dengan nilaiku yang tidak memenuhi syarat itu aku bisa menjadi salah satu siswa yang mendapat beasiswa penuh ? Padahal aku yakin masih banyak yang nilainya di atasku dan lebih berhak untuk mendapat beasiswa itu daripada aku. "


Hega hanya tersenyum saja, belum saatnya memberi tanggapan, karena sepertinya sang istri belum mengeluarkan segala ganjalan di hatinya secara keseluruhan.


Setelah merasa sudah cukup mendengar segala keluh kesah istrinya, pria itu kembali menyusun kata untuk menjawab segala rasa penasaran istrinya.


Tangan besar Hega masih asyik mengusapi kepala istrinya, lebih tepatnya memainkan rambut panjang istrinya yang tergerai masih setengah basah, " Kan sudah aku jelaskan tadi siang, kalau memang beasiswa itu memang khusus disiapkan untuk kamu, Yank. "


" Lagipula kampus itu adalah salah satu aset keluarga kita, yang sumber dana utama tetap berasal dari GI Group. Jadi apa salahnya jika kakek mengatur satu kursi untuk calon cucu menantunya. " Imbuhnya kemudian.


" Dan jangan kamu kira semua biaya kuliah yang kamu bilang mahal yang dibayarkan oleh para mahasiswa non beasiswa itu masuk ke rekening keluarga kita ya. "


Moza mendongak menatap suaminya yang juga sedikit menundukkan wajahnya menatap padanya.


" Kenyataannya hampir 75 persennya dikembalikan lagi ke masyarakat. Baik dalam bentuk beasiswa ataupun disalurkan pada beberapa lembaga sosial lain yang ada di bawah Yayasan Dwitama. Sedangkan sisanya digunakan untuk pengembangan universitas serta biaya operasionalnya. " Jelas Hega sebelum istrinya meminta penjelasan.


Tenggorokan Moza semakin terasa tercekat mendengar penjelasan suaminya.


" Jadi kampus itu sungguhan milik keluarga kak Hega ? " Tanya Moza memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh pria yang tengah merengkuh pinggulnya dengan erat itu.


" Lebih tepatnya Yayasan Dwitama itu atas nama Almarhum Om Arga. " Manik mata Moza menyipit, berusaha mengingat nama yang barusaja disebutkan oleh suaminya.


" Suami pertama Mami Rasti. " Sahut Hega cepat.


" Ahh, iya. Kembaran Papa. "


" Hem. Kakek mendirikan Dwitama University untuk putra keduanya, Argatama Saint. " Moza mengangguk paham.


" Jadi memang benar kan kalau beasiswaku karena--- "


" Karena apa, hem ? "


" I-itu karena-- " Lagi-lagi ucapannya terjeda, Moza tampak ragu, " Karena koneksi. " Lirih Moza akhirnya dengan mata terpejam erat.


Sontak saja membuat sang suami kembali tergelak.


" Kakak kenapa malah tertawa si ? " Sungut Moza kesal, apanya yang lucu coba.


" Habisnya kamu lucu, yank. " Hega meringis menahan tawanya.


" Apanya yang lucu, huh ? "


" Pertanyaan kamu lah. "


" Ish, jangan ketawa, kak ! " Satu pukulan mendarat di bahu kiri Hega.


" Iya, iya. Maaf ya sayang, habisnya kamu polos banget sih istriku sayang. Gemes deh, ke kasur yuk. " Netra hitam pekat itu mengerling genit, pukulan di bahunya tadi dibalas Hega dengan mencapit hidung bangir istrinya.


Heh, kok jadi bawa-bawa kasur ?


***


Masih alur selow ya. Konflik keluar nanti pas puasaan.


Maaf besok libur dulu yaa, mau Megengan (yang orang jawa pasti tau)


Btw met menyambut Ramadhan ya. Semoga puasa kalian lancar dan sehat selalu. (bagi yang puasa)