
" Ini semua salah Hega, Kek. Hega teledor, Hega tidak becus menjaga istri Hega. Hega terlalu gegabah ingin mengekspos pernikahan Hega dan mengenalkan istri Hega. Seharusnya Hega tidak sesembrono itu. " Hega terus meracau menyalahkan dirinya sendiri disela tangisnya yang sudah tidak bisa lagi ia bendung.
Kedua tangannya meremasi rambutnya dan kasar.
" Cukup, berhenti menyalahkan dirimu. Ini semua pasti terjadi dengan terencana. Jika tidak, bagaimana bisa istrimu menghilang tanpa jejak seperti ini. Tidak ada yang tahu identitasnya sebagai menantu keluarga Saint. " Ujar Arya setelah berhasil menarik tubuh putranya untuk duduk di sofa.
" Apa yang dikatakan oleh papa mu itu benar, Hega. Pasti ada pihak yang sudah mengawasimu sejak lama. Dan mereka menunggu kesempatan untuk bertindak. "
Hega menatap nanar kakeknya. " Dan Hega memberi kesempatan itu karena Hega dengan bodohnya melonggarkan pengawasan untuk istri Hega, Kek. "
" Jika saja saat itu Hega tidak terlalu emosional dan menuruti keinginan Momo untuk mengganti posisi Gara. Pasti saat ini Momo masih ada dalam pengawasan Hega. Momo tidak akan hilang seperti ini, Kek. "
Hega kembali tergugu, kepalanya kini menunduk lesu. Ditopang oleh kedua tangannya yang ada di sisi kanan dan kiri kepalanya, dengan siku yang bertumpu di kedua kakinya.
***
Beberapa waktu yang lalu, Moza sempat bersikeras meminta suaminya untuk mencari orang lain menggantikan Ragil Anggara.
Bukan karena Moza tidak menyukai pria yang selama ini menjadi pengawal pribadinya secara tersembunyi itu.
Melainkan karena Moza merasa tidak enak jika harus menjadikan pria berkompeten Ragil Anggara hanya sebagai pengawal pribadi.
Pria yang Moza tahu merupakan lulusan kampus yang sama dengan suaminya itu pasti memiliki kualifikasi yang lebih dari cukup untuk berada di posisi yang lebih tinggi.
Apalagi sejak Moza tahu jika posisi awal Ragil Anggara adalah tangan kanan suaminya. Sungguh Moza sedikit merasa bersalah telah membuat orang berkompeten itu hanya menghabiskan waktunya untuk mengawasi dan menjaga dirinya.
Dan keputusan Moza mutlak adanya setelah tahu jika Julian kini telah resmi bekerja di ATRA CORP milik Adi putra, ayah Julian.
Yang berarti sahabatnya itu tidak lagi menjadi asisten pribadi suaminya. Dan itu tentu saja membuat pekerjaan suaminya menjadi lebih banyak dan berat.
" Ayolah, Kak. Kembalikan saja posisi Kak Ragil di perusahaan. Jangan buat kemampuannya sia-sia hanya untuk menjagaku. Lagipula aku sudah besar ini, kenapa harus dijaga segala ?! "
" Tidak. Keselamatanmu adalah yang utama, Yang. Untuk sementara biarkan Gara tetap di posisinya. Toh dia masih bisa membantumu menyelesaikan beberapa pekerjaan disela tugasnya menjagamu. "
" Tidak bisa begitu dong, Kak. Itu namanya membunuh orang secara perlahan. Masa kakak membebankan dua tanggung jawab sekaligus pada satu orang. Tidak manusiawi itu namanya. " Protes Moza kala itu.
" Lagipula kegiatanku di luar tidak sebanyak dulu, kan. Mulai semester depan aku skripsi. Itupun bisa aku kerjakan di rumah atau aku bisa mengikuti kakak ke kantor dan mengerjakannya sambil menemani kakak bekerja. "
" Aku kan juga mau sekali saja memanfaatkan kejeniusan suamiku. "
Kening Hega mengerut, maksudnya mau dibikinkan skripsinya ?
" Hish, jangan mengira aku mau jadikan kakak calo skripsi ya. NO ! " Kelit Moza saat menangkap tatapan curiga suaminya.
Kini satu alis Hega tertarik ke atas. " Lantas ? "
" Aku kan bisa minta bantuan kakak jika ada kesulitan dalam penyusunan proposal skripsiku. " Ucap Moza dengan senyum manisnya.
" HAH, baiklah. Tapi aku akan tetap mengatur dua orang untuk menjaga kamu. Dan kamu harus janji satu hal, Yang. "
" Ya ? " Kok malah dua ?
" Kemanapun kamu akan pergi, kamu harus mengatakannya padaku. Jika dimungkinkan aku akan menemanimu. Dan jika aku tidak bisa, maka pengawalmu yang akan menjagamu. "
" Kenapa satu pengawal malah menjadi dua pengawal sih, kak ? " Protesnya kesal.
" Kenapa ? Jika kamu mau aku bahkan bisa menugaskan sepuluh orang sekaligus untuk menjagamu. " Jawaban enteng Hega malah membuat manik mata Moza membola dengan mulut setengah terbuka.
" Asal kamu tahu ya, Yang. Kemampuan Gara itu sebanding dengan 5 atau bahkan mungkin 10 orang pengawal biasa. " Imbuhnya memperjelas kebingungan sang istri.
Moza melotot tak percaya kemudian meratakan bibirnya, tidak nyaman diperlakukan bak orang penting. " Tapi aku bukan presiden ataupun putri kerajaan yang harus dijaga oleh pengawal, Kak. "
" Tapi kamu istri Hega Saint yang berharga. "
" Ishhh. "
" Tidak ada bantahan, setuju atau tidak, keputusan di tangan kamu. "
" Huffft, baiklah. Terserah kakak. "
Tidak ada kata yang lebih pantas selain penyesalan yang kini dirasakan Hega.
Suryatama dan Arya Tama hanya bisa menghela nafas berat melihat Hega yang begitu kacau dan frustrasi.
Brak
Suara pintu yang terbuka kasar memecah keheningan yang terjadi di ruangan itu.
" Hega, Hega sayang. . . " Wanita yang barusaja masuk tanpa mengetuk pintu itu langsung berhambur mendekati Hega.
" Sayang, apa yang terjadi ? Bagaimana ini bisa terjadi, nak ? "
" Momo, mih, Momo. "
" Sayang. Tenangkan dirimu, nak. Ayo, kita ke dalam. " Rasti menggiring Hega menuju sisi lain ruangan.
Spot yang biasanya digunakan Hega untuk bersantai dan makan siang bersama dengan sang istri.
" Moza pasti baik-baik saja dan akan segera ditemukan, nak. " Rasti menarik kepala putranya dalam pelukannya.
" Ini salah Hega, mih. Hega teledor, Hega--." Tepukan di punggungnya justru membuat Hega semakin tergugu, pria itu menangis di pundak ibu sambungnya.
" Ssshhh. . . Tidak, nak. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Tenangkan dirimu, istrimu pasti segera kembali. "
Disela Rasti yang tengah menenangkan putra sambungnya, Suryatama barusaja mendapat laporan dari Benyamin.
" Arya, sudah kau hubungi orangtua Moza ? Siapa tahu---. "
Arya menoleh dan menggeleng singkat. " Moza tidak ada disana, dan tidak ada tanda-tanda Moza ke rumah orang tuanya. Jadi kemungkinan besar memang Moza diculik. "
" Ya, itu kemungkinan yang paling masuk akal sekaligus kemungkinan terburuk. Lagipula jika Moza akan menemui ayah bunda nya. Pasti Moza akan ijin dulu. "
Arya Tama mengangguk setuju dengan ucapan sang ayah.
" Kita tunggu saja kabar dari team pencari. " Suryatama melangkah ke tempat dimana Rasti tengah menenangkan Hega.
" Dan kau !!! Apa kau berencana untuk terus larut dalam rasa frustasimu itu dan duduk diam disini tanpa melakukan apapun, hah ?! "
" Pih. " Lirih Rasti.
" Biarkan Papi bicara, Rasti. Agar putramu itu sadar kalau apa yang dia lakukan saat ini tidak akan membuatnya menemukan istrinya. "
" Kuatkan hatimu ! Kau harus kuat layaknya keturunan Saint sejati. Jika kau hancur seperti ini, lalu pada siapa istrimu berharap, hah ? Jika suaminya sendiri bahkan hanya sibuk menyesali dan menyalahkan diri sendiri. "
Teriakan kakeknya terasa menyobek hati Hega menjadi berkeping-keping.
" Sadarlah ! Bukan saatnya kamu menangis karena hilangnya Moza. Tapi ini adalah saat dimana kamu harus menunjukkan tanggung jawabmu sebagai suaminya. "
" Katakanlah kau teledor, hingga Moza menghilang dari pengawasan dan penjagaanmu. Maka tebuslah kesalahanmu itu dengan berusaha mencarinya. Dan bukan menangisinya ! "
Nasihat Suryatama langsung menancap di relung hati Hega. Sekaligus mengembalikan kesadaran Hega, membuat logika dan nalarnya kembali bekerja.
Hega langsung menghempaskan punggungnya di sandaran sofa, menengadahkan wajahnya ke atas. Memejamkan matanya erat, menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Mengisi energinya dan mengembalikan kewarasannya yang sempat hilang untuk beberapa saat karena rasa cemas, gelisah, penyesalan dan juga rasa bersalah.
Yah, untuk sesaat logika Hega dikalahkan oleh hatinya. Tapi ini tidak boleh berlangsung lama.
Dimanapun istrinya berada saat ini, gadis itu pasti membutuhkannya dan berharap agar suaminya bisa segera menemukannya.
" Kek, Hega butuh orang-orang terbaik. "
Pria yang berdiri dengan memegang tongkatnya itu mengangguk. " Lakukan apapun agar cucu menantuku kembali. "
***